klikwartaku.com
Beranda Internasional Trump Sebut Irlandia Bersatu Akan “Fantastis”, Pernyataannya Picu Reaksi Politik

Trump Sebut Irlandia Bersatu Akan “Fantastis”, Pernyataannya Picu Reaksi Politik

Donald Trump menyebut reunifikasi Irlandia sebagai hal yang “fantastis” saat berkunjung ke Dublin. Pernyataannya memicu reaksi dari kelompok pro dan anti-unifikasi. Foto: Tangkapan layar YouTube Irish Independent

KLIKWARTAKU — Donald Trump datang ke Irlandia untuk membicarakan hubungan kedua negara. Namun, satu pernyataannya tentang masa depan pulau itu justru menjadi sorotan. Presiden Amerika Serikat tersebut mengatakan akan senang jika Irlandia suatu hari bersatu. Trump bahkan menyebut reunifikasi Irlandia sebagai sesuatu yang “fantastis”.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat bertemu Perdana Menteri Irlandia atau Taoiseach Micheál Martin di Farmleigh House, Dublin. “Saya pikir itu akan menjadi hal yang fantastis,” kata Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan terbentuknya Irlandia bersatu.

Trump mengakui Inggris tentu memiliki pandangan sendiri mengenai persoalan tersebut. Namun, ia tetap menilai reunifikasi Irlandia akan menjadi sesuatu yang baik. “Bagaimana mungkin itu menjadi hal yang buruk?” ujar Trump.

Ia juga mengatakan reunifikasi pada akhirnya akan terjadi. Kepada Martin, Trump bahkan menyebut sang perdana menteri sebagai sosok yang tepat untuk mulai menggerakkan proses tersebut.

Pernyataan Trump segera menyentuh salah satu persoalan politik paling sensitif di Kepulauan Inggris: apakah Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Britania Raya atau bergabung dengan Republik Irlandia.

Pemerintah Inggris merespons pernyataan tersebut dengan menegaskan kembali komitmennya terhadap Good Friday Agreement atau Belfast Agreement, perjanjian damai yang menjadi fondasi hubungan politik di Irlandia Utara.

Juru bicara pemerintah Inggris merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Andy Burnham di House of Commons bahwa pemerintah akan memegang teguh perjanjian tersebut. Dalam kerangka perjanjian itu, perubahan status konstitusional Irlandia Utara harus didasarkan pada persetujuan masyarakat.

Menteri Luar Negeri Irlandia Helen McEntee juga menegaskan bahwa perubahan sebesar reunifikasi hanya dapat terjadi dengan persetujuan rakyat. “Hal sebesar ini hanya bisa terjadi jika ada persetujuan dari rakyat Irlandia,” kata McEntee.

Di Irlandia, komentar Trump mendapat respons beragam. Pemimpin Sinn Féin Mary Lou McDonald menyambut pernyataan tersebut dan mengatakan komentar Trump menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai reunifikasi semakin nyata.

Menurut dia, pemerintah Irlandia harus mulai mempersiapkan proses menuju reunifikasi. “Perjalanan nasional kita sekarang adalah reunifikasi, yang harus diorganisasi, direncanakan, dan dilakukan melalui transisi damai,” kata McDonald.

Namun, kelompok unionis di Irlandia Utara menolak gagasan bahwa masa depan wilayah tersebut dapat ditentukan oleh pernyataan politikus dari luar. Pemimpin Democratic Unionist Party (DUP), Gavin Robinson, mengatakan Trump seharusnya memahami bahwa pemilu dan kehendak rakyat menentukan masa depan politik.

“Masa depan konstitusional Irlandia Utara akan ditentukan oleh rakyat Irlandia Utara,” kata Robinson. Menurut dia, Irlandia Utara tetap berada dalam Inggris karena itulah kehendak demokratis masyarakat setempat.

Pemimpin Ulster Unionist Party, Jon Burrows, juga mengingatkan bahwa prinsip persetujuan rakyat telah menjadi bagian penting dalam Belfast Agreement.

