Harga Minyak Dunia Turun pada Rabu 16 September, Brent dan WTI Masih di Atas US$100
KLIKWARTAKU – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah sempat melonjak lebih dari US$3 per barel sehari sebelumnya. Harga minyak Brent turun 1,55 persen menjadi sekitar US$107,06 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,46 persen ke US$103,23 per barel.
Penurunan terjadi setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Timur Tengah sedikit mereda. Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak mentah melalui Oman sehingga pasar mendapat alternatif pasokan setelah sebelumnya muncul laporan terganggunya ekspor dari wilayah Saudi.
Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak datang dari kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS meningkat sekitar 7,1 juta barel pada pekan yang berakhir 11 September.
Kenaikan stok tersebut berlawanan dengan perkiraan pasar yang sebelumnya mengantisipasi penurunan persediaan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai permintaan dan memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Meski terkoreksi, harga minyak masih berada di level tinggi. Sehari sebelumnya, Brent dan WTI masing-masing mencatat kenaikan lebih dari US$3 per barel dan berada pada level tertinggi sejak 19 Mei 2026.
Pasar energi masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur dan fasilitas produksi serta ekspor minyak. Pergerakan harga juga dipengaruhi kondisi di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Gangguan pasokan sebelumnya turut mendorong kenaikan harga setelah aktivitas pemuatan minyak di terminal Yanbu, Arab Saudi, dilaporkan terganggu. Arab Saudi juga mengurangi sebagian pengiriman minyak ke Eropa sehingga memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.
Dengan harga Brent masih berada di atas US$107 per barel dan WTI di atas US$103 per barel, pasar energi global masih menghadapi risiko volatilitas tinggi. Perkembangan pasokan Timur Tengah dan data persediaan minyak Amerika Serikat menjadi faktor penting yang akan dicermati investor selanjutnya.







