Data Desil Jangan Hambat Mahasiswa Lanjut Pendidikan
KLIKWARTAKU – Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya menyoroti masih adanya mahasiswa yang kehilangan akses bantuan pendidikan karena tidak masuk dalam kriteria desil penerima bantuan. Ia mendorong pemerintah melakukan verifikasi berlapis dan menyiapkan skema alternatif agar persoalan data tidak menghambat mahasiswa melanjutkan pendidikan.
Atalia menerima sejumlah keluhan masyarakat, termasuk mahasiswa, terkait kesulitan memperoleh bantuan pemerintah berupa beasiswa pendidikan.
“Saya banyak sekali teman-teman di lapangan, kemudian juga masyarakat dan juga mahasiswa yang mengeluhkan berkait dengan mereka yang saat ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam bentuk beasiswa untuk sekolah,” ujar Atalia.
Menurut Atalia, bantuan pendidikan menjadi salah satu penopang bagi mahasiswa dari keluarga yang membutuhkan. Ketika akses bantuan terhenti karena persoalan kriteria atau data, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan.
“Ketika mereka tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan bantuan, ini membuat mereka mundur satu langkah untuk menuju cita-cita mereka,” katanya.
Karena itu, Atalia meminta pemerintah menerapkan verifikasi berlapis dalam menetapkan penerima bantuan pendidikan. Mahasiswa yang tidak memenuhi kriteria dalam satu skema bantuan, menurut dia, perlu tetap memiliki kesempatan memperoleh dukungan melalui skema lain apabila hasil verifikasi menunjukkan mereka masih membutuhkan bantuan.
“Harapannya adalah ada upaya dari pemerintah untuk melakukan verifikasi berlapis. Sehingga betul-betul ketika satu pintu tertutup untuk mereka, ada pintu lain yang bisa diupayakan,” tegasnya.
Atalia menilai persoalan administrasi dan ketidaksesuaian data tidak semestinya menutup kesempatan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, keberlanjutan akses pendidikan perlu dijaga karena mahasiswa merupakan bagian dari generasi yang akan berperan dalam pembangunan.
“Kita tidak boleh menutup harapan, cita-cita anak-anak muda kita. Karena mereka ini yang akan mengambil masa depan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menyempurnakan data desil, tetapi juga menyediakan mekanisme alternatif bagi mahasiswa yang belum terakomodasi dalam skema bantuan yang tersedia. Dengan demikian, penetapan penerima berdasarkan data tetap dapat mempertimbangkan kondisi faktual masyarakat.
“Kita berharap mudah-mudahan berkait dengan desil dan juga upaya lain yang bisa dibuka pintunya untuk anak-anak muda kita, mahasiswa ini bisa diupayakan oleh pemerintah,” pungkas Atalia.***








