klikwartaku.com
Beranda Internasional Céline Dion Kembali ke Panggung Paris Setelah 6 Tahun, Menangis di Hadapan 30 Ribu Penonton

Céline Dion Kembali ke Panggung Paris Setelah 6 Tahun, Menangis di Hadapan 30 Ribu Penonton

Céline Dion kembali tampil penuh di Paris setelah enam tahun absen akibat stiff person syndrome. Penampilannya dipuji kritikus sebagai comeback penuh emosi. Foto: Tangkapan layar YouTube Celebrity Goship

KLIKWARTAKU — Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang penyanyi untuk meninggalkan panggung. Bagi Céline Dion, jeda itu terjadi bukan karena kehilangan popularitas, melainkan karena penyakit langka yang memaksanya menghentikan tur dunia.

Pada Sabtu malam di Paris, Dion akhirnya kembali. Sekitar 30 ribu penonton memenuhi Paris La Défense Arena untuk menyaksikan penampilan penuh pertama penyanyi Kanada itu sejak 2020. Malam tersebut menjadi pembuka dari rangkaian 26 pertunjukan residensi Dion di ibu kota Prancis.

Comeback itu berlangsung emosional. Bahkan sebelum konser berjalan jauh, Dion beberapa kali terlihat menahan tangis. “Saya membuat janji untuk kembali, untuk kembali ke atas panggung. Dan di sinilah saya. Bernyanyi untuk Anda, dan bernyanyi untuk diri saya sendiri,” kata Dion kepada penonton.

“Saya adalah diri saya sekarang karena kalian mencintai saya,” ujarnya. Setelah menyelesaikan salah satu lagu, Dion kembali menangis. Ia kemudian mengaku sebelumnya telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis. “Tapi saya sangat bahagia melihat kalian semua. Saya merindukan kalian,” katanya. Tangis Dion ternyata menular kepada penonton.

Dion didiagnosis mengalami stiff person syndrome (SPS) pada 2022. Gangguan neurologis langka ini membuatnya mengurangi aktivitas panggung dan membatalkan sejumlah agenda pertunjukan. Sebelum Sabtu malam, penampilan penuh terakhir Dion berlangsung pada 2020 di New Jersey. Tur setelah itu terhenti oleh pandemi Covid-19 dan persoalan kesehatannya.

Ia memang sempat muncul di depan publik pada 2024. Dion menyanyikan satu lagu dalam upacara penutupan Olimpiade Paris. Namun penampilan tersebut berbeda dari konser penuh yang menuntut stamina dan konsistensi vokal selama berjam-jam. Karena itu, penampilan di Paris menjadi ujian besar.

Neil McCormick dari The Telegraph menyebutnya sebagai salah satu comeback paling berisiko dalam sejarah pertunjukan musik karena kondisi kesehatan Dion. Pada awal konser, menurut McCormick, suara Dion terdengar rapuh dan rentan. Vokalnya sempat bergetar seperti akan pecah. Namun, kepercayaan dirinya meningkat seiring pertunjukan berjalan.

Justru sisi tersebut yang dinilai membuat penampilan Dion terasa lebih manusiawi. McCormick menilai suara Dion masih kuat, tetapi kini terdengar lebih mentah, dengan tekstur yang lebih kasar dan tidak sehalus penampilannya pada masa lalu.

The Mirror melaporkan konser dimulai sekitar 50 menit lebih lambat dari jadwal. Lucy Needham menduga Dion membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi malam yang sangat emosional tersebut.

Di atas panggung, Dion memulai pertunjukan dengan gaun hitam. Ia kemudian berganti mengenakan setelan celana dan kembali menunjukkan gerakan khasnya. Needham menggambarkan Dion terlihat menikmati momen tersebut, bergerak bebas dan berinteraksi dengan penonton. Kritikus lain juga memberikan respons positif.

Will Hodgkinson dari The Times menyebut penampilan itu “overwhelming” atau sangat menggugah. Ia menilai Dion tampil dengan kerendahan hati, sementara energi cinta dari penyanyi tersebut seperti dikembalikan penonton dari tribun.

Panggung konser juga mendapat pujian. Variety menggambarkan pertunjukan itu memiliki nuansa sinematik dengan tangga monumental, bulan besar, serta latar bernuansa abu-abu brutalistis. Sejumlah bagian pertunjukan menggunakan simbol visual yang menyerupai perjalanan spiritual atau ziarah.

Antusiasme terhadap comeback Dion sudah terlihat jauh sebelum konser berlangsung. Ketika tahap awal residensi Paris diumumkan pada Maret, sekitar 9 juta penggemar disebut mendaftar untuk mendapatkan akses awal pembelian tiket.

Tiket kemudian terjual sangat cepat. Manajemen Dion bahkan menambahkan 10 pertunjukan lagi untuk Mei 2027. Pertunjukan tambahan itu juga telah ludes terjual. Bagi penggemar yang tidak kebagian tiket, Paris berubah menjadi semacam panggung alternatif untuk merayakan kembalinya sang diva.

Sejumlah kapal wisata di Sungai Seine menggelar pelayaran bertema Céline Dion, lengkap dengan kontes kostum, bernyanyi bersama, dan penampilan DJ. Balai Kota Paris juga menggelar karaoke massal pada Jumat malam. Ribuan penggemar datang meski tidak memiliki tiket konser.

“Saya tidak mendapatkan tiket konser. Saya masih terus berharap, tetapi saya berpikir, setidaknya saya bisa berbagi momen di sini bersama para penggemar,” kata seorang peserta bernama Rania.

Di berbagai tempat lain di Paris, bioskop, teater, klub malam, dan lokasi hiburan ikut menggelar acara yang terinspirasi dari lagu-lagu Dion. Bahkan sebelum konser dimulai, penggemar sudah berkumpul di luar hotel tempat Dion menginap sejak pukul 06.00 waktu setempat hanya untuk melihat sang penyanyi. “Saya memilih bekerja dengan tubuh dan jiwa”

Dion sebelumnya menegaskan tidak ingin diagnosis penyakitnya menentukan masa depannya. Dalam wawancara dengan Vogue Prancis pada 2024, ia mengatakan memiliki dua pilihan: berlatih keras seperti atlet atau berhenti. “Saya memilih bekerja dengan seluruh tubuh dan jiwa saya,” kata Dion.

Ia menjalani latihan dengan dukungan tim medis. Kini, di hadapan 30 ribu orang di Paris, pilihan itu mendapatkan bentuknya. Dion bukan lagi penyanyi yang berdiri di panggung dengan tubuh yang harus selalu terlihat sempurna. Ia datang membawa suara yang mungkin terdengar lebih rapuh, emosi yang sulit ditahan, dan perjalanan panjang untuk bisa kembali bernyanyi.

Namun malam itu, penonton tidak meminta Dion menjadi sosok yang sama seperti enam tahun lalu. Mereka hanya ingin melihatnya kembali. Dan ketika suara tepuk tangan memenuhi arena, Dion menangis lagi.***

Bagikan:

Iklan