klikwartaku.com
Beranda Internasional Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Perang Iran-AS Kembali Mengguncang Pasar Energi Dunia

Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Perang Iran-AS Kembali Mengguncang Pasar Energi Dunia

Harga minyak Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli setelah serangan AS terhadap tanker Iran dan serangan Houthi ke fasilitas energi Saudi. Foto: Tangkapan layar YouTube Reuters

KLIKWARTAKU — Perang di Timur Tengah kembali mengirim sinyal keras ke pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel atau sekitar Rp1,64 juta pada Rabu, 9 September 2026, untuk pertama kalinya sejak akhir Juli.

Kenaikan itu terjadi setelah serangkaian serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran serta serangan kelompok Houthi yang menargetkan fasilitas energi dan infrastruktur sipil di Arab Saudi.

Brent sempat kembali turun ke sekitar US$99,90 atau Rp1,64 juta per barel. Namun pasar minyak kini bergerak dalam ketegangan tinggi. Setiap serangan baru di kawasan Teluk berpotensi kembali mendorong harga melewati level psikologis US$100.

Bagi konsumen, angka tersebut bukan sekadar statistik perdagangan komoditas. Harga minyak mentah menjadi salah satu penentu biaya bahan bakar, transportasi, logistik dan berbagai produk yang bergantung pada energi.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat menyerang lima tanker minyak Iran. Serangan tersebut merupakan respons Washington setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik terhadap sebuah kapal perang Amerika Serikat. Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan kapal perang itu berhasil menghindari serangan dan tidak ada tentara Amerika yang terluka.

Lima tanker yang menjadi sasaran serangan AS terdiri atas empat kapal di kawasan Teluk Oman yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC serta satu kapal lain di sekitar Pulau Kharg. Salah satu kapal, M/T Riesco, kemudian tenggelam di Teluk Oman. Centcom merilis video yang memperlihatkan kondisi kapal setelah terkena serangan.

Washington menyatakan tanker-tanker tersebut merupakan bagian dari jaringan perdagangan minyak yang disebut sebagai jaringan bayangan bernilai miliaran dolar untuk membiayai IRGC dan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Sebagian besar rudal dilaporkan berhasil ditembak jatuh. Teheran juga mengklaim menyerang dua kapal Amerika Serikat dan delapan tanker minyak di Selat Hormuz.

Di balik lonjakan harga minyak terdapat satu jalur laut yang terus menjadi perhatian pasar: Selat Hormuz. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sejak perang pecah, aktivitas pelayaran melalui kawasan tersebut terganggu berat. Kondisi ini secara efektif mempersempit salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Sebelum konflik meningkat, harga Brent masih berada di sekitar US$70 atau sekitar Rp1,15 juta per barel.

Artinya, dibandingkan harga sebelum perang, minyak kini telah meningkat sekitar US$30 per barel atau hampir Rp492 ribu. Kenaikan itu menunjukkan seberapa cepat risiko geopolitik diterjemahkan pasar menjadi biaya energi. Tekanan terhadap pasar minyak tidak hanya datang dari perang langsung Amerika Serikat dan Iran.

Kelompok Houthi yang didukung Iran juga meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Pada Selasa, Houthi melancarkan serangan drone dan rudal yang menyasar fasilitas energi serta infrastruktur sipil di sejumlah kota Saudi, termasuk Abha, Khamis Mushait, Jazan dan Najran.

Otoritas Saudi menyebut 73 orang terluka akibat serangan tersebut. Serangan itu juga memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak dan energi. Operasional beberapa fasilitas sempat dihentikan sementara, menurut militer dan kementerian energi Arab Saudi. Eskalasi tersebut terjadi setelah gencatan senjata informal antara Houthi dan Arab Saudi yang berlangsung sejak Juli kembali runtuh.

Pada Senin, Houthi menuduh Arab Saudi membombardir sebuah penjara di al-Hazm dan menewaskan 11 orang. Rentetan serangan tersebut memperluas risiko terhadap fasilitas energi di kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.

Salah satu sasaran serangan terbaru Amerika Serikat juga memiliki arti strategis bagi Iran. Pulau Kharg merupakan lokasi terminal ekspor minyak utama Iran. Sekitar 90 persen minyak mentah Iran disebut melewati pulau tersebut sebelum dikirim ke pasar internasional. Minyak dari daratan Iran dialirkan melalui jaringan pipa menuju terminal di kawasan Teluk itu.

Karena itu, gangguan terhadap Pulau Kharg bukan sekadar serangan terhadap satu fasilitas. Kerusakan berkepanjangan dapat mengganggu kemampuan Iran mengekspor minyak sekaligus memperketat pasokan di pasar global. Investor pun harus menghitung risiko baru: bukan hanya berapa banyak minyak yang hilang dari pasar, tetapi juga seberapa lama gangguan berlangsung.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menggambarkan strategi Washington secara lugas. Menurut dia, selama Iran terus berusaha menyerang kapal perang Amerika, Washington akan merespons dengan menargetkan tanker minyak Iran. Pernyataan tersebut menandakan bahwa serangan terhadap aset energi dapat menjadi bagian dari pola aksi balasan yang lebih panjang.

Jika pola tersebut berlanjut, pasar menghadapi risiko baru: semakin banyak kapal dan fasilitas energi yang masuk ke dalam arena konflik. Ketidakpastian itulah yang membuat harga minyak mudah bergerak tajam. Ketegangan juga meningkat setelah Angkatan Laut Iran mengklaim telah menyita sebuah kapal selam nirawak milik Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Namun Centcom mengatakan perangkat tersebut sebenarnya merupakan drone bawah laut Amerika yang mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelumnya. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Centcom, mengatakan drone tersebut digunakan untuk memantau perairan regional guna mendukung operasi yang sedang berlangsung.

Menurut Washington, perangkat itu merupakan model lama dan tidak mengumpulkan data sensitif serta tidak membawa perangkat sonar atau radar rahasia. Meski demikian, insiden tersebut memperlihatkan betapa padat dan rentannya kawasan perairan Teluk saat ini.

Pasar minyak kini menghadapi kombinasi risiko yang sulit diabaikan: serangan terhadap tanker, gangguan fasilitas energi, ketegangan di Selat Hormuz dan meningkatnya konflik antara kekuatan militer besar dengan kelompok bersenjata regional.

Harga Brent memang sempat turun kembali di bawah US$100 per barel. Tetapi pasar tidak membutuhkan gangguan besar untuk kembali mendorong harga ke atas level tersebut. Bagi negara-negara importir minyak, kenaikan harga crude berpotensi merembet ke harga bahan bakar di stasiun pengisian, ongkos transportasi hingga biaya produksi.

Perusahaan pelayaran dan asuransi juga dapat menghadapi kenaikan biaya ketika risiko melewati kawasan konflik meningkat. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada kenaikan harga minyak sesaat.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari enam bulan sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak saat itu, harga minyak bergerak liar mengikuti perkembangan di medan konflik. Kini, ketika Brent kembali menyentuh US$100 per barel, pasar seolah mengingatkan bahwa perang di Timur Tengah bukan hanya persoalan militer.

Setiap tanker yang terbakar, setiap fasilitas minyak yang berhenti beroperasi dan setiap kapal yang terancam di Selat Hormuz dapat berubah menjadi angka baru di pasar energi dunia. Dan jika eskalasi berlanjut, US$100 per barel bisa jadi bukan lagi batas atas, melainkan titik awal dari babak baru gejolak harga minyak.***

Bagikan:

Iklan