klikwartaku.com
Beranda Internasional Masyarakat Ifugao Berpacu Menyelamatkan Sawah Terasering Berusia Ratusan Tahun

Masyarakat Ifugao Berpacu Menyelamatkan Sawah Terasering Berusia Ratusan Tahun

Perubahan iklim memperparah ancaman terhadap sawah terasering UNESCO di Batad, Filipina. Longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem menguji ketahanan masyarakat adat Ifugao menjaga warisan dunia. Foto: Tangkapan layar YouTube Rappler

KLIKWARTAKU — Saat matahari baru menyentuh lembah pegunungan Ifugao, suara gong dan lantunan doa adat menggema di Desa Batad. Di balik ritual sakral menjelang panen itu, tersimpan kecemasan yang semakin nyata. Sawah terasering yang selama berabad-abad menjadi simbol kecerdasan masyarakat adat kini menghadapi ancaman terbesar: perubahan iklim.

Di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, hamparan sawah berbentuk amfiteater yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO itu masih memancarkan keindahan. Padi lokal Tinawon tampak menguning di bawah embun pagi, namun panorama tersebut kini diselingi bekas longsoran tanah dan bongkahan batu besar yang memutus lanskap hijau yang selama ini menjadi kebanggaan warga.

Bagi masyarakat adat Ifugao, kerusakan itu bukan sekadar kehilangan lahan pertanian, melainkan ancaman terhadap identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Tetua adat Batad, Apu Penneng, mengingat bagaimana Topan Super Fung-wong pada November tahun lalu memicu longsor besar yang menewaskan dua warga dan menghancurkan jaringan irigasi kuno yang selama ratusan tahun menopang sistem pertanian tradisional.

Akibat bencana tersebut, sekitar 2,2 hektare sawah rusak dan sedikitnya 150 petani kehilangan sebagian sumber penghidupan mereka. “Ini adalah kerusakan terburuk yang pernah kami alami,” ujar Apu Penneng sambil menunjuk lereng bukit yang terbelah akibat longsor.

Fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi membuat masyarakat Batad hidup dalam ketidakpastian. Dalam kurun waktu belasan tahun terakhir, desa ini telah mengalami longsor berulang pada 2011, 2023, 2025, dan kembali diterjang bencana besar pada 2025.

Kini ancaman Super El Nino diperkirakan semakin meningkatkan suhu serta memicu pola hujan yang lebih tidak menentu. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada Agustus 2025 mengungkap sekitar 80 persen Situs Warisan Dunia UNESCO di seluruh dunia kini menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa situs-situs warisan di negara berpendapatan rendah dan menengah memperoleh dukungan konservasi paling minim, sehingga lebih rentan menghadapi gelombang panas, kekeringan panjang, hingga hujan ekstrem.

Kepala Gerakan Save the Ifugao Terraces Movement (SITMO), Marlon Martin, mengatakan perubahan iklim memperburuk kondisi sawah terasering yang sangat bergantung pada kestabilan kadar air di dalam tanah.

Saat musim kemarau berlangsung terlalu lama, tanah menjadi retak. Ketika hujan deras datang secara tiba-tiba, air langsung meresap melalui retakan tersebut dan mempercepat erosi yang berujung pada longsor. “Perubahan iklim benar-benar memperburuk situasi di lapangan,” katanya.

Pemerintah daerah memperkirakan biaya pemulihan kerusakan pascalongsor mencapai sekitar 500.000 dolar Amerika Serikat, atau setara sekitar Rp8,2 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.400 per dolar AS). Namun, keterbatasan anggaran membuat proses rehabilitasi berjalan lambat.

Selama menunggu bantuan pemerintah pusat, warga Batad bergotong royong melalui tradisi bachang, yakni kerja bakti sukarela memperbaiki saluran irigasi yang rusak agar sawah tetap dapat dialiri air.

Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan pangan dan uang tunai darurat kepada petani terdampak, tetapi dukungan pembangunan infrastruktur permanen diperkirakan baru tersedia pada tahun anggaran berikutnya.

Bagi Kepala Desa Batad, Romeo Heppog, sawah terasering bukan hanya aset ekonomi, melainkan jantung kehidupan masyarakat Ifugao. Setiap musim panen, masyarakat tetap menjalankan ritual Tanig sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus doa agar hasil panen tetap melimpah.

Dalam ritual tersebut, pendeta adat atau Mumbaki, Apu Buy-a Nadyug yang telah berusia 80 tahun, memimpin doa, mempersembahkan ayam sebagai simbol penghormatan kepada leluhur, kemudian membaca pertanda dari isi perut hewan kurban. Hasil pembacaan tahun ini membawa harapan. Menurut sang Mumbaki, musim panen kali ini akan menghasilkan panen yang melimpah.

Prosesi kemudian ditutup dengan dentuman gong yang menandai dimulainya panen. Suara alat musik tradisional itu sejenak menghapus kegelisahan warga atas ancaman perubahan iklim yang terus menghantui desa mereka.

Di bawah bayang-bayang Gunung Amuyao yang menjulang setinggi 2.702 meter, masyarakat Batad tetap berusaha mempertahankan warisan leluhur mereka. Meski menghadapi ancaman longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi, mereka memilih tetap menjaga sistem pertanian kuno yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Bagi Apu Penneng, optimisme menjadi modal terakhir yang dimiliki masyarakat adat Ifugao. “Kami akan melewati semua ini,” ujarnya sambil memandang hamparan sawah terasering yang selama berabad-abad menjadi lambang hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam.***

Bagikan:

Iklan