Kenapa Seseorang Sulit Pergi dari Hubungan yang Toxic? Ini 8 Alasannya Menurut Psikologi
KLIK WARTAKU – Hubungan asmara idealnya menjadi ruang untuk merasa aman, dihargai, dan tumbuh bersama. Namun, realitasnya tidak selalu seindah itu.
Ada orang yang justru bertahan dalam hubungan yang dipenuhi pertengkaran, manipulasi, pengkhianatan, bahkan kekerasan emosional maupun fisik.
Dari luar, mungkin muncul pertanyaan sederhana: “Kalau sudah tidak bahagia, kenapa tidak pergi saja?”
Padahal, keputusan meninggalkan pasangan yang tidak baik tidak selalu sesederhana membalikkan telapak tangan.
Dalam perspektif psikologi, ada sejumlah faktor emosional, biologis, dan sosial yang dapat membuat seseorang merasa sulit melepaskan diri dari hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (4/8), terdapat sejumlah alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan.
1. Trauma Bonding, Ikatan yang Terbentuk dari Siklus Luka dan Kasih Sayang
Salah satu faktor yang dapat membuat seseorang sulit pergi adalah trauma bonding atau ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan buruk dan kasih sayang.
Pola tersebut bisa terjadi ketika seseorang mendapatkan perlakuan kasar atau menyakitkan, kemudian pasangannya meminta maaf, memberikan perhatian, hadiah, atau menunjukkan kasih sayang secara berlebihan.
Siklus itu dapat terus berulang.
Setelah konflik, muncul rasa lega ketika pasangan kembali bersikap baik. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang berharap bahwa hubungan akan berubah dan pasangannya benar-benar akan menjadi lebih baik.
Karena itu, korban bukan sekadar “tidak mau pergi”. Bisa saja ia sudah terikat secara emosional dalam pola yang sangat sulit diputus.
2. Takut Kesepian
Kesepian juga menjadi salah satu alasan seseorang memilih bertahan.
Ada orang yang merasa bahwa memiliki pasangan yang buruk masih lebih baik daripada harus menjalani hidup sendirian.
Rasa takut tersebut bisa muncul akibat pengalaman ditinggalkan, rendahnya kepercayaan diri, tekanan sosial untuk memiliki pasangan, hingga kekhawatiran tidak akan menemukan orang yang lebih baik.
Akibatnya, tanda-tanda hubungan tidak sehat terkadang justru diabaikan.
3. Merasa Sudah Terlalu Banyak Berkorban
Hubungan yang berlangsung bertahun-tahun biasanya melibatkan banyak investasi, mulai dari waktu, tenaga, emosi, hingga uang.
Di sinilah muncul apa yang dikenal sebagai sunk cost fallacy.
Seseorang merasa sudah terlalu banyak berkorban sehingga memilih terus bertahan meski hubungan tersebut sebenarnya sudah tidak sehat.
Pikiran seperti, “Sudah lima tahun bersama, masa harus berakhir?” atau “Sayang kalau semua perjuangan ini sia-sia,” bisa membuat seseorang semakin sulit mengambil keputusan.
Padahal, lamanya hubungan tidak otomatis menentukan sehat atau tidaknya sebuah hubungan.
4. Masih Berharap Pasangan Berubah
Harapan menjadi alasan lain yang sering membuat seseorang bertahan.
Pasangan mungkin sesekali meminta maaf, menunjukkan perhatian, atau berjanji akan berubah setelah terjadi konflik.
Masalahnya, perubahan yang hanya berlangsung sementara tidak sama dengan perubahan perilaku yang konsisten.
Jika pola buruk terus berulang, janji untuk berubah justru dapat membuat seseorang terus menunggu sesuatu yang tidak kunjung terjadi.
5. Harga Diri yang Rendah
Rendahnya self-esteem juga dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam hubungan.
Mereka mungkin mulai percaya bahwa dirinya memang tidak layak mendapatkan perlakuan lebih baik.
Pikiran seperti “Tidak ada orang lain yang mau menerimaku” atau “Aku memang tidak cukup baik” dapat membuat seseorang menerima perilaku yang sebenarnya tidak pantas ditoleransi.
Dalam hubungan yang manipulatif, kondisi tersebut bahkan bisa semakin parah karena pasangan terus memberikan kritik, merendahkan, atau menyalahkan korban.
