China Butuh Korea Utara sebagai Penyangga Strategis, Xi Jinping Datangi Pyongyang
KLIKWARTAKU — Presiden China Xi Jinping tiba di Pyongyang dalam kunjungan kenegaraan yang dinilai sarat kepentingan geopolitik. Lawatan luar negeri pertama Xi tahun ini dilakukan saat hubungan Korea Utara dengan Rusia semakin erat di tengah memanasnya persaingan global.
Kunjungan Xi selama dua hari disebut bertujuan memperkuat hubungan strategis antara Beijing dan Pyongyang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan kedua negara ingin mendorong perkembangan hubungan bilateral sesuai perubahan situasi internasional.
“Kedua pihak akan menggunakan kunjungan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan China-Korea Utara,” kata Mao dalam konferensi pers, Jumat lalu.
Kunjungan Xi juga menjadi yang pertama ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir. Kehadiran pemimpin China itu dipandang sebagai langkah Beijing untuk memastikan pengaruhnya terhadap rezim Kim Jong Un tetap kuat, terutama setelah Pyongyang meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Moskow.
Hubungan China dan Korea Utara telah terjalin sejak Perang Korea pada awal 1950-an. Saat itu, China membantu Korea Utara menghadapi pasukan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ratusan ribu tentara China dilaporkan tewas dalam perang tersebut.
Pada 1961, kedua negara menandatangani Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik yang mengatur kewajiban China memberikan bantuan militer jika Korea Utara diserang.
Meski hubungan politik tetap erat, Beijing beberapa kali menentang program nuklir Korea Utara. China mendukung sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Pyongyang setelah serangkaian uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara pada 2006, 2009, 2013, dan 2016.
Namun sejak 2018, hubungan kedua negara kembali menghangat. Xi Jinping dan Kim Jong Un beberapa kali bertemu untuk membahas keamanan Semenanjung Korea dan denuklirisasi kawasan.
Kedekatan Korea Utara dengan Rusia dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian tersendiri bagi China. Pyongyang diketahui meningkatkan kerja sama militer dengan Moskow setelah perang Ukraina pecah pada 2022.
Analis politik dari Universitas Hong Kong Alejandro Reyes mengatakan Korea Utara kini memiliki ruang gerak internasional yang lebih besar dibanding satu dekade lalu. “Kunjungan Xi menjadi pengingat bahwa meski Rusia semakin penting bagi Korea Utara, China tetap merupakan tetangga yang sangat dibutuhkan Pyongyang,” kata Reyes.
Ia menilai Rusia tidak dapat menggantikan posisi China dalam aspek ekonomi, geografis, maupun politik. Secara ekonomi, Korea Utara sangat bergantung pada China. Data Komite Nasional untuk Korea Utara yang berbasis di Washington menyebut sekitar 95 persen perdagangan luar negeri Pyongyang terkait dengan China.
Menurut data Administrasi Umum Bea Cukai China, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$ 2,74 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.250 per dolar AS.
China mengekspor minyak bumi, pangan, tekstil, mesin, dan kendaraan ke Korea Utara. Sebaliknya, Beijing mengimpor produk seperti wig rambut, bulu mata palsu, ikan beku, besi, baja, dan makanan olahan dari Pyongyang.
Selain perdagangan, China juga menjadi jalur ekonomi penting bagi Korea Utara yang selama ini terkena sanksi internasional akibat program nuklirnya.
Profesor dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura Dylan Loh mengatakan China berperan sebagai penjamin keamanan sekaligus penyokong ekonomi utama Korea Utara. “China memberi Korea Utara legitimasi internasional dan perlindungan politik,” kata Loh.
Menurut dia, Beijing membutuhkan Korea Utara sebagai negara penyangga terhadap keberadaan pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan. Saat ini sekitar 28.500 tentara AS masih ditempatkan di Korea Selatan berdasarkan perjanjian pertahanan kedua negara.
Ekonom Asia Pasifik dari Natixis, Alicia Garcia Herrero, menilai kunjungan Xi sepenuhnya berkaitan dengan strategi kekuasaan China di kawasan. “China ingin memastikan kendalinya tetap kuat ketika Korea Utara semakin dekat dengan Rusia,” kata Herrero.
Ia menyebut Xi jarang melakukan perjalanan luar negeri dalam beberapa tahun terakhir sehingga kunjungan ke Pyongyang menunjukkan Beijing tengah memperketat pengaruhnya di kawasan Asia Timur Laut.
Pengamat menilai kunjungan Xi Jinping bukan hanya soal hubungan bilateral, tetapi juga bagian dari strategi China menghadapi perubahan peta geopolitik kawasan yang semakin dipengaruhi rivalitas Amerika Serikat, Rusia, dan Korea Utara.***










