klikwartaku.com
Beranda Internasional AS Larang Impor Alkohol, Produk Susu dan Motor Kanada, Perang Dagang Memanas

AS Larang Impor Alkohol, Produk Susu dan Motor Kanada, Perang Dagang Memanas

Presiden Donald Trump melarang impor sejumlah produk Kanada, termasuk alkohol, produk susu dan motor, setelah Ottawa memberlakukan tarif balasan terhadap barang AS. Foto: Tangkapan layar YouTube CTV News

KLIKWARTAKU — Perang dagang Amerika Serikat dan Kanada memasuki babak baru. Washington tidak lagi hanya menaikkan tarif, tetapi mulai menutup pintu bagi sejumlah produk Kanada yang masuk ke pasar Amerika.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerbitkan serangkaian perintah eksekutif pada Selasa yang menetapkan larangan impor terhadap sejumlah barang dari Kanada. Produk yang terkena aturan antara lain minuman beralkohol, beberapa produk susu, bir nonalkohol, serta sepeda motor dan moped.

Kebijakan itu dijadwalkan mulai berlaku 29 September 2026, setelah tarif balasan Kanada terhadap produk Amerika Serikat mulai diberlakukan. Washington menuding Kanada melakukan diskriminasi terhadap perusahaan Amerika dengan membatasi sejumlah produk AS, sementara produk serupa dari negara lain tidak mendapatkan perlakuan yang sama.

Langkah terbaru ini memperpanjang konflik perdagangan yang telah berlangsung berbulan-bulan antara dua negara yang secara ekonomi sangat terikat. Dampak langsung larangan impor sebenarnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan perdagangan Kanada-Amerika Serikat.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dihimpun Trading Economics menunjukkan pada 2025 ekspor minuman beralkohol Kanada ke Amerika Serikat mencapai US$687 juta atau sekitar Rp11,27 triliun. Ekspor produk susu mencapai US$269 juta atau sekitar Rp4,41 triliun, sedangkan ekspor sepeda motor sekitar US$90 juta atau Rp1,48 triliun.

Jika digabungkan, ketiga kelompok produk tersebut bernilai sekitar US$1,05 miliar atau Rp17,22 triliun. Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara Capital Economics, memperkirakan barang yang terkena larangan hanya mencakup sekitar 0,25 persen dari total ekspor Kanada ke Amerika Serikat.

Namun kecilnya porsi tersebut tidak berarti dampaknya sepele. Menurut Brown, keputusan Washington menunjukkan kebijakan terbaru lebih ditujukan untuk memberikan tekanan ekonomi ketimbang sekadar meningkatkan penerimaan negara. Daftar barang Kanada yang dilarang masuk ke Amerika Serikat mencakup sejumlah produk yang memiliki pasar konsumen cukup spesifik.

Beberapa di antaranya: produk susu tertentu termasuk whey, Molase tebu, Bir nonalcohol, Sejumlah produk wine, rum dan vodka, Bir berbahan malt, Sepeda motor, termasuk moped. Sementara itu, sejumlah produk lain tidak dilarang sepenuhnya tetapi dikenai tarif impor lebih tinggi.

Barang-barang tersebut mencakup berbagai jenis keju, kulit mentah, kertas, sebagian produk furnitur dan kasur, sejumlah logam seperti aluminium dan besi, motorboat, kereta golf, komponen dan aksesori alat pancing, serta switchboard.

Dengan demikian, dampaknya tidak hanya terasa di sektor makanan dan minuman. Industri manufaktur Kanada juga ikut masuk dalam pusaran kebijakan proteksionisme Washington. Kebijakan Trump merupakan respons terhadap keputusan Kanada memberlakukan tarif balasan terhadap barang-barang Amerika.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya mengatakan pemerintahnya menerapkan kebijakan tarif “dolar demi dolar”. Tarif tersebut menyasar berbagai produk Amerika, termasuk baja, pakaian dan furnitur. Carney mengakui langkah untuk mengurangi ketergantungan Kanada terhadap Amerika Serikat sebagai mitra dagang terbesar tidak akan tanpa biaya.

Namun menurut dia, membiarkan kondisi berjalan tanpa respons justru akan lebih mahal. “Selalu ada biaya untuk bertindak. Tetapi biayanya tidak sebanding dengan biaya untuk diam,” kata Carney. Menteri Perdagangan Kanada Dominic LeBlanc menyebut kebijakan terbaru Amerika Serikat tidak beralasan.

Ia mengatakan pemerintah Kanada akan berupaya melindungi pekerja, keluarga dan dunia usaha sambil mencari jalan untuk meredakan ketegangan. Persoalan terbesar dalam perang dagang ini adalah tingkat integrasi ekonomi Amerika Serikat dan Kanada. Lebih dari dua pertiga total ekspor Kanada secara umum dikirim ke Amerika Serikat.