6. Manipulasi dan Gaslighting
Gaslighting merupakan bentuk manipulasi yang dapat membuat seseorang meragukan ingatan, penilaian, bahkan persepsinya sendiri terhadap suatu kejadian.
Kalimat seperti “Kamu terlalu sensitif,” “Itu cuma ada di pikiranmu,” atau “Semua ini salahmu,” jika terus-menerus dilontarkan dapat mengikis rasa percaya diri.
Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan keyakinan terhadap penilaiannya sendiri.
Dalam kondisi tersebut, keputusan untuk mengakhiri hubungan menjadi semakin berat karena korban mulai mempertanyakan apakah dirinya benar-benar mengalami masalah atau justru hanya “terlalu sensitif”.
7. Ketergantungan Finansial dan Sosial
Tidak semua orang mempunyai kebebasan yang sama untuk meninggalkan hubungan.
Ketergantungan ekonomi, anak, tempat tinggal, keluarga, hingga tekanan sosial bisa menjadi penghalang besar.
Bagi seseorang yang bergantung secara finansial kepada pasangan, misalnya, meninggalkan hubungan berarti harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, keluar dari hubungan buruk terkadang bukan hanya persoalan keberanian, melainkan juga membutuhkan rencana yang matang dan aman.
8. Terbiasa dengan Pola Hubungan yang Tidak Sehat
Pengalaman masa kecil juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang hubungan ketika dewasa.
Seseorang yang sejak kecil terbiasa melihat konflik, kritik berlebihan, atau kekerasan mungkin tanpa sadar menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang normal.
Manusia juga cenderung tertarik pada sesuatu yang terasa familiar.
Masalahnya, sesuatu yang familiar belum tentu sehat.
Karena itu, seseorang bisa saja mengulangi pola hubungan yang pernah dilihat atau dialaminya sejak kecil tanpa benar-benar menyadarinya.
Dampaknya Tak Bisa Dianggap Sepele
Bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tidak sehat dapat berdampak terhadap kondisi psikologis maupun fisik.
Mulai dari stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, menurunnya rasa percaya diri, gangguan tidur, sulit mempercayai orang lain, hingga menurunnya produktivitas.
Dalam situasi tertentu, tekanan psikologis yang terus berlangsung juga dapat memengaruhi kesehatan fisik.
Semakin lama seseorang berada dalam lingkungan yang penuh tekanan, semakin penting pula untuk mendapatkan dukungan dan bantuan yang tepat.
Bagaimana Memulai Langkah untuk Keluar?
Meninggalkan hubungan yang tidak sehat memang tidak selalu mudah. Namun, langkah kecil dapat dimulai dengan mengenali terlebih dahulu bahwa ada sesuatu yang salah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Mengenali tanda-tanda hubungan tidak sehat.
Membangun kembali rasa percaya diri.
Berbicara dengan orang yang dipercaya.
Menyiapkan rencana yang aman apabila ingin mengakhiri hubungan.
Mencari bantuan psikolog atau konselor bila diperlukan.
Memastikan kebutuhan dasar dan keamanan tetap terjaga.
Khusus dalam hubungan yang melibatkan kekerasan atau ancaman, keselamatan harus menjadi prioritas. Jangan mengambil langkah yang justru meningkatkan risiko tanpa mempertimbangkan situasi dan dukungan yang tersedia.
Bukan Lemah, Bisa Jadi Memang Sedang Terjebak
Sulit meninggalkan pasangan yang buruk bukan berarti seseorang lemah atau tidak memiliki keberanian.
Ada trauma bonding, ketakutan akan kesepian, investasi emosional, rendahnya harga diri, manipulasi, ketergantungan ekonomi, hingga pengalaman masa lalu yang bisa membuat seseorang merasa terjebak.
Memahami hal tersebut penting agar kita tidak mudah menghakimi orang yang sedang berada dalam hubungan tidak sehat.
Sebab, hubungan yang sehat seharusnya menghadirkan rasa aman, saling menghormati, kepercayaan, komunikasi, dan ruang untuk berkembang.
Jika sebuah hubungan justru terus menghadirkan ketakutan, manipulasi, penghinaan, atau penderitaan, menjaga diri sendiri bukanlah bentuk egoisme.
Setiap orang berhak mendapatkan hubungan yang membuatnya merasa aman dan dihargai.


























