klikwartaku.com
Beranda Nasional BRIN Ubah Lahan Pascatambang Jadi Kawasan Peternakan Terpadu Hingga Agrowisata

BRIN Ubah Lahan Pascatambang Jadi Kawasan Peternakan Terpadu Hingga Agrowisata

Ilustrasi lahan pascatambang

KLIKWARTAKU – Lahan bekas tambang tidak harus berakhir sebagai kawasan terbengkalai. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan lahan pascatambang melalui pendekatan circular bioeconomy untuk dikembangkan menjadi kawasan peternakan terpadu.

Konsep tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pemulihan ekosistem, tetapi juga membuka sumber pangan dan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN Sindu Akhadiarto menjelaskan peternakan memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar menghasilkan daging, telur, dan susu. Dalam konsep yang dikembangkan BRIN, kegiatan peternakan dapat menjadi bagian dari sistem biologis untuk membantu memulihkan fungsi ekosistem di lahan bekas tambang.

“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging, telur, dan susu, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekosistem dan bekas tambang,” ujar Sindu.

Konsep peternakan terpadu tersebut dirancang dengan mengintegrasikan peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, hingga perkebunan. Pendekatan itu menyerupai konsep Agro Techno Park yang menghubungkan kegiatan produksi dari hulu hingga hilir dengan dukungan teknologi dan inovasi.

Kawasan pascatambang juga dapat dikembangkan sebagai lokasi riset, edukasi, dan agrowisata. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan pertambangan dapat diarahkan menjadi kawasan percontohan smart agro yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.

Potensi pengembangan tersebut cukup besar, khususnya di Kalimantan Timur. Sindu menyebut luas kawasan pertambangan batu bara di provinsi tersebut mencapai lebih dari 1,5 juta hektare atau sekitar 40 persen dari luas pertambangan batu bara nasional.

Salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan adalah void, yakni lubang bekas tambang yang telah terisi air. Dalam konsep peternakan terpadu, void dapat digunakan untuk kegiatan perikanan, sementara lahan di sekitarnya dimanfaatkan untuk hortikultura dan tanaman pangan.

Menurut Sindu, pengalaman pengembangan perikanan di danau bekas tambang menunjukkan hasil yang menjanjikan. Setelah pemeliharaan selama hampir lima tahun, void dapat menghasilkan komoditas seperti udang galah dan ikan nila yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Pemanfaatan lahan juga dapat dilakukan dengan menanam komoditas yang sesuai dengan karakteristik tanah pascatambang. Di kawasan Green Belt PT Semen Indonesia Pabrik Tuban, Jawa Timur, misalnya, telah dikembangkan tanaman hortikultura seperti jeruk, anggur, dan kelengkeng.

Untuk tanaman pangan, BRIN memiliki sejumlah varietas unggul yang dapat dikembangkan pada kondisi lahan tertentu, termasuk varietas unggul baru padi yang mampu beradaptasi di lahan masam.

Pengembangan model pemanfaatan lahan pascatambang tersebut mulai diperkuat melalui kolaborasi BRIN dengan dunia industri. Pada 2026, BRIN bekerja sama dengan PT Bramasta Sakti dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang melalui pendekatan revegetasi dan fitoremediasi untuk mendukung pengembangan peternakan ruminansia di Kalimantan Timur.

Direktur PT Bramasta Sakti Wiwin Suhartanto mengatakan, kerja sama tersebut telah memiliki payung kelembagaan melalui nota kesepahaman dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN. Kerja sama kemudian ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Pusat Riset Peternakan.

Kolaborasi tersebut berpotensi diperluas dengan melibatkan pusat riset lain, termasuk Pusat Riset Perikanan.

“Potensi lahan yang ada di kami dan kemampuan riset dari BRIN ini dapat kita kolaborasikan sehingga nantinya bisa muncul inovasi-inovasi baru,” ujar Wiwin.

Kerja sama tersebut ditindaklanjuti dengan kunjungan tim BRIN ke lokasi perusahaan pada Agustus 2026. Tim meninjau kondisi lahan sekaligus mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan sebagai objek penelitian.

Dua void yang telah terisi air menjadi salah satu objek yang berpotensi dikaji untuk pengembangan riset perikanan. Tim BRIN juga mengambil sampel tanah dari sejumlah titik untuk mengetahui karakteristik dan kandungannya sebagai dasar penelitian berikutnya.

Model yang dikembangkan BRIN menunjukkan bahwa pemulihan lahan bekas tambang dapat diarahkan tidak hanya pada reklamasi, tetapi juga pemanfaatan produktif berbasis riset dan inovasi.

Integrasi peternakan, perikanan, tanaman pangan, hortikultura, edukasi, dan agrowisata diharapkan dapat membentuk ekosistem ekonomi baru sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan pascatambang.***

Bagikan:

Iklan