Ekspor Perhiasan Melonjak 65 Persen Tembus Rp149 Triliun, Kemenperin Dorong Industri Naik Kelas Lewat Digitalisasi
KLIK WARTAKU – Di saat banyak sektor manufaktur menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, industri perhiasan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang mencolok. Sepanjang 2025, nilai ekspor perhiasan dan barang berharga nasional mencapai USD9,1 miliar atau sekitar Rp149 triliun, melonjak 64,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD5,5 miliar.
Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa produk perhiasan buatan Indonesia semakin diterima pasar internasional sekaligus memperkuat posisi sektor ini sebagai salah satu penyumbang devisa manufaktur bernilai tambah tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri perhiasan memiliki karakteristik khusus karena menggabungkan kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi dalam satu produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Industri perhiasan menjadi salah satu sektor unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan kontribusi penting terhadap ekspor manufaktur Indonesia,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6).
Menurut Agus, industri perhiasan tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menjaga keberlangsungan warisan budaya yang tercermin dalam berbagai desain dan kerajinan perhiasan khas Indonesia.
Melihat tren positif tersebut, Kementerian Perindustrian terus mendorong penguatan ekosistem industri perhiasan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan inovasi desain, transformasi teknologi, hingga perluasan akses pasar global.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendukung penyelenggaraan Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada 11–14 Juni 2026. Pameran tersebut menjadi ajang promosi produk perhiasan nasional sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, investor, dan mitra bisnis.
Meski mencatat pertumbuhan ekspor yang tinggi, industri perhiasan nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari fluktuasi harga bahan baku logam mulia, perubahan tren konsumen global, hingga tuntutan digitalisasi yang semakin cepat.
Karena itu, pemerintah menilai transformasi digital menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga daya saing industri ke depan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan penerapan teknologi industri 4.0 memungkinkan pelaku usaha meningkatkan efisiensi, mempercepat inovasi, dan menghasilkan produk yang lebih presisi sesuai kebutuhan pasar.
“Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien, menghasilkan produk yang lebih presisi, serta mampu merespons kebutuhan konsumen secara lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) yang dilakukan Kemenperin terhadap sejumlah perusahaan perhiasan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sejumlah pelaku industri telah menerapkan digitalisasi manajemen, kecerdasan buatan (AI), sistem keamanan siber, hingga teknologi produksi pintar.
Pemerintah berharap transformasi tersebut mampu mendorong industri perhiasan Indonesia tidak hanya menjadi eksportir bahan dan produk jadi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai nilai global yang berbasis desain, inovasi, dan teknologi.
Dengan pasar global yang terus berkembang dan meningkatnya permintaan terhadap produk bernilai seni tinggi, industri perhiasan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor pertumbuhan ekspor manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. **









