klikwartaku.com
Beranda Internasional Houthi Kuasai Pulau Perim dan Mokha, Cengkeraman di Jalur Laut Merah Makin Kuat

Houthi Kuasai Pulau Perim dan Mokha, Cengkeraman di Jalur Laut Merah Makin Kuat

Houthi mengklaim menguasai Pulau Perim dan kota pelabuhan Mokha di Yaman. Penguasaan kawasan strategis ini meningkatkan risiko terhadap pelayaran dan pasokan minyak. Foto: Tangkapan layar YouTube Times Now

KLIKWARTAKU — Kelompok Houthi memperkuat cengkeramannya di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Kelompok yang didukung Iran itu mengklaim telah menguasai wilayah di pesisir barat Yaman, termasuk Pulau Perim di pintu masuk Laut Merah.

Seorang sumber dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan bahwa pasukan Houthi telah merebut Pulau Perim, yang juga dikenal sebagai Mayyun. Penguasaan pulau tersebut terjadi sehari setelah Houthi dilaporkan merebut Mokha, kota pelabuhan strategis di pesisir Laut Merah, dari pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi.

Seorang pejabat militer Yaman mengatakan kepada AFP bahwa Houthi kini menguasai seluruh garis pantai tersebut. Jika klaim tersebut terkonfirmasi, posisi Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab menjadi semakin kuat.

Selat ini merupakan jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu pintu penting bagi kapal-kapal yang bergerak antara Asia, Timur Tengah dan Eropa. Perim bukan pulau besar. Nilai strategisnya justru terletak pada lokasinya.

Pulau tersebut berada di titik tersempit Selat Bab al-Mandab. Siapa pun yang menguasai kawasan itu memiliki posisi penting untuk mengawasi lalu lintas kapal yang melewati salah satu jalur perdagangan internasional utama. Houthi sebelumnya mengatakan tidak berniat mengancam pelayaran internasional.

Namun, kelompok tersebut kembali memberikan peringatan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi dapat menjadi sasaran. Dalam pernyataannya, Houthi mengatakan operasi militernya untuk mengusir pasukan yang didukung Saudi telah berhasil. Kelompok tersebut menyebut navigasi laut tetap aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal-kapal Saudi.

Pernyataan militer Houthi tidak secara khusus menyebut Pulau Perim. Juru bicara militer Houthi Yahya Sarea mengatakan operasi berskala besar itu dimulai pada 3 September sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai agresi Saudi terhadap Yaman. Houthi mengklaim telah mengusir pasukan Saudi dan sekutunya dari enam distrik di wilayah Taiz dan Hodeidah.

Kelompok itu juga mengklaim ratusan personel militer telah tewas, terluka atau ditangkap. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Arab Saudi belum memberikan komentar terbuka mengenai perkembangan terbaru tersebut.

Kemajuan cepat Houthi membuat Riyadh semakin khawatir. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan secara langsung meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil tindakan militer terhadap Houthi.

Dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada CBS News, mitra BBC di Amerika Utara, bahwa Mohammed bin Salman telah menekan Trump untuk mengambil langkah lebih keras. Namun, Trump sejauh ini belum memutuskan untuk melibatkan militer Amerika Serikat secara langsung.

Washington disebut menawarkan dukungan berupa intelijen dan bantuan penentuan sasaran. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan Amerika Serikat terus berkomunikasi dengan pemerintah Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengenai stabilitas kawasan.

Posisi Houthi di Bab al-Mandab menjadi semakin penting karena jalur energi lain di kawasan tersebut juga menghadapi gangguan. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, praktis mengalami penutupan akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Kondisi itu membuat Laut Merah dan Bab al-Mandab semakin penting bagi pengiriman energi.

Arab Saudi selama ini mengandalkan jalur Laut Merah dan Bab al-Mandab untuk mengirim minyak menuju konsumen di Asia. Karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap harga energi dan biaya pengiriman global.

Konflik antara Houthi, pemerintah Yaman dan Arab Saudi pun telah ikut mendorong kenaikan harga minyak. Ketegangan juga menyebar ke wilayah lain. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan drone dari Irak menyerang jaringan pipa minyak East-West milik negara tersebut. Serangan itu membuat jalur pipa ditutup sebagai langkah pencegahan. Sejumlah orang dilaporkan terluka.

Pemerintah Irak mengecam serangan tersebut dan Perdana Menteri Irak memerintahkan penyelidikan. Kantor perdana menteri mengatakan komandan operasi di Provinsi Maysan telah dicopot setelah penyelidikan awal memastikan serangan drone berasal dari wilayah tersebut.

Maysan berbatasan langsung dengan Iran. Arab Saudi mengatakan tidak akan membalas serangan tersebut untuk sementara setelah menerima telepon dari Perdana Menteri Irak. Di tengah perebutan wilayah strategis, warga sipil kembali menjadi pihak yang paling terdampak.

Sedikitnya 46.000 orang telah mengungsi di Yaman sejak pertempuran antara pemerintah Yaman dan Houthi yang didukung Arab Saudi kembali meningkat, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM. Jumlah tersebut terus bertambah.

Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk kedua atau bahkan ketiga kalinya sepanjang konflik. “Banyak keluarga dipaksa melarikan diri untuk kedua atau ketiga kalinya dalam konflik ini, dengan hampir tidak memiliki apa-apa lagi,” kata Pope.

Konflik terbaru juga dilaporkan telah menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan lainnya mengungsi sejak Houthi melancarkan serangan di barat daya Yaman sekitar sepekan terakhir. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai Houthi untuk membantu pasukan pemerintah.

Sebaliknya, Houthi meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah kota serta fasilitas minyak di Arab Saudi. Houthi menggulingkan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2015. Peristiwa tersebut memicu intervensi militer Arab Saudi dan memperluas perang saudara di negara itu.

Kelompok Houthi kini menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Gencatan senjata yang bertahan relatif lama selama lebih dari empat tahun mulai runtuh pada Juli. Kini, perebutan Perim dan Mokha menambah dimensi baru dalam konflik tersebut.

Pertempuran tidak lagi hanya menentukan siapa yang menguasai wilayah Yaman. Ia juga menyentuh salah satu urat nadi perdagangan dan energi dunia. Di tengah ketidakpastian itu, sebuah pulau kecil di pintu masuk Laut Merah kini menjadi bagian penting dari pertarungan yang dampaknya bisa terasa jauh melampaui Yaman.***

Bagikan:

Iklan