klikwartaku.com
Beranda Pro Kalbar Kayong Utara Tim Gabungan Evakuasi Tiga Orangutan Terluka Akibat Karhutla di Kayong Utara

Tim Gabungan Evakuasi Tiga Orangutan Terluka Akibat Karhutla di Kayong Utara

Dok. Kemenhut

KLIKWARTAKU — Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan operasi penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sekaligus memperkuat penyelamatan satwa liar terdampak.

Melalui koordinasi ketat dengan KSDA Wilayah 1, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, serta partisipasi aktif masyarakat, operasi penyelamatan (rescue) terhadap tiga individu orangutan di Kabupaten Kayong Utara berhasil dilakukan.

Keberhasilan ini merupakan wujud nyata kolaborasi solid antara Tim WRU dan BKO BKSDA Kalbar, Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, serta Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Padu Banjar dan Penjalaan.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kehutanan, pada Kamis 17 September 2026, operasi pertama berlokasi di Dusun Sinar Timur, Desa Penjalaan. Berkat laporan warga bernama Bapak Ade pada 10 September 2026, tim bergerak cepat pada pagi hari 12 September 2026. Tim berhasil membius dan menyelamatkan seekor induk betina berusia sekitar 20 tahun bernama “Mama Penja”, bersama anak jantannya yang berusia 1 tahun, “Penja”.

Berdasarkan pemeriksaan medis di lapangan, dokter YIARI menemukan luka bakar pada tangan dan kaki Mama Penja, yang langsung ditangani dengan pemberian obat, antibiotik, dan sampel medis sebelum dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi YIARI.

Tepat setelah operasi di Desa Penjalaan rampung, tim langsung meluncur ke lokasi kedua di Desa Padu Banjar menyusul laporan LPHD sehari sebelumnya mengenai orangutan jantan dewasa yang mendekati permukiman akibat hutan sekitar yang terbakar.

Pada pukul 12.59 WIB, tim sukses mengevakuasi orangutan jantan berusia sekitar 15 tahun tersebut. Melalui pemindaian microchip, satwa ini dikenali sebagai “Kumbang”, individu yang sebelumnya pernah diselamatkan pada Februari 2022. Pemeriksaan awal menunjukkan Kumbang dalam kondisi liar dan relatif sehat, meski ditemukan benjolan bekas peluru senapan angin serta gejala batuk akibat paparan pekatnya asap Karhutla.

Saat ini, ketiga orangutan tersebut telah diamankan di Pusat Rehabilitasi YIARI untuk observasi intensif. Pelepasliaran ke habitat aslinya terpaksa ditunda hingga cuaca membaik dan kawasan hutan benar-benar steril dari titik api.

Di sisi lain, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional kembali menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan pemantauan hingga Rabu malam 16 September 2026, terdeteksi 479 hotspot, turun 558 titik dibandingkan hari sebelumnya. Meskipun demikian, Kementerian Kehutanan dan tim gabungan tetap menyiagakan posko dan tim medis 24 jam.

BKSDA Kalbar bersama YIARI mencatat total 23 orangutan telah dievakuasi, serta satwa liar lainnya meliputi 9 trenggiling, 3 kukang, 1 bekantan, 1 musang, dan 1 lutung kelabu.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan evakuasi mandiri. Jika menemukan satwa liar terdampak Karhutla, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas dengan memberikan informasi lokasi yang jelas, kondisi satwa, serta mendokumentasikannya jika aman.***

Bagikan:

Iklan