klikwartaku.com
Beranda Internasional AS dan Iran Saling Serang di Teluk, Gencatan Senjata Kembali Terancam Runtuh

AS dan Iran Saling Serang di Teluk, Gencatan Senjata Kembali Terancam Runtuh

Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan di kawasan Teluk. Ketegangan terbaru memicu ancaman runtuhnya gencatan senjata yang berlaku sejak April 2026. Foto: Tangkapan layar YouTube Times Of India

KLIKWARTAKU — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia, menguji rapuhnya gencatan senjata yang telah berlaku sejak April 2026.

Militer Amerika Serikat menyatakan pasukannya menyerang drone dan fasilitas radar Iran sebagai respons atas ancaman langsung terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Komando Pusat Militer AS atau Centcom mengatakan empat drone serang Iran diluncurkan menuju kawasan strategis tersebut sebelum akhirnya berhasil ditembak jatuh.

Menurut Centcom, drone-drone itu dianggap membahayakan lalu lintas maritim regional di salah satu jalur energi terpenting dunia. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait serta fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain.

Media pemerintah Iran, IRIB, menyebut serangan itu sebagai respons langsung terhadap operasi militer Washington. Namun Bahrain dan Kuwait menyatakan seluruh serangan berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan udara mereka.

Centcom mengatakan dari tujuh rudal yang ditembakkan Iran ke wilayah Teluk, enam berhasil dicegat sementara satu lainnya gagal mencapai target. Uni Emirat Arab dan Qatar turut mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Iran menuduh serangan AS ke instalasi radar di Sirik dan Pulau Qeshm sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata. “Serangan Amerika menunjukkan pengabaian total terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian pernyataan pemerintah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan pihaknya telah menyerang “basis musuh” sebagai bentuk pembalasan atas serangan Amerika Serikat. Pertukaran serangan ini menjadi rangkaian terbaru konflik kedua negara yang terus berlangsung meski kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak April lalu.

Situasi diperburuk dengan mandeknya negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Media Amerika Serikat melaporkan Presiden Donald Trump meminta perubahan terhadap sejumlah poin dalam rancangan perjanjian perdamaian.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menuduh AS terus mengubah posisi dan mengajukan tuntutan baru yang saling bertentangan. Konflik terbuka AS-Iran meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu memicu eskalasi di berbagai kawasan Timur Tengah.

Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara Teluk sekutu AS, sekaligus menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Penutupan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga minyak global karena jalur tersebut menjadi akses utama ekspor energi dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Tak lama setelah gencatan senjata dicapai awal April lalu, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Trump menegaskan blokade itu akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan resmi yang disahkan kedua pihak.

Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer, Amerika Serikat tetap memberikan visa bagi tim nasional sepak bola Iran untuk mengikuti Piala Dunia di Los Angeles pada 15 Juni mendatang. Turnamen tersebut menjadi pertama kalinya dalam sejarah ketika negara tuan rumah menerima tim dari negara yang sedang berkonflik secara langsung dengannya.***

Bagikan:

Iklan