klikwartaku.com
Beranda Nasional Dua Sekolah di Karangasem Terancam Banjir dan Longsor, Pemerintah Didesak Bertindak Cepat

Dua Sekolah di Karangasem Terancam Banjir dan Longsor, Pemerintah Didesak Bertindak Cepat

Anggota Komisi X DPR RI, I Nyoman Parta saat kunjungan kerja ke dua sekolah di Kabupaten Karangasem, yaitu SMP Negeri 3 Manggis dan SMP Negeri 3 Bebandem

KLIKWARTAKU – Anggota Komisi X DPR RI, I Nyoman Parta, melakukan kunjungan kerja ke SMP Negeri 3 Manggis dan SMP Negeri 3 Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, untuk meninjau langsung kondisi sarana pendidikan yang terdampak bencana alam serta aktivitas industri di sekitar sekolah.

Dalam kunjungan tersebut, Parta menemukan sejumlah persoalan mendesak yang dinilai mengancam keselamatan siswa, guru, serta kelangsungan proses belajar mengajar.

Di SMP Negeri 3 Manggis, Parta mencatat kerusakan sekolah bukan semata akibat curah hujan tinggi, melainkan karena pendangkalan sungai di sekitar sekolah. Saat hujan turun, air sungai cepat meluap dan merendam halaman, ruang kelas, serta berbagai fasilitas pendidikan.

“Sekolah ini tenggelam, dan bukan sekali. Sarana prasarana seperti komputer dan buku ikut terendam,” ujar Parta di Karangasem.

Menurutnya, persoalan utama terletak pada sedimentasi sungai yang cukup parah sehingga banjir terjadi hampir setiap tahun.

“Pendangkalan sungainya sangat serius. Begitu hujan, air langsung naik,” tegasnya.

Parta menyatakan akan mengusulkan perbaikan fasilitas sekolah kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Selain itu, ia juga telah berkoordinasi dengan Komisi V DPR RI terkait percepatan pengerukan sungai.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Komisi V. Mudah-mudahan pengerukan sungai bisa dilakukan tahun depan,” katanya.

Sementara itu, di SMP Negeri 3 Bebandem, Parta menemukan ancaman berbeda. Secara fisik, bangunan sekolah masih layak, namun lokasinya berdekatan dengan aktivitas galian C yang menggali tebing cukup dalam sehingga memicu potensi longsor dan pergeseran tanah.

“Galian C itu sudah sampai menarik pura di sebelahnya hingga runtuh. Saya khawatir fasilitas sekolah juga ikut terdampak,” ujarnya.

Menurut Parta, aktivitas tersebut juga berisiko terhadap lapangan sekolah jika eksploitasi tanah terus berlanjut. Ia mengusulkan dua opsi, yakni penghentian aktivitas galian C di sekitar sekolah atau relokasi sekolah ke lokasi yang lebih aman.

“Menurut saya, lebih baik aktivitas galian dihentikan. Kalau terus digali, satu sekolah bisa terdampak. Ini sudah tidak aman,” tegasnya.

Parta menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk memastikan keselamatan siswa, terutama menjelang musim hujan. Ia berharap proses belajar mengajar tidak terganggu dan sekolah dapat kembali beroperasi secara normal tanpa ancaman banjir maupun longsor.

“Kami berharap sekolah tidak sampai libur. Mudah-mudahan tidak ada hujan lagi sebelum pengerukan dilakukan,” pungkasnya.***

Bagikan:

Iklan