klikwartaku.com
Beranda Internasional Spesies Kucing Liar Baru Ditemukan di Bolivia, Selama Ini Dikira Kucing Biasa

Spesies Kucing Liar Baru Ditemukan di Bolivia, Selama Ini Dikira Kucing Biasa

Ilmuwan menemukan spesies kucing liar baru di Bolivia, Leopardus tilcayo. Satwa yang dijuluki Tigrino awalnya dikira anak kucing domestik. Foto: Tangkapan layar YouTube 9NEWS

KLIKWARTAKU — Seekor kucing berbintik yang ditemukan di hutan Bolivia selama bertahun-tahun tidak menarik perhatian khusus. Ukurannya hanya sebesar kucing rumahan, dengan corak tubuh yang sekilas mirip sejumlah kucing liar lain di Amerika Selatan.

Namun, penelitian DNA mengungkap identitas berbeda. Satwa yang dijuluki Tigrino itu ternyata merupakan anggota spesies yang sebelumnya belum dikenali secara ilmiah, yakni Leopardus tilcayo.

Penemuan tersebut diumumkan melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology. Para peneliti tidak hanya menemukan spesies baru, tetapi juga memperoleh petunjuk bahwa kelompok kucing liar kecil yang dikenal sebagai tiger cats mungkin memiliki lima spesies, bukan tiga seperti yang selama ini dipahami.

“Ini hasil yang luar biasa karena kita memiliki spesies baru untuk dunia, yaitu Leopardus tilcayo,” kata Paola Nogales-Ascarrunz dari Universidad Mayor de San Andrés di La Paz, Bolivia.

Yang membuat penemuan itu menarik, para ilmuwan tidak perlu menjelajah pulau terpencil, dasar laut, atau kawasan vulkanik untuk menemukan spesies baru. “Masih ada spesies baru yang menunggu ditemukan. Kita tidak harus pergi ke gunung berapi, pulau, atau laut dalam,” ujar Nogales-Ascarrunz.

Jalur menuju penemuan spesies baru itu bermula dari seekor kucing berusia 10 tahun yang kini tinggal di sebuah pusat penyelamatan satwa di Bolivia. Tigrino ditemukan di hutan oleh seorang warga yang semula mengira hewan tersebut adalah anak kucing domestik. Setelah tumbuh besar, perilakunya menunjukkan bahwa satwa itu bukan kucing rumahan.

Nogales-Ascarrunz melihat Tigrino ketika menjadi sukarelawan di pusat penyelamatan tersebut. Ia memperhatikan bentuk dan pola tubuhnya yang berbeda dari kucing-kucing liar yang telah dikenal.

Kecurigaan itu semakin kuat karena sebelumnya terdapat laporan mengenai kemunculan kucing liar berukuran kecil di hutan lebat kawasan Yungas, Bolivia. Namun, laporan tersebut belum diteliti secara mendalam.

Para peneliti kemudian mengumpulkan bukti genetik dari hewan yang masih hidup maupun spesimen yang tersimpan di museum. Mereka menelusuri hubungan kekerabatan kelompok tiger cats untuk mengetahui apakah perbedaan penampilan yang selama ini dianggap variasi dalam satu spesies ternyata menunjukkan batas spesies yang berbeda.

Hasilnya mengejutkan. “Begitu sedikit catatan atau foto, dan tidak ada individu di museum. Jadi hewan ini bersembunyi karena tidak ada yang mencarinya,” kata Eduardo Eizirik, ahli genetika konservasi dari Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul, Brasil.

Tiger cats merupakan kelompok kucing liar berukuran kecil yang hidup di Amerika Tengah dan Selatan. Persebarannya mencakup wilayah dari Kosta Rika hingga Bolivia dan Argentina. Satwa-satwa tersebut memiliki pola bintik dan belang yang sangat mirip. Kemiripan itu membuat identifikasi berdasarkan penampilan menjadi sulit, bahkan bagi para ahli.

Penelitian terbaru menunjukkan kompleksitas tersebut lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Analisis genetik mengindikasikan terdapat lima spesies tiger cats, termasuk Leopardus tilcayo yang berasal dari Bolivia.

Andrew Kitchener, pakar mamalia dari National Museums Scotland yang tidak terlibat dalam penelitian, menggambarkan kelompok kucing tersebut sebagai persoalan taksonomi yang sangat rumit.

Menurut dia, kesamaan penampilan serta sedikitnya spesimen yang tersedia di museum membuat para ilmuwan kesulitan membedakan satu spesies dari spesies lainnya. Analisis genetika kemudian memberikan petunjuk baru.

Penemuan Leopardus tilcayo sekaligus menghadirkan persoalan baru. Hingga penelitian tersebut dilakukan, hanya satu individu hidup yang telah dikonfirmasi sebagai anggota spesies tersebut, yakni Tigrino. Para ilmuwan menduga masih terdapat individu lain di alam liar. Namun, keberadaan mereka belum dikonfirmasi secara ilmiah.

Kondisi tersebut membuat status konservasi Leopardus tilcayo menjadi perhatian. Spesies itu belum masuk dalam penilaian konservasi sebelumnya karena identitasnya memang belum diketahui. Peneliti Caroline Sartor dari Wildlife Conservation Research Unit, University of Oxford, mengatakan identifikasi spesies merupakan tahap penting dalam upaya perlindungan satwa.

Menurut dia, satwa tidak mungkin dilindungi secara efektif jika manusia belum mengetahui dengan jelas spesies tersebut, termasuk habitat tempat mereka hidup. “Penemuan ini menunjukkan betapa banyak keanekaragaman hayati yang masih belum terungkap di wilayah dunia yang relatif kurang diteliti,” kata Sartor.

Kelompok tiger cats secara umum menghadapi ancaman deforestasi, kehilangan habitat, dan perburuan ilegal. Para peneliti khawatir Leopardus tilcayo juga menghadapi tekanan serupa. Ironisnya, ancaman tersebut dapat berlangsung bahkan ketika keberadaan suatu spesies belum diketahui secara luas.

Hutan Yungas di Bolivia menjadi salah satu kawasan penting dalam teka-teki tersebut. Jika masih terdapat populasi Leopardus tilcayo di alam, para ilmuwan perlu mengetahui wilayah persebaran, jumlah populasi, pola reproduksi, serta ancaman yang dihadapi sebelum menentukan langkah konservasi yang tepat. Penemuan ini juga berpotensi mengubah pemahaman mengenai keluarga kucing secara keseluruhan.

Kucing domestik dan seluruh kucing liar termasuk dalam keluarga biologis Felidae. Sebelumnya, terdapat 41 spesies kucing yang secara resmi diakui. Temuan terbaru mengenai Leopardus tilcayo dan kemungkinan bertambahnya jumlah spesies tiger cats dapat membuat jumlah tersebut mencapai sedikitnya 44 spesies atau lebih, tergantung hasil peninjauan taksonomi lebih lanjut.

Bagi para peneliti, kisah Tigrino menjadi pengingat bahwa penemuan spesies baru tidak selalu membutuhkan ekspedisi ke tempat yang belum pernah dijamah manusia. Kadang-kadang, jawabannya sudah berada di depan mata—seekor kucing kecil yang selama bertahun-tahun dianggap biasa.***

Bagikan:

Iklan