klikwartaku.com
Beranda Internasional Naik Gunung Fuji di Luar Musim, Diselamatkan Helikopter Bakal Bayar

Naik Gunung Fuji di Luar Musim, Diselamatkan Helikopter Bakal Bayar

Jepang menyiapkan biaya penyelamatan helikopter bagi pendaki Gunung Fuji yang nekat naik di luar musim tanpa persiapan memadai. Aturan ditargetkan berlaku 2027. Foto: Tangkapan layar YouTube Nippon Television News Japan

KLIKWARTAKU — Gunung Fuji tampak berbeda setelah musim pendakian resmi berakhir. Jalur menjadi lebih sepi, fasilitas banyak ditutup, sementara cuaca di ketinggian berubah jauh lebih keras.

Mulai musim penutupan 2027, pendaki yang nekat memasuki kawasan Gunung Fuji di wilayah Prefektur Yamanashi dan kemudian membutuhkan pertolongan helikopter pemadam kebakaran atau bencana berpotensi dikenai biaya.

Kebijakan itu merupakan bagian dari paket baru Yamanashi untuk menekan pendakian berisiko pada periode penutupan Gunung Fuji. Pemerintah prefektur mengumumkannya pada 14 September 2026, beberapa hari setelah musim pendakian resmi tahun ini berakhir.

Besaran tarif belum ditentukan. Pemerintah Yamanashi akan menghitung biaya berdasarkan pengeluaran nyata untuk operasi penyelamatan, termasuk bahan bakar dan tenaga personel.

Sebagai pembanding, Prefektur Saitama telah menerapkan biaya penyelamatan di sejumlah kawasan pegunungan sebesar 8.000 yen per lima menit. Nilainya sekitar Rp900 ribu per lima menit, dengan asumsi kurs sekitar Rp112,5 per yen. Namun, angka tersebut belum menjadi tarif penyelamatan Gunung Fuji.

Gubernur Yamanashi Kotaro Nagasaki mengatakan pemerintah tidak sekadar ingin menarik biaya dari pendaki yang mengalami kecelakaan. Sasaran utamanya adalah mencegah orang masuk ke Gunung Fuji tanpa persiapan memadai pada periode ketika gunung tersebut berada dalam kondisi jauh lebih berbahaya.

Dalam rencana baru itu, pendaki yang ingin memasuki kawasan tertentu di Gunung Fuji selama musim penutupan akan diminta mengajukan rencana pendakian terlebih dahulu. Pemerintah akan memeriksa rencana tersebut, termasuk rute, perlengkapan dan aspek keselamatan. Jika dianggap tidak memadai, pendaki akan mendapat arahan untuk memperbaikinya.

Mereka yang mengajukan rencana dan memenuhi standar keselamatan dapat memperoleh pengurangan atau pembebasan biaya apabila kemudian membutuhkan pertolongan.

Sebaliknya, pendaki yang tidak mengajukan rencana, menyimpang dari rencana yang dilaporkan, atau mengabaikan rekomendasi keselamatan dapat dikenai biaya apabila harus dievakuasi dengan helikopter. Penilaian mengenai unsur kelalaian atau pendakian yang sembrono akan mempertimbangkan kondisi perlengkapan, cara mendaki dan keadaan lainnya.

Gunung Fuji bukan gunung yang bebas didaki kapan saja tanpa konsekuensi. Musim pendakian resminya berlangsung sekitar Juli hingga awal September. Di luar periode tersebut, sejumlah jalur ditutup dan kondisi gunung dapat berubah drastis.

Pemerintah Yamanashi secara khusus memperingatkan bahaya berupa tanah yang membeku dan angin kencang. Sebagian besar pondok pendakian dan fasilitas toilet juga tutup selama musim penutupan. Artinya, pendaki yang mengalami masalah di tengah perjalanan menghadapi situasi yang berbeda dari musim panas ketika ribuan orang memenuhi jalur menuju puncak.

Kepolisian Yamanashi juga mengingatkan bahwa helikopter tidak selalu dapat terbang dalam kondisi cuaca buruk atau setelah matahari terbenam. Di lokasi tertentu, helikopter bahkan tidak dapat melakukan hovering karena kondisi medan. Jika penyelamatan harus dilakukan melalui jalur darat, tim dapat membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk mencapai lokasi korban.

Pemerintah Yamanashi mengatakan masyarakat pada dasarnya diminta menghindari pendakian Fuji selama musim penutupan. Nagasaki mengatakan kebijakan baru itu diharapkan membuat calon pendaki memahami seperti apa kondisi Gunung Fuji pada musim dingin sebelum memutuskan berangkat.

Pendakian di luar musim bukan sepenuhnya dilarang di seluruh kawasan. Namun, pemerintah memperketat pengawasan terhadap aktivitas yang dianggap berbahaya. Yamanashi juga berencana memperkuat penghalang di jalur masuk, memasang sensor dan lampu peringatan, serta meningkatkan papan informasi mengenai larangan dan risiko pendakian.

Informasi mengenai bahaya Gunung Fuji di luar musim juga akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa, termasuk melalui media sosial, dengan sasaran wisatawan domestik maupun asing. Pemerintah Yamanashi menyatakan sistem tersebut tidak dimaksudkan untuk memperlakukan semua pendaki luar musim secara sama.

Pendaki yang benar-benar melakukan persiapan, memiliki pengalaman, menggunakan perlengkapan yang sesuai dan mengajukan rencana pendakian dapat memperoleh pembebasan biaya dalam kondisi tertentu. Skema itu dimaksudkan untuk membedakan antara pendakian yang dipersiapkan dengan baik dan tindakan yang dinilai sembrono.

Yamanashi menargetkan aturan baru mengenai biaya penyelamatan dan sistem pelaporan pendakian mulai diterapkan pada musim penutupan 2027. Pemerintah prefektur masih harus menyusun rincian sistem dan menyiapkan dasar hukumnya.

Gunung Fuji merupakan salah satu tujuan pendakian paling populer di Jepang. Setiap tahun sekitar 200 ribu orang berusaha mencapai puncaknya selama musim pendakian resmi. Namun, popularitas itu juga membuat pemerintah menghadapi persoalan pendakian yang tidak terencana.

Bagi pemerintah Yamanashi, persoalannya bukan hanya berapa orang yang berhasil mencapai puncak. Ketika seorang pendaki yang tidak siap mengalami masalah di ketinggian, operasi penyelamatan dapat menempatkan petugas dalam bahaya. Helikopter pun hanya dapat beroperasi ketika kondisi memungkinkan.

Karena itu, kebijakan baru tersebut mengubah pertanyaan yang selama ini muncul setelah kecelakaan: bukan hanya siapa yang harus diselamatkan, tetapi juga seberapa siap seseorang sebelum memutuskan mendaki.

Gunung Fuji tetap terbuka sebagai tujuan wisata dan pendakian. Tetapi di luar musim, pemerintah Yamanashi ingin satu hal menjadi jelas: keputusan untuk naik harus didahului dengan persiapan yang serius.***

Bagikan:

Iklan