klikwartaku.com
Beranda Internasional AS dan Denmark Capai Kesepakatan Keamanan Greenland, Trump Tak Jadi Aneksasi

AS dan Denmark Capai Kesepakatan Keamanan Greenland, Trump Tak Jadi Aneksasi

AS dan Denmark mencapai kesepakatan keamanan Greenland setelah berbulan-bulan Trump mengancam mengambil alih pulau itu. Kedaulatan Denmark tetap diakui. Foto: Tangkapan layar YouTube ABC News (Australia)

KLIKWARTAKU — Setelah berbulan-bulan diwarnai ancaman pengambilalihan, Amerika Serikat dan Denmark akhirnya mencapai kesepakatan mengenai keamanan Greenland. Presiden Donald Trump menyebut Washington memperoleh kendali permanen atas keamanan wilayah Arktik itu, sementara Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan mereka tetap utuh.

Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui Truth Social pada Jumat, 18 September 2026. Ia mengatakan perjanjian itu memberikan Amerika Serikat kemampuan permanen untuk melakukan apa yang diperlukan guna menjaga dan mempertahankan keamanan Greenland.

Namun, isi lengkap kesepakatan belum dipublikasikan. Pemerintah Denmark dan Greenland juga belum menjelaskan secara rinci seberapa besar kewenangan baru yang akan diberikan kepada Washington.

Kesepakatan tersebut rencananya ditandatangani di New York pada pekan depan, bersamaan dengan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setelah penandatanganan, perjanjian masih harus melalui prosedur parlemen yang diperlukan sebelum berlaku.

Trump menyebut kesepakatan itu sebagai penyelesaian atas berbagai kekhawatiran keamanan Amerika Serikat di Greenland. Menurut dia, Washington akan memiliki akses permanen untuk pertahanan dan keamanan wilayah tersebut.

Trump juga mengatakan negara-negara yang dianggap sebagai lawan Amerika Serikat tidak akan dapat membangun pangkalan militer atau memiliki kehadiran militer di Greenland tanpa persetujuan tertulis Washington. Selain itu, investasi asing di sektor-sektor yang dianggap sensitif juga akan dibatasi.

Sumber Departemen Luar Negeri AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kesepakatan mencakup hak akses, pangkalan, dan penerbangan militer Amerika Serikat secara permanen. Washington juga disebut dapat membangun fasilitas militer tambahan tanpa memerlukan persetujuan baru dari Denmark atau Greenland.

Kesepakatan tersebut, menurut sumber itu, akan tetap berlaku jika suatu hari Greenland merdeka dari Denmark. Meski demikian, rincian tersebut belum sepenuhnya dapat diverifikasi karena teks resmi kesepakatan belum diterbitkan.

Pemerintah Denmark mengambil nada yang jauh lebih hati-hati dibandingkan Trump. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan dirinya senang karena terdapat prospek tercapainya kesepakatan yang baik bagi Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat.

Menurut Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, kesepakatan itu memperkuat keamanan bersama di kawasan Arktik dan Atlantik Utara sekaligus mengakui kedaulatan dan integritas wilayah Kerajaan Denmark.

Hak rakyat Greenland untuk menentukan masa depannya sendiri juga tetap diakui. “Kami memasuki sebuah kesepakatan yang menjamin dan memperkuat keamanan Greenland, Kerajaan Denmark, Amerika Serikat, dan aliansi Barat,” kata Nielsen.

Media internasional melaporkan Denmark dan Greenland pada Sabtu menegaskan bahwa kesepakatan dengan Washington tidak akan mengorbankan kedaulatan Greenland. Dengan demikian, pengumuman Trump mengenai “kendali permanen” tidak berarti Amerika Serikat mengambil alih Greenland sebagai wilayahnya.

Kesepakatan tersebut menandai perubahan dramatis dalam perselisihan yang sempat mengganggu hubungan Amerika Serikat dengan Denmark dan sekutu NATO lainnya. Trump selama berbulan-bulan menyatakan Amerika Serikat perlu menguasai Greenland. Ia menyebut lokasi strategis pulau tersebut di Arktik, ancaman Rusia dan Cina, serta kekayaan mineral sebagai alasan utama.

Pada awal tahun ini, ancaman Trump untuk mengambil Greenland bahkan dengan kekuatan militer memicu kekhawatiran di Eropa. Denmark dan sejumlah negara NATO kemudian meningkatkan aktivitas militer di kawasan tersebut.

Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Pulau tersebut tidak menjadi bagian dari Amerika Serikat dan kedaulatannya tetap berada dalam Kerajaan Denmark. Kini, kesepakatan baru memberikan Washington ruang lebih besar untuk memperkuat kehadiran militernya tanpa mengubah status teritorial Greenland.

Amerika Serikat sendiri telah memiliki fasilitas militer di Greenland. Pangkalan Pituffik di bagian barat laut pulau tersebut menjadi salah satu titik strategis sistem pertahanan Amerika di kawasan Arktik. Salah satu fokus utama kesepakatan adalah mencegah negara-negara di luar NATO memperoleh pijakan strategis di Greenland.

Sumber pemerintah AS menyebut perjanjian tersebut melarang negara non-NATO membangun pangkalan di Greenland. Investasi dari negara seperti Rusia dan Cina di sektor-sektor sensitif juga akan dibatasi.

Langkah tersebut berkaitan dengan meningkatnya persaingan geopolitik di kawasan Arktik. Amerika Serikat melihat Greenland sebagai wilayah strategis untuk sistem pertahanan dan pemantauan aktivitas militer di kawasan utara.

Trump juga mengaitkan Greenland dengan rencana sistem pertahanan rudal “Golden Dome” yang dirancang untuk melindungi Amerika Serikat dari ancaman rudal. Di sisi lain, Greenland memiliki cadangan mineral tanah jarang yang besar. Mineral tersebut penting bagi berbagai industri teknologi, termasuk kendaraan listrik dan perangkat elektronik.

Meskipun pemerintah Denmark dan Greenland menyambut kesepakatan tersebut, respons di Greenland belum sepenuhnya seragam. Anggota parlemen Greenland Naaja Nathanielsen menyebut kabar kesepakatan sebagai sesuatu yang telah lama dinantikan. Namun, ia menekankan bahwa hak rakyat Greenland untuk menentukan masa depan harus tetap dipertahankan.

Mantan politikus Greenland Aaja Chemnitz juga mengatakan masih skeptis sampai kesepakatan tersebut benar-benar difinalisasi. Kekhawatiran itu muncul karena teks perjanjian belum tersedia untuk publik. Belum jelas pula bagaimana ketentuan baru tersebut akan diterapkan dan sejauh mana kehadiran militer Amerika Serikat akan diperluas.

Selain itu, masih terdapat pertanyaan mengenai perbedaan kesepakatan baru dengan perjanjian pertahanan Amerika Serikat-Denmark 1951 yang sudah memberikan Washington keleluasaan besar untuk menempatkan pasukan di Greenland.

NATO menyambut kesepakatan tersebut dan menyatakan perjanjian itu dapat membantu memperkuat keamanan, stabilitas, dan kerja sama di kawasan yang dinilai penting bagi aliansi.

Untuk sementara, Greenland tetap berada di bawah kedaulatan Denmark. Yang berubah adalah ruang keamanan dan militer Amerika Serikat di pulau itu—sebuah kompromi yang memungkinkan Trump mengklaim kemenangan diplomatik, tanpa terjadinya pengambilalihan wilayah yang selama ini ia ancam.***

Bagikan:

Iklan