klikwartaku.com
Beranda Internasional AS Tak Langsung Bela Israel, Sanksi Inggris atas Permukiman Tepi Barat Ungkap Keretakan Trump-Netanyahu

AS Tak Langsung Bela Israel, Sanksi Inggris atas Permukiman Tepi Barat Ungkap Keretakan Trump-Netanyahu

Sikap AS yang menahan diri setelah Inggris menjatuhkan sanksi terhadap permukiman Israel di Tepi Barat menunjukkan meningkatnya friksi Trump dengan Netanyahu. Foto: Tangkapan layar YouTube Channel 4 News

KLIKWARTAKU — Inggris mengambil langkah keras terhadap permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Israel membalas dengan ancaman diplomatik. Namun yang paling menarik justru datang dari Washington: Amerika Serikat tidak buru-buru memasang badan untuk sekutunya.

Pemerintah Inggris mengumumkan sanksi terhadap sejumlah permukiman Israel dan aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan permukiman tersebut. London menyebut langkah itu sebagai bagian dari upaya mempertahankan peluang terbentuknya negara Palestina sebagai bagian dari solusi dua negara.

Pemerintah Inggris juga menuding pemerintah Israel membiarkan kekerasan pemukim terhadap warga Palestina. Israel merespons dengan kemarahan. Pemerintah Israel menyatakan akan menutup misi diplomatik Inggris untuk Palestina. Israel juga mengancam mengeluarkan personel militer Inggris dari sebuah pusat koordinasi internasional di dekat Gaza.

Tak hanya itu. Hampir selusin anggota parlemen Inggris dari kelompok sayap kiri juga disebut akan dilarang memasuki Israel. Eskalasi diplomatik itu semestinya memancing Washington untuk segera membela Israel.

Selama ini, Amerika Serikat merupakan sekutu terpenting Israel dan kerap memberikan perlindungan diplomatik ketika pemerintah Israel menghadapi tekanan dari negara-negara Barat. Namun kali ini respons Washington berbeda.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak mengecam keputusan Inggris ketika ditanya wartawan dalam perjalanan menuju Kolombia. “Kami jelas tidak akan melakukan apa yang dilakukan Inggris,” kata Rubio. Namun ia tidak memberikan kecaman lebih jauh.

Rubio mengatakan Inggris telah memberi tahu pemerintahan AS mengenai rencana tersebut sebelum pengumuman. Washington, kata dia, memiliki tujuan yang sama dengan Inggris untuk menjaga stabilitas kawasan. “Kami tidak ingin melihat peningkatan kekerasan di Tepi Barat,” ujar Rubio.

Pernyataan itu jauh dari ancaman pembalasan yang sebelumnya sempat muncul dari kalangan pejabat dan pendukung Israel di Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee bahkan sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan Washington memberikan “sanksi, konsekuensi atau pembalasan” terhadap Inggris.

Namun Huckabee mengakui belum mengetahui bentuk tindakan tersebut dan belum membicarakannya dengan Presiden Donald Trump. Seiring berjalannya hari, ancaman itu tidak segera terwujud.

Trump sendiri memilih mengambil jarak. Ketika ditanya mengenai keputusan Israel membalas Inggris, Trump mengatakan akan berbicara dengan pemerintah Israel untuk memahami alasan di balik langkah tersebut. “Saya ingin mengetahui mengapa hal itu tiba-tiba terjadi,” kata Trump.

Sikap tersebut menjadi sinyal bahwa Washington untuk sementara tidak ingin menjadikan perselisihan Inggris-Israel sebagai pertarungan diplomatik baru. Sikap menahan diri Washington tidak bisa dilepaskan dari hubungan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang semakin rumit.

Trump memang tetap menjadikan Israel sebagai sekutu utama Amerika Serikat. Namun kepentingan kebijakan luar negeri pemerintahannya tidak selalu sejalan dengan agenda Netanyahu. Saat ini Trump memiliki dua prioritas besar di Timur Tengah.