Sementara pemimpin Traditional Unionist Voice, Jim Allister, menilai Trump tidak semestinya mencampuri persoalan konstitusional Irlandia Utara. “Masa depan konstitusional kami tidak bergantung kepadanya atau pejabat asing mana pun,” ujarnya.

Menariknya, setelah sebelumnya menyebut Irlandia bersatu sebagai sesuatu yang fantastis, Trump kemudian memberikan jawaban yang lebih berhati-hati. Dalam sebuah acara di kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Irlandia, Trump mengatakan tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan mengenai reunifikasi.

Ia bahkan bercanda ketika kembali ditanya tentang isu tersebut. Trump mengatakan ia memiliki jawaban yang bagus, tetapi menambahkan bahwa jawabannya akan dibaca orang pada hari berikutnya.

Di tengah perdebatan itu, Trump tetap menekankan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Irlandia saat ini sangat kuat. Menurut Trump, kedua negara memiliki hubungan ekonomi dan politik yang besar, termasuk dalam perdagangan.

Kunjungan Trump ke Irlandia tidak hanya diwarnai pertemuan diplomatik. Lebih dari 10.000 orang dilaporkan mengikuti demonstrasi di Dublin untuk menyampaikan penolakan terhadap Trump dan kebijakannya. Massa bergerak dari kawasan O’Connell Street di pusat kota dan melewati General Post Office (GPO), bangunan yang memiliki posisi penting dalam sejarah politik Irlandia.

Trump meninggalkan Dublin ketika demonstrasi mulai berlangsung. Namun, para penyelenggara mengatakan aksi tersebut dimaksudkan untuk mengirimkan pesan langsung mengenai penolakan terhadap kebijakan presiden Amerika Serikat itu. Isu Palestina menjadi salah satu tema utama dalam aksi tersebut.

Irlandia dikenal sebagai salah satu negara Uni Eropa yang paling vokal mendukung Palestina. Para demonstran mengecam sikap pemerintahan Trump terhadap konflik di Timur Tengah. Salah seorang peserta, yang berasal dari Amerika Serikat, mengatakan kepemimpinan Trump menjadi sesuatu yang memalukan.

Peserta lainnya menilai Trump lebih berpihak kepada kepentingan kelompok miliarder dan menyebut kebijakannya telah menimbulkan kekacauan di berbagai belahan dunia. “Pulanglah, kami tidak menginginkanmu di sini,” demikian salah satu pesan yang dibawa demonstran.

Penolakan juga muncul di Doonbeg, County Clare, tempat Trump menghadiri turnamen golf Irish Open. Kunjungan tersebut mendapat pengamanan ketat. Polisi Irlandia, Garda, menempatkan personel dalam jumlah besar, sementara sejumlah ruas jalan ditutup. Trump datang ke wilayah itu bersama dua putranya, Eric Trump dan Donald Trump Jr.

Sejumlah warga lokal ikut melakukan aksi protes. Di antara mereka terdapat warga yang berasal dari Amerika Serikat tetapi telah tinggal di County Clare. Seorang warga asal Tennessee mengatakan dirinya datang sebagai anggota masyarakat yang prihatin. Ia ingin Trump melihat langsung pesan penolakan yang dibawanya.

Warga lain asal New York mengatakan sebagai warga Amerika, ia merasa perlu menunjukkan bahwa tidak semua orang Amerika mendukung Trump. Kunjungan dua hari Trump ke Irlandia akhirnya memperlihatkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, pemerintah kedua negara berbicara tentang perdagangan dan hubungan bilateral.

Di sisi lain, isu reunifikasi Irlandia dan kebijakan Amerika Serikat terhadap Timur Tengah kembali memantik perdebatan politik dan aksi jalanan. Bagi Irlandia, persoalan reunifikasi bukan sekadar gagasan politik. Ia menyentuh sejarah panjang konflik, identitas, dan perdamaian yang hingga kini masih dijaga melalui prinsip persetujuan rakyat.***

Bagikan:

Iklan