klikwartaku.com
Beranda Internasional Merz Tantang AfD di Bundestag, Kemenangan 44 Persen Picu Krisis Politik Jerman

Merz Tantang AfD di Bundestag, Kemenangan 44 Persen Picu Krisis Politik Jerman

Kanselir Friedrich Merz terlibat debat panas dengan pemimpin AfD Alice Weidel setelah partai kanan jauh itu menang hampir 44 persen di Saxony-Anhalt. Foto: Tangkapan layar YouTube Global News

KLIKWARTAKU — Kemenangan telak partai kanan jauh Alternative für Deutschland (AfD) di negara bagian Saxony-Anhalt berubah menjadi pertarungan verbal di Bundestag. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan pemimpin AfD Alice Weidel saling serang dalam sidang parlemen yang berlangsung panas.

Merz menyebut AfD sebagai “kekuatan destruktif” bagi Jerman. Ia juga menuding agenda remigration partai tersebut berpotensi menyingkirkan jutaan orang dari kehidupan ekonomi Jerman.

Pernyataan paling keras Merz ditujukan pada kebijakan migrasi AfD yang menurutnya dapat berdampak pada pekerja terampil berdasarkan warna kulit dan asal-usul. “Jika kebijakan itu diterapkan, maka itu tidak lain adalah sinonim dari pembersihan etnis,” kata Merz dalam perdebatan di Bundestag.

Konfrontasi tersebut berlangsung hanya beberapa waktu setelah AfD mencatat kemenangan besar dalam pemilu negara bagian Saxony-Anhalt. AfD meraih hampir 44 persen suara, sementara partai konservatif CDU yang dipimpin Merz hanya memperoleh sekitar 17,2 persen. Perolehan CDU itu kira-kira setengah dari hasil sebelumnya.

Hasil tersebut mengguncang peta politik Jerman. Merz mengakui kemenangan AfD sebagai hasil yang “seismik” dan mengubah lanskap politik negaranya. Namun, kemenangan itu belum otomatis membuat AfD dapat membentuk pemerintahan. Partai tersebut masih kekurangan tiga kursi untuk memperoleh mayoritas mutlak di parlemen negara bagian.

Persoalannya, tidak ada partai kanan jauh yang berhasil mengambil alih pemerintahan di salah satu dari 16 negara bagian Jerman sejak Perang Dunia II. Alice Weidel memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerang balik pemerintah.

Sebagai pemimpin oposisi utama di Bundestag, Weidel mengatakan hasil pemilu Saxony-Anhalt menunjukkan bahwa koalisi Merz dengan Partai Sosial Demokrat (SPD) telah gagal total. Ia menyebut CDU telah “dihancurkan” oleh pemilih. Menurut Weidel, pemerintahan Merz bersama SPD juga membawa Jerman menuju kebangkrutan. Merz menolak tudingan tersebut.

Ia mengingatkan bahwa AfD sendiri tidak memperoleh mayoritas mutlak di Saxony-Anhalt dan tidak akan mendapatkannya di tingkat nasional hanya dengan mengandalkan kemenangan elektoral semacam itu. “Kalian adalah dan akan tetap menjadi kekuatan destruktif,” ujar Merz. Ia juga menuduh AfD merugikan kepentingan Jerman karena sikapnya yang mendukung Rusia.

Migrasi menjadi pusat pertengkaran kedua kubu. AfD di Saxony-Anhalt telah dikategorikan sebagai kelompok ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen domestik Jerman. Partai tersebut mengusung agenda “deportasi dan remigrasi” untuk menargetkan migran yang berada di Jerman secara tidak teratur.

Merz mengatakan pemerintah memang memahami bahwa sebagian orang harus dideportasi. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah membedakan antara mereka yang tidak memiliki hak tinggal permanen dan para migran yang berkontribusi terhadap perekonomian. Ia mengingatkan bahwa sekitar satu dari enam pekerja terampil di Jerman memiliki latar belakang migrasi.

Menurut Merz, apabila agenda AfD diterapkan secara luas, sektor-sektor penting Jerman akan terkena dampaknya. Ia menyebut panti jompo, rumah sakit, hingga restoran berpotensi kesulitan beroperasi tanpa tenaga kerja dengan latar belakang migrasi.

Weidel sebaliknya mengaitkan migrasi massal dengan meningkatnya kekerasan sehari-hari, termasuk serangan menggunakan pisau serta insiden di kereta dan stasiun. Panasnya perdebatan membuat suasana Bundestag nyaris seperti arena pertandingan.

Anggota parlemen AfD beberapa kali meneriaki Merz ketika sang kanselir berbicara. Presiden Bundestag Julia Klöckner bahkan mengancam mengeluarkan anggota parlemen yang terus mengganggu jalannya sidang. “Kita bukan berada di lapangan sepak bola,” kata Klöckner.

Keributan tersebut memperlihatkan betapa tajamnya polarisasi politik Jerman setelah keberhasilan AfD di Saxony-Anhalt. Kemenangan AfD juga mendapat sambutan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menyebut “partai populis” Jerman baru saja melewati malam yang sangat besar. Ia mengaitkan kemenangan tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai aturan dan regulasi imigrasi Jerman yang “sangat buruk”.

Dukungan Trump menambah dimensi internasional pada pertarungan politik Jerman. Di sisi lain, hubungan antara Washington dan Berlin juga menjadi sorotan setelah rencana percakapan telepon Merz dan Trump ditunda.

Keduanya semula dijadwalkan berbicara pada Rabu untuk memperingati 25 tahun serangan 11 September di Amerika Serikat. Pemerintah Jerman mengatakan pembicaraan tersebut ditunda tanpa menjelaskan alasannya dan belum menetapkan tanggal baru.

Masalah terbesar bagi AfD kini bukan sekadar memenangkan pemilu, melainkan menemukan jalan menuju kekuasaan. Partai tersebut hanya kurang tiga kursi dari mayoritas di Saxony-Anhalt. Karena itu, AfD mulai membuka kemungkinan bekerja sama dengan partai lain.

Salah satu opsi yang disebut adalah BSW, partai populis berhaluan kiri. Namun, syarat politiknya jelas: partai tersebut harus mendukung Ulrich Siegmund sebagai perdana menteri negara bagian. Tekanan juga mulai diarahkan kepada CDU.

Wakil Siegmund di Saxony-Anhalt bahkan membuka kemungkinan CDU bekerja sama dengan AfD jika partai konservatif tersebut bersedia meninggalkan Brandmauer, atau “tembok pembatas” politik yang selama ini melarang partai-partai arus utama bekerja sama dengan kanan jauh.

Di sinilah dilema Merz semakin tajam. Kemenangan AfD telah menunjukkan bahwa partai tersebut mampu menguasai suara pemilih dalam skala besar. Tetapi membuka pintu kerja sama berarti mempertaruhkan salah satu prinsip politik Jerman pascaperang: menjaga partai kanan ekstrem tetap berada di luar pemerintahan.

Pertarungan di Bundestag menunjukkan satu hal: kemenangan AfD di Saxony-Anhalt bukan lagi sekadar hasil pemilu negara bagian. Ia telah berubah menjadi ujian bagi masa depan firewall politik Jerman.***

Bagikan:

Iklan