Pertama, mencegah konflik dengan Iran semakin melebar, terutama di kawasan Selat Hormuz. Kedua, mendorong kemajuan dalam rencana perdamaian Gaza. Kedua agenda tersebut membutuhkan ruang diplomasi yang besar. Masalahnya, Netanyahu tidak selalu memberikan apa yang diinginkan Washington.

Dalam sejumlah kesempatan, ketika Trump berusaha membuka jalan menuju kesepakatan dengan Iran, Israel justru meningkatkan tekanan militernya terhadap kelompok yang dianggap sebagai ancaman keamanan Israel. Dari sudut pandang Washington, langkah semacam itu berpotensi mengganggu diplomasi Amerika. Persoalan serupa muncul di Gaza.

Trump menginginkan kemajuan dalam rencana yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel. Namun Netanyahu secara terbuka menolak sejumlah bagian dari rencana tersebut dalam bentuk yang sekarang. Karena itu, dukungan tanpa syarat kepada Netanyahu atas setiap kebijakan Israel bukan pilihan yang selalu menguntungkan Trump.

Persoalan permukiman di Tepi Barat juga semakin sensitif bagi pemerintahan Trump. Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina telah lama menjadi sumber kritik internasional. Pemerintah AS sendiri mulai terganggu oleh minimnya tindakan pemerintah Israel untuk menghukum pelaku kekerasan secara berarti.

Situasi tersebut berpotensi menjadi masalah politik bagi Gedung Putih. Amerika Serikat membutuhkan dukungan negara-negara Arab, terutama negara-negara Teluk, untuk menjalankan diplomasi Gaza. Negara-negara tersebut juga menjadi perantara dalam upaya mendorong Hamas menerima kesepakatan.

Namun negara-negara Arab mempertanyakan bagaimana Washington dapat meminta konsesi dari Hamas jika Amerika Serikat sendiri kesulitan meminta pemerintah Israel menghentikan kekerasan pemukim di Tepi Barat. Dengan kata lain, persoalan permukiman bukan lagi sekadar isu Israel dan Palestina. Ia mulai mengganggu strategi diplomasi Trump di kawasan.

Tekanan terhadap Israel juga tidak berhenti pada Inggris. Sebanyak 11 negara, sebagian besar negara Eropa, disebut bersiap bergabung dalam kebijakan pembatasan perdagangan yang berkaitan dengan permukiman Israel di Tepi Barat.

Jika langkah itu berlanjut, Israel akan menghadapi tekanan yang lebih luas dari negara-negara Barat. Biasanya, situasi semacam ini menjadi momentum bagi Washington untuk tampil sebagai pelindung utama Israel. Tetapi kali ini Gedung Putih tampaknya menghitung ulang kepentingannya.

Bagi Trump, melawan Eropa demi membela kebijakan permukiman Israel mungkin tidak memberikan keuntungan politik yang sepadan. Apalagi pemerintahannya sedang berusaha menyelesaikan sejumlah persoalan yang jauh lebih besar: Iran, Gaza, dan stabilitas kawasan.

Trump juga belum memberikan dukungan terbuka kepada Netanyahu untuk pemilu Israel mendatang. Pada saat bersamaan, pemerintahan AS menyadari adanya perbedaan pandangan di antara basis pendukung Trump sendiri mengenai kebijakan terhadap Israel.

Situasi itu membuat Gedung Putih memiliki alasan untuk tidak terburu-buru memilih kubu dalam perselisihan Inggris-Israel. Untuk saat ini, Washington tampaknya memilih mengendalikan jarak. Israel tetap sekutu. Namun dukungan Amerika Serikat tidak otomatis berarti Gedung Putih akan membela setiap langkah pemerintah Netanyahu.

Bagi Trump, memenangkan konfrontasi dengan Iran dan meninggalkan warisan berupa kesepakatan damai di Gaza jauh lebih penting. Dalam kalkulasi tersebut, berhadapan dengan Eropa demi mempertahankan kebijakan permukiman Israel di Tepi Barat mungkin menjadi pertarungan yang tidak sebanding dengan ongkos politiknya.***

Bagikan:

Iklan