klikwartaku.com
Beranda Internasional Kapal Feri Terbakar Menjelang Tiba di Coron Filipina, 5 Tewas dan 86 Orang Hilang

Kapal Feri Terbakar Menjelang Tiba di Coron Filipina, 5 Tewas dan 86 Orang Hilang

Kapal feri MV June Aster terbakar menjelang tiba di Coron, Filipina. Lima orang tewas, 86 hilang dan 43 penumpang berhasil diselamatkan. Foto: Tangkapan layar YouTube 9 News Australia

KLIKWARTAKU — Kepanikan terjadi di laut Filipina ketika kapal feri MV June Aster terbakar menjelang tiba di Coron, salah satu destinasi wisata populer negara itu. Sedikitnya lima orang tewas dan 86 orang masih dinyatakan hilang.

Kapal tersebut berangkat dari Manila dengan membawa 117 penumpang dan 17 awak. Api mulai berkobar sekitar pukul 18.45 waktu setempat pada Rabu ketika kapal hanya berjarak sekitar satu jam dari tujuan. Penjaga Pantai Filipina atau Philippine Coast Guard mengatakan kobaran api masih belum sepenuhnya padam hingga Kamis pukul 11.00 waktu setempat.

Arus laut yang kuat dan kepulan asap tebal menyulitkan upaya petugas memadamkan api sekaligus mencari korban. Video yang dibagikan Penjaga Pantai memperlihatkan MV June Aster dilalap api. Sejumlah penumpang terlihat ditarik dari laut menuju perahu penyelamat.

Roland Lerma termasuk penumpang yang berhasil selamat. Ia mengatakan harus mengapung di laut selama sekitar dua jam sebelum akhirnya ditemukan tim penyelamat. “Dingin. Jika penyelamatan terlambat, saya pasti sudah meninggal,” kata Lerma.

Hingga laporan terakhir, 43 orang telah diselamatkan. Namun belum diketahui secara pasti berapa banyak korban selamat yang mengalami luka-luka. Tujuh orang kemudian dibawa ke rumah sakit di Pulau Culion. Fasilitas kesehatan di pulau tersebut memiliki kapasitas tempat tidur dan layanan medis yang lebih besar dibandingkan wilayah sekitar lokasi kejadian.

Para korban selamat lainnya dibawa ke pusat evakuasi di Barangay Turda, di sebelah utara Marcilla. Seorang petugas tanggap pertama mengatakan kepada BBC bahwa kejadian tersebut merupakan salah satu bencana terburuk yang pernah dilihatnya di Coron. “Ini benar-benar memilukan,” ujarnya.

Petugas tersebut mengatakan dirinya ikut membawa korban ke rumah sakit pada malam kejadian. Penyebab kebakaran masih diselidiki. Namun, wawancara awal dengan sejumlah korban selamat mengindikasikan api kemungkinan bermula dari ruang kargo, tempat kontainer dan berbagai barang disimpan.

Penjaga Pantai juga menemukan persoalan lain dalam proses evakuasi. Sebagian penumpang disebut tidak mengenakan jaket pelampung ketika kapal terbakar. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko korban ketika penumpang harus meninggalkan kapal dan terjun ke laut dalam situasi darurat.

Di antara puluhan orang yang belum ditemukan terdapat keluarga yang sedang melakukan perjalanan pulang. Rai Garcia mengatakan tiga teman keluarganya berada di antara penumpang yang hilang.

Mae Lorraine Galera-Navoa bepergian ke Luzon untuk menghadiri pemakaman ayahnya. Ia kemudian melakukan perjalanan pulang bersama suaminya, Elyzer Navoa, dan putri mereka yang baru berusia tiga tahun, Hiraya Joy.

Mereka berada di atas MV June Aster dalam perjalanan menuju El Nido, Palawan, ketika kapal terbakar. “Kami belum menerima kabar apa pun. Itu sebabnya kami harus berkomentar di berbagai unggahan berita lokal untuk mendapatkan informasi,” kata Garcia.

Keluarga Garcia kemudian membuat poster untuk mencari informasi mengenai keberadaan keluarga tersebut. Foto yang digunakan berasal dari gambar yang diambil Mae di atas kapal dan dibagikan kepada kerabat dekat.

Sejumlah keluarga korban lainnya juga memenuhi laman media sosial Penjaga Pantai Filipina dengan permintaan informasi mengenai orang-orang yang belum ditemukan. “Please can you find my sibling,” tulis salah satu pengguna.

Kecelakaan laut bukan perkara baru di Filipina. Negara kepulauan dengan ribuan pulau itu sangat bergantung pada kapal feri untuk menghubungkan wilayah yang tidak selalu memiliki akses penerbangan. Feri antarpulau menjadi pilihan transportasi yang relatif terjangkau untuk mengangkut penumpang sekaligus barang.

Namun, perjalanan laut di Filipina menghadapi risiko cuaca buruk, hujan monsun, serta topan. Negara tersebut rata-rata dilanda sekitar 20 topan setiap tahun. Sejumlah kecelakaan sebelumnya juga dikaitkan dengan persoalan perawatan kapal dan lemahnya penerapan aturan keselamatan.

Pada 2023, sedikitnya 31 orang tewas setelah kapal penumpang MV Lady Mary Joy 3 terbakar dalam perjalanan dari Zamboanga City menuju Pulau Basilan. Kebakaran MV June Aster kini berpotensi menjadi salah satu kecelakaan feri paling mematikan di Filipina dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan 86 orang masih hilang, operasi pencarian dan penyelamatan menjadi berpacu dengan waktu. Bagi keluarga korban, setiap menit berarti kesempatan untuk mendapat kabar tentang orang-orang yang belum kembali.***

Bagikan:

Iklan