klikwartaku.com
Beranda Internasional Cerai Taipan Game Korea Selatan Berujung Rekor Rp30,7 Triliun, 35 Persen Smilegate Jadi Milik Mantan Istri

Cerai Taipan Game Korea Selatan Berujung Rekor Rp30,7 Triliun, 35 Persen Smilegate Jadi Milik Mantan Istri

Pengadilan Korea Selatan memerintahkan taipan game Kwon Hyuk-bin menyerahkan aset Rp30,7 triliun kepada mantan istrinya, Lee Hwa-jin. Foto: Tangkapan layar YouTube Behind the Empire

KLIKWARTAKU — Perceraian seorang taipan industri gim Korea Selatan berakhir dengan perubahan besar pada kepemilikan salah satu perusahaan gim terbesar di negara itu. Pengadilan memerintahkan Kwon Hyuk-bin, pendiri Smilegate, menyerahkan aset senilai 2,55 triliun won atau sekitar Rp30,6 triliun kepada mantan istrinya, Lee Hwa-jin.

Putusan tersebut menjadi rekor baru perkara pembagian harta perceraian di Korea Selatan. Kwon merupakan salah satu orang terkaya di Korea Selatan. Perusahaan yang ia dirikan, Smilegate, dikenal lewat sejumlah gim populer, termasuk CrossFire dan Lost Ark.

Sebelum putusan tersebut, Smilegate sepenuhnya dimiliki Kwon. Kini, sebagian kepemilikan perusahaan akan berpindah kepada Lee. Pengadilan memutuskan Lee memperoleh 35 persen saham Smilegate yang nilainya diperkirakan sekitar 2,5 triliun won atau Rp30 triliun. Kwon juga diwajibkan membayar tambahan 65 miliar won atau sekitar Rp780 miliar dalam bentuk tunai.

Dengan demikian, nilai keseluruhan penyelesaian mencapai sekitar Rp30,7 triliun. Kwon dan Lee menikah pada 2001, setahun sebelum Kwon mendirikan Smilegate. Ketika perusahaan itu mulai berkembang, Smilegate kemudian menciptakan CrossFire, gim tembak-menembak orang pertama yang menjadi salah satu produk andalannya.

Perusahaan itu juga mengembangkan Lost Ark, gim bergenre action role-playing yang kemudian mendapatkan popularitas internasional. Kwon akhirnya menjadi salah satu miliarder Korea Selatan. Bloomberg sebelumnya memperkirakan kekayaannya sekitar US$3 miliar atau Rp49,2 triliun.

Namun, di balik pertumbuhan perusahaan, Lee mengatakan dirinya memiliki kontribusi terhadap perjalanan bisnis tersebut. Dalam gugatan perceraiannya, Lee meminta hingga 50 persen saham Smilegate.

Pengacaranya berargumen bahwa Lee ikut membantu pembiayaan perusahaan ketika Smilegate didirikan. Ia juga mengatakan selama lebih dari dua dekade dirinya berperan mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka.

Kwon membantah klaim tersebut. Ia berargumen bahwa Lee tidak berinvestasi maupun bekerja untuk perusahaan. Smilegate juga sebelumnya menyatakan seluruh modal awal perusahaan berasal dari Kwon.

Putusan pengadilan mengubah posisi Lee dalam kerajaan bisnis yang dibangun Kwon. Dengan memperoleh 35 persen saham Smilegate, Lee kini menjadi salah satu pemegang saham terbesar perusahaan. Nilai saham tersebut sendiri diperkirakan mencapai sekitar 2,5 triliun won atau Rp30 triliun.

Smilegate memilih tidak masuk terlalu jauh ke dalam persoalan pribadi kedua pihak. “Kami akan terus menjalankan tugas kami seperti biasa,” kata juru bicara Smilegate dalam pernyataan yang dikutip media Korea Selatan.

Juru bicara perusahaan menolak memberikan komentar lebih jauh mengenai urusan pribadi pemegang saham utama. Namun, perkara ini belum sepenuhnya berakhir. Kedua pihak masih memiliki hak untuk mengajukan keberatan atau menantang putusan pengadilan. Besarnya nilai perkara Kwon dan Lee membuat rekor sebelumnya langsung terlampaui.

Sebelum putusan ini, rekor pembagian harta perceraian terbesar Korea Selatan dikaitkan dengan Chey Tae-won, pimpinan SK Group. Chey sebelumnya diperintahkan membayar 944 miliar won atau sekitar Rp11,3 triliun kepada mantan istrinya. Nilai tersebut bahkan sempat dianggap sebagai salah satu putusan perceraian paling mahal di dunia.

Namun, Mahkamah Agung Korea Selatan kemudian membatalkan putusan tersebut setelah menemukan kesalahan perhitungan yang mempengaruhi nilai aset pasangan tersebut. Kasus itu diperintahkan untuk diperiksa kembali.

Putusan terhadap Kwon kini menghasilkan angka yang jauh lebih besar—hampir tiga kali lipat dari nilai 944 miliar won tersebut. Kasus Kwon menunjukkan bagaimana perceraian di kalangan pemilik perusahaan dapat berdampak langsung terhadap struktur kepemilikan korporasi.

Persoalannya bukan hanya pembagian uang tunai. Saham perusahaan yang dibangun sebelum atau selama masa pernikahan dapat menjadi bagian penting dari sengketa aset. Dalam perkara ini, konsekuensinya bahkan menyentuh salah satu perusahaan gim terbesar Korea Selatan.

Lee awalnya menuntut setengah kepemilikan Smilegate. Pengadilan akhirnya memberikan 35 persen saham, ditambah pembayaran tunai. Bagi Kwon, putusan tersebut berarti sebagian kepemilikan perusahaan yang selama bertahun-tahun berada sepenuhnya di tangannya kini harus berpindah.

Bagi Lee, 35 persen saham itu bukan sekadar kompensasi perceraian. Ia kini memperoleh posisi sebagai pemegang saham besar di perusahaan yang pernah dibangun bersama dalam perjalanan hidup mereka. Perceraian tersebut dengan demikian tidak hanya mengakhiri sebuah perkawinan. Ia juga mengubah siapa yang memiliki bagian dari kerajaan gim yang dibangun Kwon Hyuk-bin.***

Bagikan:

Iklan