Strategi Sunyi China di Tengah Perang Iran: Tampil Moderat, Amankan Kepentingan Ekonomi
KLIKWARTAKU — Pemerintah China dinilai berhasil memanfaatkan konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan global yang lebih moderat, sambil tetap menjaga kepentingan ekonomi dan energi di kawasan Timur Tengah.
Presiden China Xi Jinping pekan ini menegaskan pentingnya menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Xi menekankan dukungan terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan politik.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Iran menutup sebagian akses Selat Hormuz sejak akhir Februari, disusul blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat pada pertengahan April. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia.
Sikap Beijing yang cenderung hati-hati kontras dengan pendekatan Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka mengklaim kemenangan dalam konflik dan menegaskan kelanjutan tekanan terhadap Teheran.
Para analis menilai China sengaja mengambil posisi “di belakang layar” untuk memaksimalkan keuntungan strategis tanpa terlibat langsung dalam konflik. Kepala program kebijakan Asia-Israel di Abba Eban Institute, Gedaliah Afterman, menyebut pendekatan ini sebagai strategi menunggu sambil memanfaatkan peluang.
China diuntungkan oleh hubungan ekonominya yang luas. Beijing merupakan mitra dagang utama Iran dan menyerap hingga sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut. Di sisi lain, China juga menjaga hubungan erat dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta tetap menjadi mitra penting bagi Amerika Serikat dan Israel.
Pendekatan non-intervensi yang selama ini dianut China juga menjadi kunci. Kebijakan ini memungkinkan Beijing tampil sebagai pihak netral yang rasional, sekaligus menghindari keterlibatan militer langsung. Bahkan, China diketahui memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendorong intervensi untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Peneliti dari Society for Strategic Studies di Taipei, Chang Ching, menyebut kepentingan utama China di Timur Tengah tetap berfokus pada ekonomi. Stabilitas kawasan dinilai krusial bagi kelangsungan pasokan energi dan perdagangan.
Sekitar lebih dari 40 persen impor minyak mentah China berasal dari Timur Tengah. Karena itu, eskalasi konflik dinilai berpotensi mengancam keamanan energi Beijing dan bisa memaksa keterlibatan yang lebih jauh.
Di tengah konflik, aktivitas diplomasi China juga meningkat. Menteri Luar Negeri China Wang Yi melakukan puluhan komunikasi dengan berbagai pihak, sementara utusan khusus Timur Tengah Zhai Jun aktif melakukan pertemuan dengan aktor-aktor kunci.
Namun, berbeda dengan perannya dalam normalisasi hubungan Arab Saudi dan Iran pada 2023, Beijing kali ini justru cenderung meredam klaim keterlibatannya dalam upaya gencatan senjata antara AS dan Iran. Pengamat menilai hal ini sebagai upaya menghindari risiko politik dari proses perdamaian yang kompleks.
Peneliti dari S. Rajaratnam School of International Studies, Drew Thompson, menyebut China ingin tampil sebagai pembawa pesan damai tanpa harus terikat pada konsekuensi implementasi kesepakatan.
Di sisi lain, laporan media Barat menuding adanya manuver tersembunyi Beijing, termasuk dugaan dukungan militer terhadap Iran. Namun, analis menilai China akan berhati-hati agar tidak merusak hubungan dengan Washington, terutama menjelang rencana pertemuan antara Xi dan Trump.
Ke depan, China diperkirakan akan tetap memainkan strategi keseimbangan. Selain menjaga hubungan dengan Iran, Beijing juga tengah mengupayakan kerja sama perdagangan dengan negara-negara Teluk melalui Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
“China sedang memikirkan masa setelah perang, termasuk peluang rekonstruksi dan investasi,” kata Afterman. “Mereka ingin berada dalam posisi kuat di kedua sisi Teluk.”
Dengan pendekatan pragmatis ini, China bukan hanya menghindari risiko konflik, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas pengaruh ekonomi dan geopolitiknya di kawasan yang selama ini menjadi arena dominasi Amerika Serikat.***









