“Orang-Orang Menginjak Saya”: Kesaksian Penyintas Kebakaran Feri Filipina
KLIKWARTAKU — Roland Lerma tak punya banyak pilihan ketika api mulai menjalar di kapal feri MV June Aster. Dalam kepanikan, ia terjatuh. Penumpang lain yang berusaha menyelamatkan diri berdesakan melewatinya. “Ketika saya berada di lantai, orang-orang menginjak saya,” kata Lerma, 30 tahun, kepada BBC dari rumah sakit di Coron.
Ia kemudian merangkak mencari pijakan. Begitu berhasil berdiri, Lerma melompat dari kapal yang terbakar ke laut. Malam itu gelap. Di tengah air, ia melihat sejumlah anak ikut terjun dari kapal. Wajah mereka tak terlihat.
Lerma lalu melakukan satu keputusan yang menurutnya menentukan hidup dan mati. Ia melepaskan seluruh barang yang dikenakannya agar tubuhnya lebih mudah mengapung. “Ketika menyentuh air, saya membuang semua barang—pakaian yang saya kenakan, telepon, tas—agar saya bisa mengapung,” ujarnya.
Selama sekitar dua jam, Lerma mengapung telentang sebelum tim penyelamat datang. “Dingin. Jika penyelamatan terlambat, saya pasti sudah meninggal malam itu,” kata dia.
Lerma merupakan pekerja konstruksi asal Provinsi Leyte. Ia pergi ke Manila bersama lima tetangganya untuk kemudian bekerja di Coron, salah satu tujuan wisata terkenal di Provinsi Palawan. Mereka menaiki MV June Aster untuk perjalanan menuju Coron.
Menurut Philippine Coast Guard, kapal berangkat dari Pelabuhan Baseco di Manila pada Selasa pukul 20.13 waktu setempat. Kapal dijadwalkan tiba di Pelabuhan Coron sekitar pukul 18.00 pada Rabu. Namun, sekitar satu jam sebelum jadwal tiba, perjalanan berubah menjadi tragedi.
MV June Aster terbakar hanya sekitar 1,2 mil laut atau 2,2 kilometer dari pantai Desa Marcilla, Coron. Kebakaran pertama kali dilaporkan pada pukul 18.45 oleh seorang staf Atienza Shipping Lines, perusahaan pemilik kapal. Perusahaan tersebut menyatakan bekerja sama dengan otoritas penyelidikan dan menyampaikan duka mendalam atas insiden itu.
Otoritas Filipina mengatakan seorang penyintas melaporkan adanya ledakan keras sebelum api muncul dari ruang kargo. Kapal diketahui membawa berbagai kendaraan dan barang, termasuk sejumlah sepeda motor, sebuah mobil listrik, forklift, pikap, serta muatan lainnya.
Perjalanan dari Manila menuju Coron memakan waktu lebih dari 20 jam. Karena itu, para penumpang tidur di tempat tidur susun yang tersedia di kapal. Lerma mengatakan dua warga negara Chili, pasangan yang diperkirakan berusia akhir 20-an atau awal 30-an, tidur di tempat tidur di sebelahnya.
Penjaga Pantai Filipina kemudian mengonfirmasi bahwa dua warga Chili termasuk dalam 43 orang yang berhasil diselamatkan. Lerma kini dirawat di rumah sakit Coron bersama dua tetangganya. Seorang anggota rombongan mereka dibawa ke rumah sakit yang lebih besar di Pulau Culion. Dua lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
“Saya mengalami beberapa memar dan dada saya masih sakit,” kata Lerma. “Tadi malam saya kesulitan bernapas. Tapi sekarang saya baik-baik saja.”
Kebakaran MV June Aster menewaskan sedikitnya lima orang. Sebanyak 86 orang masih dinyatakan hilang, sementara 43 lainnya telah diselamatkan. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Namun, petugas menghadapi kondisi sulit karena api belum sepenuhnya padam dan asap masih terlihat dari kapal.
Juru bicara Philippine Coast Guard mengatakan banyak korban selamat masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut. “Banyak dari mereka masih shock,” ujarnya dalam wawancara dengan televisi lokal.
Sementara itu, keluarga penumpang yang belum ditemukan terus menunggu kabar. Anelyn Magbanua adalah salah satu orang yang masih menanti. Suaminya, Marlon, berada di atas MV June Aster dalam perjalanan kembali ke Coron setelah mengunjungi dua anak mereka yang sedang belajar di Manila.
Marlon sempat mengirimkan foto anak-anak mereka kepada Anelyn. “Dia menghabiskan beberapa hari di sana. Dia bahkan mengirimkan foto mereka,” kata Anelyn.
Komunikasi terakhir terjadi ketika kapal melewati sebuah desa yang berjarak sekitar dua jam dari pelabuhan Coron. Malam itu Anelyn dan putranya yang berusia dua tahun tidur lebih awal. Ia mengira suaminya akan segera tiba di rumah. Namun, tidurnya terputus oleh kabar dari seorang kerabat bahwa kapal yang ditumpangi Marlon terbakar.
Pada Kamis pagi, Anelyn bergegas ke rumah sakit setelah mendapat informasi bahwa suaminya mungkin termasuk penumpang yang diselamatkan. Harapan itu belum terwujud. Petugas kemudian mengatakan Marlon masih belum ditemukan.
“Saya dan anak saya yang berusia dua tahun berada di luar rumah sakit saat ini. Kami tidak punya apa-apa selain diri kami sendiri,” kata Anelyn. “Saya tidak bisa menggambarkan apa yang saya rasakan. Sejak tadi malam saya menangis dan berdoa.”
Di laut sekitar Coron, pencarian masih berlangsung. Bagi mereka yang berhasil selamat, seperti Lerma, tragedi itu sudah meninggalkan ingatan tentang malam ketika kapal berubah menjadi lautan api—dan laut menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.***










