klikwartaku.com
Beranda Internasional Istri Akademisi AS Minta Trump Desak Xi Jinping Bebaskan Suaminya yang Dipenjara di Cina

Istri Akademisi AS Minta Trump Desak Xi Jinping Bebaskan Suaminya yang Dipenjara di Cina

Istri akademisi AS U Min Zin meminta Donald Trump membahas penahanan suaminya dengan Xi Jinping saat Presiden Cina itu berkunjung ke Washington. Foto: Tangkapan layar YouTube House Foreign Affairs Committee Republicans

KLIKWARTAKU — Sylvia Zin membawa satu permintaan ke Capitol Hill menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping: ia ingin suaminya, akademisi asal Amerika Serikat U Min Zin, dibebaskan dari penjara Cina.

Min Zin ditahan sejak 3 Juni setelah melakukan perjalanan ke Kunming, Cina, untuk menghadiri konferensi akademik. Otoritas Cina menuduhnya melakukan spionase dan membahayakan keamanan nasional.

Sylvia menyampaikan permintaan itu dalam sidang Komite Urusan Luar Negeri DPR Amerika Serikat pada Rabu. Ia berharap Trump mengangkat kasus suaminya ketika Xi melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington pada pekan depan.

“Saya sangat berharap Presiden Trump akan mengangkat kasus suami saya kepada Presiden Xi Jinping dalam pertemuan puncak pekan depan,” kata Sylvia dalam kesaksiannya.

Xi dijadwalkan tiba di Washington pada Rabu untuk kunjungan kenegaraan. Pertemuan tersebut berlangsung setelah Xi menerima kunjungan Trump ke Beijing pada Mei. Menjelang pertemuan dua pemimpin negara itu, keluarga sejumlah warga Amerika yang ditahan di Cina datang ke Washington untuk meminta pemerintah Amerika memperjuangkan pembebasan mereka.

Sylvia yang kini tinggal di Thailand mengatakan dirinya belum dapat berbicara langsung dengan suaminya sejak Min Zin ditahan. Ia mengatakan keluarga setiap bulan menunggu kunjungan konsuler Amerika ke penjara. Kunjungan tersebut menjadi satu-satunya sumber kepastian bahwa suaminya masih hidup.

“Setiap bulan, kami menunggu dengan cemas kunjungan konsuler karena kunjungan itu meyakinkan kami bahwa dia masih hidup,” ujar Sylvia.

Menurut informasi yang diterimanya dari pejabat Amerika, Min Zin menjalani interogasi hingga enam jam setiap hari ketika pertama kali masuk tahanan. “Saya berusaha kuat untuk putri kami, tetapi saya terus bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja dan bagaimana cara membawanya pulang kepada kami,” kata Sylvia.

Min Zin merupakan mantan aktivis mahasiswa dalam gerakan prodemokrasi Myanmar 1988. Ia kemudian menjadi direktur Myanmar Institute for Strategic and Policy Studies (ISP-Myanmar), lembaga kajian yang meneliti berbagai persoalan strategis di Myanmar, termasuk kepentingan, hubungan, dan pengaruh regional Cina.

Perjalanan akademiknya ke Kunming untuk menghadiri konferensi berujung pada penahanan yang kini menjadi perhatian pemerintah Amerika. Kasus Min Zin tidak berdiri sendiri. Amerika Serikat pada bulan lalu menyatakan bahwa dua warga negaranya, yakni U Min Zin dan seismolog Chen Youlin, merupakan warga Amerika yang “wrongfully detained” atau ditahan secara tidak semestinya di Cina.

Status tersebut memungkinkan kasus mereka dialihkan ke kantor Special Envoy for Hostage Affairs. Penetapan itu juga meningkatkan perhatian pemerintah Amerika dan membuka peluang bagi pemerintah untuk mengerahkan sumber daya lebih besar dalam upaya pembebasan mereka.

Chen, seorang seismolog Amerika yang meneliti serta memantau uji coba nuklir, telah ditahan di Cina selama sekitar dua tahun. Sylvia mengatakan ia berharap Trump juga dapat membantu pembebasan Chen.

“Mengetahui rekam jejak historis presiden dalam membawa pulang warga Amerika yang ditahan secara tidak semestinya membuat saya yakin bahwa dia juga dapat mengamankan pembebasan cepat Min Zin dan warga lain yang ditahan secara tidak semestinya,” ujarnya.

Ketua Subkomite Asia Timur dan Pasifik DPR AS, Young Kim, membuka sidang dengan peringatan kepada warga Amerika yang bepergian ke Cina. “Jika Anda bepergian ke Cina, Beijing dapat menyandera Anda sebagai alat tawar dalam negosiasi diplomatik,” kata Kim.

Dalam kasus Min Zin, Kim mengatakan penahanan tersebut menunjukkan pesan yang ingin disampaikan Beijing kepada pihak-pihak yang penelitiannya dianggap mengganggu kepentingan Cina. Kim juga mengaitkan waktu penahanan Min Zin dengan rencana pertemuan Trump dan Xi.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian Kim mengenai motif pemerintah Cina, sementara proses hukum terhadap Min Zin masih menjadi persoalan antara kedua negara. Kasus warga Amerika yang ditahan di Cina turut membawa keluarga Jimmy Lai ke Capitol Hill. Putra taipan media Hong Kong tersebut meminta Trump membantu membebaskan ayahnya yang masih berada dalam tahanan.

Trump sebelumnya telah mengangkat kasus Jimmy Lai dalam pembicaraannya dengan Xi. Saat ditanya mengenai persoalan tersebut, Trump mengatakan Xi menyebut kasus Lai sebagai persoalan yang “sulit”.

Gedung Putih menyatakan pembebasan warga Amerika yang dianggap ditahan secara tidak semestinya tetap menjadi perhatian utama presiden.

“Menuntaskan penahanan warga negara Amerika yang dilakukan secara tidak semestinya selalu menjadi prioritas utama presiden,” kata seorang pejabat senior Gedung Putih kepada BBC pada Kamis. Pejabat tersebut tidak disebutkan namanya.

Pertemuan Trump dan Xi di Washington kini menjadi momen yang ditunggu keluarga para tahanan Amerika. Bagi Sylvia Zin, agenda diplomatik dua pemimpin negara itu bukan sekadar pertemuan bilateral, melainkan kesempatan untuk mendapatkan kembali suaminya.***

Bagikan:

Iklan