klikwartaku.com
Beranda Metropolitan Krimhum Kalbar Catat 134 Hotspot, Asap Masih Pengaruhi Jarak Pandang Pontianak

Kalbar Catat 134 Hotspot, Asap Masih Pengaruhi Jarak Pandang Pontianak

FOTO: Petugas gabungan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah yang terdampak kebakaran. Upaya pemadaman dilakukan untuk mencegah api meluas dan memastikan area yang terbakar benar-benar padam. (Dok. Kemenhut)

KLIKWARTAKU — Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kehuatanan, pada Kamis 10 Oktober 2026, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah yang menempati urutan kedua.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Rabu 9 September 2026 pukul 21.04 WIB, secara nasional terdeteksi 395 hotspot high confidence. Jumlah tersebut turun tipis dua titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Barat mencatat 134 hotspot high confidence, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 81 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan tercatat 35 titik, Riau 15 titik, Jambi 4 titik, dan Kalimantan Selatan nihil hotspot high confidence.

Tingginya jumlah hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian dalam penentuan prioritas patroli, groundcheck, pemadaman darat, hingga dukungan operasi udara.

Sebaliknya, kondisi di Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan positif. Pada pemantauan terakhir, wilayah tersebut tidak mencatat hotspot high confidence. Sumatera Selatan juga mengalami penurunan jumlah hotspot dibandingkan hari sebelumnya.

Meski demikian, Kementerian Kehutanan menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan karena perkembangan karhutla sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan bahan bakar di lapangan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.

Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi yang muncul tetap harus diverifikasi melalui pengecekan langsung atau groundcheck di lapangan.

Dalam pengendalian karhutla, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.

Dukungan operasi udara juga disiagakan. Sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sedangkan 34 armada lainnya digunakan untuk operasi water bombing.

Pengerahan armada udara dilakukan berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta faktor meteorologis.

OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memungkinkan terbentuknya hujan sehingga dapat membantu proses pembasahan lahan.

Khusus di wilayah gambut, operasi pembasahan dan pendinginan menjadi perhatian karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api sudah tidak terlihat.

Selain ancaman kebakaran, kualitas udara dan sebaran asap juga menjadi perhatian pemerintah.

Pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan masih terpantau dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada sebagian area masuk kategori berbahaya.

Kondisi tidak sehat juga terpantau di beberapa wilayah Sumatera. Dampak karhutla karena itu tidak hanya diukur dari jumlah hotspot maupun luas area yang terbakar. Sebaran asap dan pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat serta aktivitas sehari-hari turut menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pengendalian.

Kondisi asap juga masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas. Berdasarkan pemantauan meteorologi penerbangan BMKG pada Rabu (9/9/2026) siang sekitar pukul 12.47 WIB, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap.

Di Palangka Raya, jarak pandang sekitar 4,5 kilometer dan juga terpantau berasap. Palembang sekitar 5 kilometer dengan kondisi berasap, Pekanbaru sekitar 4 kilometer berasap, serta Jambi sekitar 3 kilometer berasap.

Sementara Banjarmasin memiliki jarak pandang sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan.

Kondisi Pontianak menjadi perhatian sejalan dengan tingginya hotspot high confidence yang terpantau di Kalimantan Barat.

Namun, jarak pandang dapat berubah secara dinamis mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan.

Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait terus melakukan pemantauan terpadu terhadap hotspot, kondisi api, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang.

Pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan wilayah dan bentuk operasi pengendalian karhutla berikutnya.

Kementerian Kehutanan juga mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin oleh petugas. ***

Bagikan:

Iklan