Angka Putus Sekolah Kalbar Masih Tinggi, Fenty Noverita Dorong Solusi Nyata
KLIK WARTAKU – Isu pendidikan di Kalimantan Barat kembali menjadi sorotan. Kali ini, Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan dan Kebudayaan KADIN Provinsi Kalimantan Barat, Fenty Noverita, angkat bicara terkait masih tingginya angka anak putus sekolah di Kalbar.
Dalam keterangannya pada Kamis (12/2), Fenty menyoroti data anak putus sekolah yang dinilai cukup memprihatinkan. Berdasarkan versi awal Kemdikbud tahun 2023, jumlah anak putus sekolah di Kalbar tercatat sebanyak 1.202 anak. Namun, dalam data terbaru tahun ajaran 2023/2024 pada Portal Kemendikbudristek, angka tersebut justru mencapai 2.548 anak.
Yang lebih mengkhawatirkan, jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi penyumbang angka tertinggi, yakni sebanyak 1.324 anak. Bahkan, Kalimantan Barat termasuk dalam provinsi dengan angka putus sekolah tertinggi di Indonesia.
Menurut Fenty, persoalan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi gambaran nyata tantangan sosial yang harus segera ditangani bersama. Berdasarkan data BPS, sebanyak 76 persen keluarga mengakui faktor ekonomi menjadi alasan utama anak mereka harus berhenti sekolah.
“Karena faktor ekonomi dan akses pendidikan yang sulit, menyebabkan anak harus putus sekolah dan hal ini menjadi pemicu adanya perkawinan anak. Menikah dijadikan solusi untuk meringankan beban ekonomi keluarga di beberapa tempat dan budaya,” papar Fenty Noverita.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah daerah, pusat, dunia usaha, hingga masyarakat harus bersinergi untuk menekan angka putus sekolah di Kalbar.
Sejumlah solusi pun disampaikan Fenty. Mulai dari perluasan cakupan Program Kartu Indonesia Pintar (KIP), penyediaan makanan bergizi gratis di sekolah, hingga transportasi sekolah gratis, khususnya bagi anak-anak di daerah pedalaman dan pelosok.
“Perluasan cakupan program seperti Kartu Indonesia Pintar, makanan bergizi gratis di sekolah untuk meringankan beban keluarga dan tentunya transportasi sekolah gratis untuk daerah pedalaman adalah beberapa solusi yang bisa diupayakan,” jelasnya.
Tak hanya itu, Fenty juga mendorong keterlibatan sektor swasta melalui program beasiswa berbasis komunitas, misalnya dari dana CSR perusahaan lokal.
“Beasiswa berbasis komunitas juga bisa menjadi solusi berikutnya, misalnya dari CSR perusahaan lokal,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Fenty menekankan pentingnya edukasi kepada keluarga. Menurutnya, kesadaran orang tua menjadi kunci agar pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
“Memberikan edukasi kepada keluarga sangat penting, bahwa pendidikan lebih penting daripada pekerjaan jangka pendek. Anak yang sekolah akan memiliki keterampilan lebih baik, peluang kerja lebih tinggi, dan pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tutup Fenty Noverita.
Isu anak putus sekolah bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga masa depan generasi Kalimantan Barat. Kolaborasi dan langkah konkret menjadi harapan agar angka ini tak lagi terus bertambah.









