Presiden Peru Dina Boluarte Resmi Dilengserkan, Kongres Sepakat Akhiri Kekuasaan di Tengah Krisis Keamanan
KLIKWARTAKU — Krisis politik Peru kembali memuncak. Kongres Peru secara resmi melengserkan Presiden Dina Boluarte dari jabatannya setelah sidang pemakzulan yang digelar hingga larut malam pada Kamis 9 Oktober 2025 waktu setempat.
Sebanyak 122 dari 130 anggota parlemen sepakat mencopot Boluarte dengan alasan “ketidakmampuan moral permanen”, sebuah istilah hukum yang kerap digunakan dalam politik Peru untuk menurunkan presiden.
Langkah ini menandai berakhirnya masa jabatan salah satu pemimpin paling tidak populer di dunia, dengan tingkat dukungan publik yang hanya berkisar 2–4 persen.
Dina Boluarte Tanggapi Pemberhentian: “Saya Pikirkan 34 Juta Rakyat Peru”
Dalam pidato nasional yang disiarkan tak lama setelah keputusan itu, Boluarte mempertanyakan dampak pemecatannya terhadap stabilitas demokrasi Peru.
“Sepanjang waktu saya menyerukan persatuan. Saya tidak memikirkan diri sendiri, tetapi 34 juta rakyat Peru yang pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Di luar gedung Kongres, ratusan demonstran yang membawa bendera nasional bersorak gembira begitu hasil pemungutan suara diumumkan.
Kepemimpinan Sementara dan Kekosongan Wakil Presiden
Setelah pemecatan tersebut, Jose Jeri, Ketua Kongres Peru, langsung disumpah sebagai presiden sementara pada Jumat dini hari.
Peru saat ini tidak memiliki wakil presiden, sehingga kekosongan jabatan pemerintahan menjadi tantangan baru bagi stabilitas politik negara Andes tersebut.
Masa Pemerintahan Penuh Skandal dan Kekerasan
Sejak naik ke tampuk kekuasaan pada Desember 2022 menggantikan Pedro Castillo yang juga dimakzulkan, Boluarte menghadapi berbagai masalah. Mulai dari gelombang protes berdarah yang menewaskan lebih dari 50 orang, hingga penyelidikan korupsi “Rolexgate” terkait dugaan penerimaan jam tangan mewah sebagai suap.
Selain itu, keputusannya menaikkan gaji sendiri hingga 35 kali lipat dari upah minimum memicu kemarahan publik. Ia juga sempat diselidiki karena meninggalkan jabatan saat menjalani operasi hidung tanpa menunjuk pejabat pengganti.
Krisis Keamanan dan Meningkatnya Kejahatan
Pemecatan Boluarte terjadi di tengah meningkatnya kriminalitas dan kekerasan geng di seluruh Peru. Penembakan di sebuah konser di ibu kota Lima pada Kamis malam memicu gelombang kemarahan baru terhadap pemerintahannya.
Dalam tiga bulan pertama masa jabatannya, tercatat lebih dari 500 aksi protes di berbagai wilayah. Gelombang demonstrasi kembali mencuat menjelang pemilu yang dijadwalkan pada April 2026.
Akhir dari Rangkaian Krisis Politik Peru
Boluarte merupakan presiden keenam Peru sejak 2018, dan juga presiden perempuan pertama dalam sejarah negara itu. Ia kini bergabung dengan daftar panjang mantan pemimpin Peru yang menghadapi proses hukum, termasuk tiga di antaranya yang kini mendekam di penjara.
“Cara satu-satunya untuk maju adalah dengan memakzulkan Dina Boluarte,” kata anggota Kongres Susel Paredes dalam pernyataan di platform X.
Dengan pelengseran ini, Peru kembali menghadapi babak baru ketidakpastian politik di tengah meningkatnya kejahatan dan krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.***