Kanada merupakan mitra dagang terbesar kedua Amerika setelah Meksiko. Namun struktur ekspor Kanada juga lebih bergantung pada pasar Amerika dibandingkan ketergantungan Amerika terhadap Kanada. Hubungan bisnis yang telah terbentuk selama puluhan tahun membuat pemisahan ekonomi tidak mudah dilakukan.

Pelaku usaha di kedua sisi perbatasan telah memperingatkan risiko perang dagang. Harga barang dapat meningkat, sementara jumlah konsumen berpotensi menurun. Pada bulan sebelumnya, Washington bahkan mengenakan tarif 50 persen terhadap sekitar US$20 miliar atau Rp328 triliun barang Kanada.

Tarif tersebut menghantam sejumlah sektor, termasuk furnitur, wine, perlengkapan olahraga dan peralatan memancing. Sektor susu menjadi salah satu bagian paling sensitif dalam konflik ini. Trump sebelumnya mengkritik sistem perdagangan produk susu Kanada yang menerapkan kuota produksi, mekanisme harga dan pembatasan impor untuk produk susu, telur dan unggas.

Washington menilai sistem tersebut merugikan peternak Amerika. Scott French, dosen ekonomi dari University of New South Wales, Australia, mengatakan kebijakan baru Trump menyasar sektor-sektor penting Kanada, termasuk industri susu yang memiliki pengaruh politik kuat.

Menurut dia, larangan impor dan tarif baru justru dapat membuat pemerintah Kanada semakin sulit memberikan konsesi kepada Washington. Kedua negara, kata dia, akan menanggung biaya karena perekonomian Amerika Utara sudah terintegrasi sangat dalam. Konsumen akhirnya berpotensi menjadi pihak yang paling dirugikan.

Ketegangan bahkan mulai bergerak melampaui isu tarif. Pada Senin, Trump memperingatkan perusahaan pesawat Kanada, Bombardier, bahwa produk mereka tidak akan lagi dapat dijual di Amerika Serikat jika perusahaan tersebut tidak memindahkan produksi ke wilayah Amerika.

Ancaman itu menunjukkan bahwa Washington dapat menggunakan akses pasar sebagai alat untuk mendorong perusahaan asing memindahkan kegiatan manufaktur ke Amerika. Kebijakan tersebut sejalan dengan keyakinan Trump bahwa tarif dapat digunakan untuk mengurangi ketimpangan perdagangan Amerika dengan negara lain.

Namun pendekatan itu juga telah memicu ketegangan dengan sejumlah sekutu tradisional Amerika. Dampak perang dagang tidak hanya datang dari pemerintah. Sebagian konsumen Kanada telah melakukan boikot terhadap produk Amerika, termasuk minuman beralkohol.

Sejumlah toko bahkan dilaporkan mulai kehilangan produk alkohol Amerika dari rak penjualan setelah kampanye tarif Trump terhadap berbagai negara dimulai. Deborah Elms dari Hinrich Foundation menilai larangan impor dapat memberikan dampak kuat terhadap perusahaan Kanada yang bergantung pada pembeli Amerika.

Perkiraan awal menunjukkan nilai barang yang terdampak memang relatif kecil, sekitar US$1 miliar atau Rp16,4 triliun. Namun persoalan utamanya adalah ketidakpastian. Selama perusahaan tidak mengetahui produk apa yang akan terkena tarif berikutnya, mereka akan kesulitan menentukan investasi, harga dan rantai pasokan.

Ironisnya, Washington dan Ottawa sama-sama mengatakan masih menginginkan kesepakatan perdagangan. Namun pembicaraan baru belum dijadwalkan sejak negosiasi terakhir runtuh pada akhir Agustus. Dominic LeBlanc mengatakan telah menghubungi mitranya di Amerika Serikat dan berjanji bekerja dengan itikad baik untuk menyelesaikan ketegangan.

Elms menilai Kanada kemungkinan akan mempertahankan strateginya untuk sementara sembari menyesuaikan dukungan pemerintah bagi dunia usaha. Pertanyaan yang lebih besar adalah kapan kedua negara kembali duduk di meja perundingan.

Bahasa keras dalam keputusan terbaru Washington justru berpotensi membuat jalan menuju kompromi semakin sulit. Bagi dua negara yang ekonominya saling terhubung selama puluhan tahun, perang dagang ini bukan sekadar pertarungan tarif.

Ketika alkohol, keju, motor, furnitur hingga pesawat mulai menjadi alat tawar-menawar politik, batas antara kebijakan perdagangan dan tekanan geopolitik semakin tipis. Dan semakin lama perang dagang berlangsung, semakin besar kemungkinan konsumen Amerika dan Kanada yang akhirnya membayar tagihannya.***

Bagikan:

Iklan