Waspada Kabut Asap Karhutla, Ini 6 Dampak Berbahaya bagi Kesehatan
KLIKWARTAKU – Kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Di balik udara yang terlihat pekat, terdapat berbagai partikel dan zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.
Risiko tersebut semakin meningkat saat musim kemarau, ketika kebakaran hutan dan lahan lebih mudah terjadi. Paparan kabut asap dalam waktu singkat maupun berkepanjangan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk dan iritasi mata hingga memperburuk penyakit asma, gangguan paru-paru, bahkan meningkatkan risiko gangguan jantung.
Kabut asap tidak hanya berasal dari karhutla. Polusi udara dari aktivitas industri dan kendaraan bermotor juga dapat menjadi sumber pencemaran udara.
Di dalam asap dan polusi udara terdapat sejumlah zat yang berbahaya bagi tubuh, di antaranya karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur oksida (SO₂), senyawa organik volatil (VOC), serta ozon.
Selain gas, kabut asap juga membawa partikel-partikel kecil berupa debu, jelaga, asap, dan kotoran yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil bahkan dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan memicu peradangan.
Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat paparan kabut asap tinggi perlu meningkatkan kewaspadaan. Berikut sejumlah dampak yang dapat ditimbulkan akibat paparan kabut asap.
1. Meningkatkan Risiko Gangguan Paru-Paru
Paparan kabut asap dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pada sistem pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan dan gangguan paru-paru.
Kabut asap juga dapat memperburuk kondisi orang yang sudah memiliki asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Zat iritatif dan partikel yang masuk ke saluran pernapasan dapat menyebabkan peradangan sehingga penderita penyakit paru-paru lebih mudah mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya.
2. Memicu Batuk dan Iritasi Tenggorokan
Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan ketika kualitas udara memburuk adalah batuk.
Paparan asap dapat membuat tenggorokan terasa kering, gatal, perih, atau teriritasi. Keluhan tersebut biasanya dapat muncul dalam waktu relatif singkat setelah seseorang menghirup udara yang tercemar.
Jika paparan berlangsung terus-menerus, gangguan tersebut bisa menjadi lebih berat, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.
3. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah
Bahaya kabut asap tidak hanya menyerang paru-paru. Partikel halus dalam polusi udara juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular.
Paparan polusi udara dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan risiko kejadian kardiovaskular, termasuk stroke. Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan proses peradangan dan gangguan pada pembuluh darah akibat paparan partikel polutan.
4. Menyebabkan Iritasi Mata
Mata juga menjadi salah satu bagian tubuh yang paling cepat merasakan dampak kabut asap.
Debu, asap, dan berbagai zat iritatif dapat menyebabkan mata merah, berair, terasa perih, gatal, atau seperti kemasukan benda asing.
Saat kondisi udara dipenuhi kabut asap, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan kacamata dapat membantu mengurangi kontak langsung mata dengan debu dan asap.
5. Paparan Jangka Panjang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Paru-Paru
Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena beberapa komponen polusi bersifat karsinogenik.
Artinya, paparan terhadap zat tertentu dalam polusi udara dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Risiko ini tidak hanya menjadi perhatian bagi perokok, tetapi juga masyarakat yang terus-menerus terpapar udara tercemar.
6. Memicu Iritasi dan Peradangan Kulit
Kabut asap ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan kulit.
Paparan polutan dapat membuat kulit menjadi lebih mudah mengalami iritasi, kering, kemerahan, atau peradangan. Pada orang tertentu, kondisi kulit seperti eksim atau psoriasis juga dapat mengalami perburukan.
Paparan polusi udara dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan berbagai masalah kulit, termasuk proses penuaan kulit.
Anak-Anak dan Lansia Lebih Rentan
Dampak kabut asap tidak selalu sama pada setiap orang. Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara.
Bayi, anak-anak, lansia, serta masyarakat yang sudah memiliki penyakit seperti asma, PPOK, atau penyakit jantung perlu mendapat perhatian lebih.
Anak-anak, misalnya, masih dalam tahap perkembangan sistem pernapasan sehingga paparan polusi udara perlu diminimalkan.
Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Ketika kabut asap mulai menyelimuti suatu wilayah, masyarakat dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.
Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik serta hindari berada di luar ruangan terlalu lama.
Masyarakat juga dapat memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi dan mengikuti imbauan pemerintah maupun petugas kesehatan.
Jika muncul keluhan seperti sesak napas berat, nyeri dada, sulit bernapas, penurunan kesadaran, atau kondisi kesehatan yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang. Udara yang tercemar dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Karena itu, menjaga diri dan keluarga dari paparan asap menjadi langkah penting selama musim karhutla.

















