klikwartaku.com
Beranda Internasional FBI Gagalkan Rencana Serangan ke Acara UFC di Gedung Putih, Lima Tersangka Ditangkap

FBI Gagalkan Rencana Serangan ke Acara UFC di Gedung Putih, Lima Tersangka Ditangkap

FBI menggagalkan dugaan rencana serangan terhadap acara UFC di Gedung Putih yang melibatkan drone bersenjata, tim penembak jitu, dan target pejabat tinggi AS. Lima orang ditangkap dalam operasi lintas negara bagian. Foto: Tangkapan layar YouTube NBC News

KLIKWARTAKU — Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengungkap keberhasilan menggagalkan dugaan rencana serangan terhadap acara Ultimate Fighting Championship (UFC) yang digelar di kompleks Gedung Putih akhir pekan lalu. Operasi gabungan lintas negara bagian tersebut berujung pada penangkapan lima pria yang diduga merancang aksi kekerasan berskala besar menggunakan drone dan tim penembak jitu.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menyatakan para tersangka telah didakwa atas konspirasi untuk melakukan pembunuhan. Jika terbukti bersalah, masing-masing dapat menghadapi hukuman penjara seumur hidup serta denda hingga 250.000 dolar AS, setara sekitar Rp4,08 miliar (kurs Rp16.300 per dolar AS).

Direktur FBI, Kash Patel, menyebut operasi tersebut berhasil menghentikan ancaman sebelum sempat dijalankan.

Rencana Serangan Gunakan Drone dan Penembak Jitu

Dokumen pengadilan mengungkap kelompok tersebut diduga berencana menerbangkan drone yang membawa bahan peledak ke sejumlah bangunan di sekitar Gedung Putih.

Serangan drone itu disebut bertujuan memicu kepanikan massal di antara para penonton yang hadir dalam acara UFC. Saat massa berusaha menyelamatkan diri, kelompok penembak jitu yang telah ditempatkan di beberapa lokasi strategis diduga akan mulai menyerang target-target bernilai tinggi.

Penyidik juga mengungkap adanya rencana gelombang serangan kedua berupa upaya menerobos gerbang Gedung Putih setelah situasi menjadi kacau. Acara UFC yang digelar di South Lawn Gedung Putih pada Minggu lalu dihadiri sekitar 4.300 tamu undangan, sementara puluhan ribu orang lainnya menyaksikan dari area sekitar lokasi.

Target Diduga Tokoh-Tokoh Penting

Menurut dokumen hukum yang diajukan terhadap salah satu tersangka, Abraham Hermosillo Alvarez, kelompok tersebut sempat membahas sejumlah target potensial.

Nama yang disebut dalam penyelidikan mencakup Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, hingga pengusaha teknologi Elon Musk. Meski demikian, tidak semua nama yang disebutkan dipastikan menghadiri acara UFC tersebut.

Terungkap Berkat Laporan Sang Ibu

Penyelidikan bermula dari laporan ibu salah satu tersangka, Tycen C. Proper, yang menghubungi aparat setempat pada 10 Juni karena khawatir dengan pembelian senjata dalam jumlah besar oleh putranya serta aktivitas komunikasi daring yang mencurigakan.

Kekhawatiran tersebut memicu penyelidikan FBI yang kemudian menemukan percakapan terenkripsi antara Proper dan sejumlah individu lain yang diduga terlibat dalam perencanaan serangan. Dalam pemeriksaan FBI sehari kemudian, Proper disebut mengakui keterlibatannya dalam pembahasan rencana tersebut.

Menurut penyidik, komunikasi kelompok dimulai sekitar Maret melalui grup TikTok bernama “Vanguard of the Old” atau “Vanguard of the Old Republic”. Hingga kini belum diketahui apakah kelompok itu memiliki hubungan dengan organisasi ekstremis yang lebih besar.

Motif Dikaitkan dengan Sentimen Anti-Pemerintah

Jaksa menyebut para tersangka diduga memiliki pandangan ultra-religius dan anti-pemerintah. Mereka disebut ingin memicu revolusi dengan menyerang tokoh-tokoh politik dan kalangan elite yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai persoalan nasional.

Dokumen penyidikan menyebut kelompok tersebut sering mendiskusikan isu korupsi pemerintah, penanganan dokumen kasus Jeffrey Epstein, penggunaan sumber daya air oleh pusat data teknologi, serta berbagai kebijakan pemerintah federal yang mereka anggap bermasalah.

Peta Serangan dan Lokasi Drone Disita

Penyidik juga menemukan peta wilayah Washington DC yang menunjukkan lokasi penembak jitu, titik peluncuran drone, serta jaringan listrik yang diduga masuk dalam daftar target potensial. DOJ menuduh Alvarez berperan sebagai perencana utama operasi dan bertanggung jawab mengatur penggunaan drone dalam skenario serangan.

Selain dakwaan konspirasi pembunuhan, Proper menghadapi tiga dakwaan tambahan, termasuk konspirasi melakukan tindakan kekerasan di area Gedung Putih yang dapat berujung hukuman maksimal lima tahun penjara.

Sidang Awal Digelar Akhir Juni

Kelima tersangka ditangkap di beberapa negara bagian berbeda, termasuk Ohio, California, Missouri, dan Nebraska. Sidang pendahuluan dijadwalkan berlangsung pada 29 Juni mendatang.

Kasus ini menambah daftar insiden keamanan yang mengkhawatirkan di sekitar Gedung Putih dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, terjadi penembakan di acara White House Correspondents Dinner yang dihadiri Presiden Trump, serta insiden baku tembak di pos pemeriksaan Gedung Putih yang menewaskan seorang pria.

Otoritas federal menegaskan bahwa tidak ada ancaman langsung terhadap publik setelah operasi penangkapan dilakukan, namun penyelidikan terhadap jaringan dan kemungkinan keterlibatan pihak lain masih terus berlanjut.***

Bagikan:

Iklan