klikwartaku.com
Beranda Internasional Masjid Dibakar dan Lahan Pertanian Dirusak, Serangan Pemukim Israel Memperuncing Krisis di Tepi Barat

Masjid Dibakar dan Lahan Pertanian Dirusak, Serangan Pemukim Israel Memperuncing Krisis di Tepi Barat

Dua masjid, kendaraan, dan lahan pertanian di Tepi Barat dilaporkan dibakar pemukim Israel. Insiden ini memperburuk kekerasan yang terus meningkat di wilayah pendudukan Palestina. Foto: Tangkapan layar YouTube Global News

KLIKWARTAKU — Gelombang kekerasan di Tepi Barat yang diduduki Israel kembali meningkat. Otoritas Palestina melaporkan dua masjid dibakar, puluhan kendaraan dirusak, serta lahan pertanian menjadi sasaran serangan yang diduga dilakukan kelompok pemukim Israel dalam semalam.

Insiden terbaru ini terjadi hanya dua hari setelah bentrokan mematikan di dekat Desa Tal yang menewaskan enam orang, terdiri atas empat warga Palestina dan dua warga Israel. Kedua belah pihak saling menyalahkan sebagai pemicu kekerasan tersebut.

Rangkaian serangan itu memperlihatkan meningkatnya ketegangan di Tepi Barat, wilayah yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami lonjakan aksi kekerasan oleh pemukim ekstremis terhadap warga Palestina. Menurut pejabat Palestina, salah satu serangan terjadi di Desa Qusra.

Wali Kota Qusra, Abdul Azim Wadi, mengatakan para pemukim membakar sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Selain membakar bangunan, pelaku juga mencoret dinding masjid dengan grafiti bertuliskan “balas dendam”.

Dalam insiden terpisah di Desa Kour, warga Palestina juga melaporkan sebuah masjid lain dibakar. Dinding bangunan tersebut disebut dipenuhi berbagai tulisan bernada kebencian. Selain tempat ibadah, sejumlah kendaraan dirusak, properti warga dilaporkan dijarah, dan lahan pertanian mengalami kerusakan akibat aksi tersebut.

Militer Israel menyatakan telah mengerahkan pasukan ke wilayah Qusra setelah menerima laporan mengenai insiden tersebut. Pihak militer menyebut kepolisian akan melakukan penyelidikan serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap pelaku. Namun hingga kini belum ada informasi mengenai penangkapan terkait dugaan serangan terhadap dua masjid tersebut.

Serangan terhadap desa-desa Palestina terjadi setelah bentrokan berdarah di kawasan Tal pada Jumat lalu. Peristiwa itu menewaskan empat warga Palestina dan dua warga Israel. Sejak saat itu, warga Palestina melaporkan serangkaian serangan lanjutan oleh kelompok pemukim di sejumlah desa di Tepi Barat.

Di sisi lain, Israel Defense Forces (IDF) meningkatkan operasi keamanan yang mereka sebut sebagai operasi antiteror. Puluhan warga Palestina dilaporkan ditangkap dalam sejumlah penggerebekan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya berjanji akan mengambil tindakan keras menyusul bentrokan di Tal. Salah satu opsi yang disebut adalah pembongkaran rumah dua warga Palestina yang dituduh terlibat dalam insiden tersebut.

Berbagai organisasi internasional telah berulang kali menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat. Namun hingga kini, tren tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Situasi keamanan di wilayah pendudukan sebenarnya telah memburuk sebelum pecahnya serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Sejak perang di Gaza berlangsung, intensitas bentrokan di Tepi Barat justru meningkat, baik dalam bentuk operasi militer Israel maupun serangan oleh kelompok pemukim terhadap warga Palestina.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sedikitnya 1.114 warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai. Mayoritas korban meninggal dalam operasi militer Israel, sementara sedikitnya 35 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang melibatkan pemukim.

Di sisi lain, 41 warga Israel, termasuk warga sipil dan personel keamanan, dilaporkan tewas akibat serangan warga Palestina atau dalam operasi militer di Tepi Barat selama periode yang sama.

Persoalan permukiman Yahudi di Tepi Barat tetap menjadi salah satu akar konflik yang belum terselesaikan. Sejak menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah 1967, Israel telah membangun ratusan permukiman yang kini dihuni sekitar 700 ribu warga Yahudi.

Sementara itu, sekitar 3,3 juta warga Palestina tinggal berdampingan di wilayah yang sama dan menginginkan Tepi Barat, Yerusalem Timur, serta Gaza menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.

Sebagian besar komunitas internasional menyatakan pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan bertentangan dengan hukum internasional. Namun pemerintah Israel terus mempertahankan kebijakan tersebut, menjadikan isu permukiman sebagai salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama beberapa dekade.***

Bagikan:

Iklan