Google Investasi Rp265 Triliun di Finlandia, Amankan 50 Persen Listrik PLTN untuk AI
KLIKWARTAKU — Perlombaan membangun infrastruktur kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah peta energi Eropa. Google memilih Finlandia sebagai salah satu pangkalan utama ekspansi tersebut dengan investasi hingga €13 miliar atau sekitar Rp265 triliun.
Nilai investasi itu disebut sebagai yang terbesar yang pernah dilakukan Google dalam satu proyek di Eropa. Bukan hanya membangun pusat data, raksasa teknologi Amerika Serikat itu juga mengamankan sumber listrik untuk menjalankan mesin-mesin komputasi yang membutuhkan energi sangat besar.
Google menandatangani kontrak selama 22 tahun dengan perusahaan energi Finlandia, Fortum, untuk membeli hingga 50 persen produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN Loviisa.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa persaingan AI tidak lagi sekadar soal siapa yang memiliki chip paling canggih atau model bahasa terbesar. Perusahaan teknologi kini juga berlomba menguasai listrik. Google mengatakan paket investasi tersebut akan digunakan untuk membangun tiga pusat data baru di Kajaani, Muhos, dan Vaala.
Perusahaan juga akan memperluas pusat data yang telah beroperasi di Hamina. Fasilitas Hamina memiliki sejarah yang menarik. Google mengubah bekas pabrik kertas menjadi pusat data pada 2009. Ekspansi tersebut akan menopang berbagai layanan Google, termasuk chatbot AI Gemini, mesin pencarian, Maps, dan YouTube.
Pembangunan fasilitas baru dijadwalkan berlangsung pada 2027 dan 2028. Google memperkirakan investasi tersebut akan mendukung lebih dari 37.000 lapangan kerja selama masa konstruksi. Perusahaan juga memperkirakan proyek itu dapat meningkatkan produk domestik bruto Finlandia sekitar €3,6 miliar atau Rp73,3 triliun per tahun.
“Ini adalah investasi tunggal terbesar Google di Eropa dan menjadi bukti kepemimpinan Finlandia dalam membangun infrastruktur AI secara bertanggung jawab,” kata Google.
Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo menyambut keputusan tersebut sebagai pengakuan terhadap kekuatan negaranya. “Keputusan Google merupakan bukti nyata atas kekuatan kami,” ujar Orpo.
Mengapa Finlandia? Finlandia memiliki sejumlah keunggulan yang semakin penting ketika kebutuhan energi pusat data melonjak. Negara Nordik itu memiliki iklim yang dingin, pasokan listrik rendah karbon dan jaringan listrik yang relatif belum terlalu padat.
Suhu dingin menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan teknologi. Pusat data dipenuhi ribuan bahkan jutaan perangkat komputasi yang menghasilkan panas. Semakin dingin lingkungan, semakin kecil energi yang dibutuhkan untuk sistem pendinginan. Bagi industri AI, efisiensi tersebut sangat penting.
Model AI generatif membutuhkan pusat komputasi dalam skala besar. Setiap permintaan pengguna dapat memerlukan proses komputasi di pusat data. Ketika jumlah pengguna meningkat, kebutuhan listrik ikut melonjak. Karena itu, perusahaan teknologi mulai mencari kombinasi yang sulit didapatkan di banyak negara: listrik dalam jumlah besar, stabil, relatif murah, dan rendah emisi.
Finlandia menawarkan kombinasi tersebut. Kontrak Google dengan Fortum memperlihatkan betapa pentingnya sumber listrik dalam ekspansi AI. Google akan membeli hingga setengah produksi listrik PLTN Loviisa selama 22 tahun. Pembangkit tersebut saat ini menghasilkan sekitar 10 persen kebutuhan listrik Finlandia.
Bagi Fortum, kesepakatan jangka panjang memberikan kepastian finansial untuk program investasi di Loviisa. Fortum mengatakan komitmen Google akan mendukung program untuk memperpanjang masa operasi pembangkit sekaligus meningkatkan kapasitas pembangkitan listriknya.
Dengan demikian, investasi AI Google tidak hanya membangun pusat data. Perusahaan juga ikut mengunci sumber energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fasilitas tersebut dalam jangka panjang. Ini menjadi gambaran baru ekonomi digital: pusat data dan pembangkit listrik semakin sulit dipisahkan.
Google bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melihat Finlandia sebagai lokasi strategis. Awal pekan ini, TikTok mengumumkan investasi US$1 miliar atau sekitar Rp17,5 triliun untuk membangun pusat data baru di Kouvola.
TikTok menyebut infrastruktur digital Finlandia, bauran energi bersih, tata kelola data dan tenaga teknologi yang terampil sebagai alasan pemilihan negara tersebut. Dua keputusan investasi dalam waktu berdekatan memperlihatkan semakin besarnya daya tarik Finlandia sebagai lokasi pusat data Eropa. Persaingan tersebut juga mencerminkan perubahan kebutuhan industri teknologi.
Jika pada masa lalu perusahaan digital mencari lokasi dengan tenaga kerja murah dan pasar konsumen besar, era AI membuat pertimbangannya bergeser. Ketersediaan listrik dan kemampuan jaringan energi kini menjadi faktor strategis.
Induk Google, Alphabet, sebelumnya telah menaikkan rencana belanja globalnya hingga US$205 miliar atau sekitar Rp3.594 triliun untuk memperbesar kapasitas komputasi bagi layanan AI. Angka tersebut menggambarkan besarnya taruhan perusahaan teknologi terhadap AI.
Namun ekspansi komputasi memiliki konsekuensi fisik. Server membutuhkan listrik. Server juga membutuhkan sistem pendingin. Pusat data membutuhkan jaringan listrik yang stabil dan infrastruktur transmisi yang memadai. Karena itu, Google mulai menggabungkan ekspansi digital dengan investasi energi.
Ruth Porat, Presiden sekaligus Chief Investment and Investment Officer Alphabet dan Google, mengatakan perusahaan ingin memperluas kehadirannya di Finlandia dengan memperhatikan dampak jangka panjang. “Investasi ini menegaskan komitmen Google untuk memperluas kehadiran kami secara bertanggung jawab,” kata Porat.
Google menyebut investasinya juga mencakup proyek energi bersih serta dana khusus untuk alam dan masyarakat. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung keanekaragaman hayati lokal, pendidikan, penelitian dan pengembangan tenaga kerja. Bagi pemerintah Finlandia, investasi Google bukan sekadar pembangunan beberapa gedung pusat data.
Orpo menilai nilai ekonomi dari industri data jauh lebih luas daripada investasi langsung. Keberadaan perusahaan teknologi global diharapkan mendorong penelitian, inovasi dan pengembangan teknologi domestik. “Nilai ekonomi data jauh melampaui investasi langsung karena mendorong inovasi, penelitian dan pengembangan,” ujar Orpo.
Finlandia kini berada di tengah perubahan besar industri teknologi global. Ketika perusahaan seperti Google dan TikTok membutuhkan semakin banyak listrik untuk menjalankan AI, negara-negara yang memiliki energi stabil, jaringan listrik kuat dan lingkungan yang mendukung pusat data berpeluang menjadi pemenang baru.
Finlandia tampaknya sedang mengambil posisi itu. Di tengah perlombaan AI global, Google tidak hanya membeli ruang untuk menaruh server. Perusahaan itu juga mulai mengamankan listrik yang akan membuat server-server tersebut terus menyala.***












