klikwartaku.com
Beranda Internasional Ibu di Kanada Gugat OpenAI Setelah Putrinya Bunuh Diri Diduga Dipengaruhi ChatGPT

Ibu di Kanada Gugat OpenAI Setelah Putrinya Bunuh Diri Diduga Dipengaruhi ChatGPT

Seorang ibu di Kanada menggugat OpenAI setelah putrinya diduga bunuh diri usai berulang kali berdiskusi soal depresi dan menyakiti diri dengan ChatGPT. Gugatan menuding AI gagal melakukan intervensi. Foto: Tangkapan layar YouTube Global News/kolase klikwartaku

KLIKWARTAKU — Seorang ibu di Kanada menggugat perusahaan kecerdasan buatan OpenAI setelah putrinya meninggal dunia akibat bunuh diri yang diduga berkaitan dengan interaksi intens bersama ChatGPT.

Gugatan tersebut diajukan oleh Kristie Carrier, ibu dari Alice Carrier, perempuan berusia 24 tahun asal Montreal yang ditemukan meninggal pada 2 Juli 2025. Dalam dokumen gugatan yang didaftarkan di pengadilan California, OpenAI dituduh gagal mengambil tindakan meski chatbot mereka mendeteksi berbagai percakapan terkait keinginan bunuh diri.

Menurut gugatan, Alice menggunakan ChatGPT awalnya untuk membantu memperbaiki komputer dan konsol game. Namun, penggunaan itu berkembang menjadi tempat curhat terkait kesepian, tekanan emosional, hingga keinginan mengakhiri hidup.

Kristie Carrier mengaku tidak mengetahui kondisi mental putrinya memburuk karena di kehidupan sehari-hari Alice tampak baik-baik saja. Ia masih bermain gitar, menghabiskan waktu bersama anjing peliharaannya, dan aktif melamar pekerjaan baru. “Segalanya tampak berjalan baik dan kondisinya terlihat membaik,” kata Kristie Carrier.

Namun di balik itu, Alice disebut rutin berbicara dengan ChatGPT mengenai depresi dan bunuh diri. Gugatan menyebut terdapat lebih dari 40 percakapan yang membahas cara mengakhiri hidup.

Dalam salah satu percakapan yang dimasukkan ke dokumen pengadilan, chatbot disebut menyarankan Alice menghubungi layanan krisis. Namun setelah Alice menolak, ChatGPT justru disebut tidak lagi mendorong bantuan profesional dan malah melanjutkan percakapan emosional.

Beberapa jam sebelum meninggal, chatbot bahkan disebut menulis kalimat yang dianggap memperkuat kondisi emosional Alice. “Aku bersamamu,” demikian isi pesan ChatGPT yang dicantumkan dalam gugatan.

OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, kini menghadapi gugatan kematian akibat kelalaian yang diajukan oleh Tech Justice Law, Social Media Victims Law Center, dan firma hukum Susman Godfrey.

Dalam gugatan setebal 44 halaman itu, OpenAI dituduh sengaja merancang model GPT-4o agar lebih “ramah” dan menyerupai manusia demi meningkatkan keterlibatan pengguna. Pengacara keluarga Carrier menilai pendekatan tersebut membuat pengguna rentan membangun ketergantungan emosional terhadap chatbot.

“OpenAI sengaja menciptakan rasa empati palsu yang membuat pengguna mempercayai chatbot secara tidak wajar,” demikian isi gugatan tersebut.

OpenAI sebelumnya memang mengakui adanya masalah pada model GPT-4o. Pada April 2025, perusahaan mengumumkan telah menghapus pembaruan yang membuat chatbot terlalu “menjilat” atau terlalu menyetujui pengguna.

Setelah kematian Alice, OpenAI juga merilis pembaruan keamanan baru. Perusahaan mengklaim model GPT-5 mampu mengurangi “jawaban yang tidak diinginkan” hingga 52 persen dan telah berkonsultasi dengan 170 pakar kesehatan mental untuk meningkatkan deteksi sinyal emosional pengguna.

Juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, menyebut kasus tersebut sebagai situasi yang memilukan. “Kami berempati kepada semua pihak yang terdampak. Sistem pengamanan kami terus diperbarui untuk mengidentifikasi keadaan darurat dan mengarahkan pengguna ke bantuan nyata,” katanya.

Kasus Alice Carrier bukan satu-satunya gugatan yang dihadapi OpenAI. Pada Januari 2026, keluarga Austin Gordon dari Colorado juga menggugat perusahaan tersebut setelah ChatGPT diduga menjadi “pelatih bunuh diri” sebelum korban meninggal dunia.

Sementara itu, pada April lalu keluarga korban penembakan massal di British Columbia, Kanada, turut menggugat OpenAI setelah pelaku diketahui berinteraksi intens dengan chatbot sebelum melakukan serangan yang menewaskan sembilan orang.

Gelombang gugatan ini memicu perhatian pemerintah di berbagai negara. Kanada kini tengah membahas rancangan undang-undang keamanan digital baru yang akan mewajibkan perusahaan AI lebih transparan dalam menangani pengguna berisiko tinggi.

Di Amerika Serikat, negara bagian Washington juga mengesahkan aturan yang mewajibkan chatbot AI mengingatkan pengguna setiap tiga jam bahwa mereka bukan manusia. Aturan tersebut akan mulai berlaku pada Januari 2027.

Sejumlah penelitian terbaru turut memperkuat kekhawatiran soal dampak AI terhadap kesehatan mental. Studi gabungan Brown University School of Public Health, Harvard Medical School, dan RAND menemukan satu dari delapan remaja serta dewasa muda berusia 18 hingga 21 tahun menggunakan chatbot AI untuk mencari bantuan kesehatan mental.

Penelitian lain dari West Texas A&M University menunjukkan hampir 20 persen remaja mulai mengalami ketergantungan terhadap AI, terutama mereka yang sebelumnya telah memiliki gangguan kesehatan mental.

Kristie Carrier berharap gugatan ini dapat menjadi titik perubahan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. “Kehidupan Alice sangat berarti. Saya tidak ingin ada keluarga lain mengalami hal yang sama tanpa ada tindakan untuk menghentikannya,” ujarnya.***

Bagikan:

Iklan