Program Makan Bergizi Gratis Butuh Pasokan Besar, Produksi Susu Lokal Baru Penuhi 20 Persen Kebutuhan Industri
KLIK WARTAKU– Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, industri susu nasional masih menghadapi persoalan mendasar. Produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) hingga kini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu (IPS).
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan industri susu nasional terhadap bahan baku impor, sekaligus menjadi tantangan besar bagi upaya mewujudkan kemandirian pangan berbasis produk peternakan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri pengolahan susu merupakan salah satu sektor manufaktur strategis karena memiliki keterkaitan langsung dengan jutaan peternak rakyat dan berperan penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
“Saat ini produksi Susu Segar Dalam Negeri baru memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan industri. Oleh karena itu, penguatan kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan peternak dan koperasi menjadi kunci utama untuk memacu kapasitas produksi nasional,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (15/6).
Persoalan pasokan susu lokal menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi susu nasional. Pemerintah menilai program-program peningkatan kualitas gizi masyarakat, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi mendorong kenaikan permintaan susu dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi lain, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan konsumsi susu nasional baru mencapai sekitar 17,7 liter per kapita per tahun.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia, sehingga membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri susu nasional apabila pasokan dalam negeri mampu ditingkatkan.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menilai peningkatan konsumsi susu harus diimbangi dengan penguatan sektor produksi agar kebutuhan nasional tidak semakin bergantung pada impor.
“Program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat menjadi peluang untuk memacu peningkatan konsumsi susu nasional,” katanya.
Namun untuk mencapai target tersebut, industri susu nasional masih menghadapi sejumlah hambatan struktural. Mulai dari skala usaha peternakan rakyat yang relatif kecil, produktivitas sapi perah yang masih rendah, lemahnya integrasi antara sektor hulu dan hilir, hingga keterbatasan infrastruktur rantai dingin dan distribusi logistik.
Karena itu, pemerintah terus mendorong kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak sapi perah dan koperasi guna meningkatkan kualitas serta volume produksi susu lokal.
Selain itu, Kementerian Perindustrian juga mendorong modernisasi industri melalui pemanfaatan teknologi digital di Tempat Penampungan Susu (TPS) dan program restrukturisasi mesin serta peralatan industri makanan dan minuman.
Melalui program tersebut, pemerintah memberikan penggantian sebagian biaya investasi hingga 35 persen untuk pembelian mesin dan peralatan baru.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan industri pengolahan susu maupun kelompok peternak guna meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.
Menurutnya, penguatan industri susu nasional tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, koperasi, akademisi, dan peternak rakyat.
Momentum Hari Susu Nusantara 2026, kata dia, menjadi pengingat bahwa kemandirian susu nasional tidak hanya berkaitan dengan sektor industri, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan masa depan gizi masyarakat Indonesia. **










