Bursa Saham Terbesar India Buka IPO Jumbo Rp42 Triliun Setelah 10 Tahun Tertunda
KLIKWARTAKU — Setelah menunggu hampir satu dekade, National Stock Exchange (NSE), bursa saham terbesar di India, akhirnya membuka penjualan saham kepada publik. Aksi korporasi jumbo ini berpotensi menghimpun hingga 225,69 miliar rupee atau sekitar Rp42,3 triliun.
Penawaran saham NSE menjadi salah satu penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) terbesar dalam sejarah pasar modal India. Nilainya hanya berada di bawah pencatatan saham unit India milik Hyundai pada 2024.
Namun, IPO ini hadir ketika pasar saham India menghadapi sejumlah tekanan. Harga minyak yang meningkat, pelemahan rupee, serta aksi jual investor asing telah menekan pergerakan saham di bursa India. Indeks Nifty 50, yang menjadi tolok ukur utama NSE dan berisi saham 50 perusahaan besar India, bahkan telah turun lebih dari 11 persen sepanjang tahun ini.
Tekanan pasar tersebut ikut memengaruhi skala IPO NSE. Pekan lalu, jumlah saham yang ditawarkan dipangkas sekitar 15 persen setelah pemegang saham lama memilih melepas porsi kepemilikan yang lebih kecil, yang diperkirakan berkaitan dengan valuasi NSE yang berada di bawah ekspektasi sebelumnya.
Saham NSE ditawarkan pada kisaran 1.700 hingga 1.785 rupee per lembar, atau sekitar Rp319 ribu hingga Rp335 ribu dengan asumsi kurs yang sama.
Yang dijual bukan saham baru yang diterbitkan NSE. Penawaran tersebut berasal dari pemegang saham lama, antara lain State Bank of India, perusahaan asuransi, dan sejumlah dana investasi. Karena itu, NSE sendiri tidak akan menerima dana hasil penjualan saham tersebut.
Bagi investor, IPO NSE menawarkan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan industri pasar modal India yang berkembang pesat. Gaurav Dua dari Standard Chartered Securities mengatakan kepada BBC bahwa pencatatan NSE merupakan salah satu IPO besar yang akan segera diikuti penawaran saham jumbo lainnya, yakni Jio Platforms.
Menurut dia, masuknya dua IPO berukuran besar dalam waktu berdekatan berpotensi menyerap dana investor dalam jangka pendek. Uang yang mengalir ke saham baru tersebut bisa mengurangi dana yang biasanya digunakan untuk membeli saham yang sudah diperdagangkan di pasar.
Di sisi lain, kehadiran NSE dan rencana IPO Jio Platforms berpotensi menghidupkan kembali pasar IPO India setelah paruh pertama 2026 berlangsung lebih lambat.
Volatilitas pasar dan ketegangan geopolitik sebelumnya membuat sejumlah perusahaan menunda rencana pencatatan saham. Analis memperkirakan sejumlah IPO besar dapat membuat total dana yang dihimpun melalui pasar perdana India tahun ini melampaui capaian tahun sebelumnya.
Perjalanan NSE menuju bursa saham publik bukan perkara singkat. Operator bursa tersebut pertama kali mengajukan persetujuan untuk melantai pada 2016. Rencana itu kemudian tertunda akibat kontroversi terkait dugaan manipulasi pasar dan persoalan tata kelola.
Sejumlah pejabat senior NSE kala itu dituding memberikan akses lebih cepat kepada broker tertentu terhadap sistem perdagangan bursa. Praktik tersebut dikhawatirkan memberikan keuntungan yang tidak adil kepada pihak tertentu. Kini, satu dekade setelah rencana awal tersebut, NSE kembali berada di hadapan investor publik.
Peluang pertumbuhan pasar modal India menjadi salah satu alasan yang membuat IPO tersebut menarik perhatian. Semakin banyak rumah tangga India mulai mengalihkan sebagian investasi dari aset tradisional seperti emas dan properti ke pasar saham. Pertumbuhan aplikasi perdagangan saham turut membuat akses terhadap pasar modal semakin mudah.
Broker ICICI Direct menilai NSE memiliki posisi kuat untuk memanfaatkan pertumbuhan jangka panjang pasar modal India. Posisi dominannya, profitabilitas, dan investasi pada teknologi disebut menjadi faktor yang dapat menopang ketahanan bisnis perusahaan.
Ukuran kapitalisasi pasar NSE juga berpotensi menarik berbagai jenis investor, mulai dari investor aktif yang memilih saham secara individual hingga dana pasif yang mengikuti indeks pasar.
Religare Broking dalam laporannya menyebut pertumbuhan pasar modal India ditopang oleh meningkatnya jumlah investor, kenaikan kapitalisasi pasar, pertumbuhan aset reksa dana, serta semakin luasnya penggunaan produk investasi pasif. Di balik prospek tersebut, NSE juga menghadapi risiko dari perubahan aturan dan perilaku investor.
NSE merupakan bursa derivatif terbesar di dunia jika diukur berdasarkan jumlah kontrak yang diperdagangkan. Produk derivatif memungkinkan investor mengambil posisi terhadap pergerakan saham, indeks, atau aset lain tanpa harus memiliki aset tersebut secara langsung.
Regulator India belakangan memperketat aturan perdagangan derivatif karena tingginya kerugian yang dialami investor individu. Jika aturan semakin diperketat atau aktivitas spekulatif menurun, volume transaksi dapat ikut berkurang. Kondisi itu berpotensi menekan pendapatan NSE.
IPO NSE dengan demikian berlangsung dalam situasi yang berlapis: di satu sisi mencerminkan besarnya pertumbuhan pasar modal India dan meningkatnya partisipasi investor, tetapi di sisi lain berlangsung ketika indeks utama melemah, investor asing menarik dana, serta regulator memperketat pengawasan perdagangan berisiko.
Bagi pasar India, pencatatan NSE bukan sekadar penjualan saham perdana. Setelah penantian selama 10 tahun, IPO tersebut menjadi ujian baru bagi daya tarik pasar modal India di tengah perubahan perilaku investor dan kondisi ekonomi global.***











