Kyiv Dihantam 29 Rudal dan 115 Drone, Zelenskyy: Nyawa Warga Terancam karena Pencegat Menipis
KLIKWARTAKU — Pagi di Kyiv berubah menjadi rangkaian ledakan. Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Ukraina dan wilayah di sekitarnya menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone. Sedikitnya 17 orang tewas dalam serangan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan itu sebagai bukti bahwa sistem pertahanan udara negaranya semakin menghadapi tekanan. Menurut Zelenskyy, Rusia menembakkan 24 rudal balistik, empat rudal jelajah, dan 115 drone dalam satu rangkaian serangan.
Ia menuding sebagian sasaran berada di fasilitas sipil, termasuk gudang, perusahaan logistik, serta infrastruktur transportasi. “Korban dan kehancuran yang mengerikan” tersebut, menurut Zelenskyy, berkaitan langsung dengan kurangnya persediaan pencegat rudal Ukraina.
Layanan Darurat Negara Ukraina mengatakan operasi pencarian dan pembersihan masih berlangsung setelah serangan yang disebut sebagai serangan besar-besaran. Salah satu lokasi yang terdampak adalah fasilitas pergudangan di Brovary. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sebuah gudang di Bucha.
Zelenskyy mengatakan serangan Rusia menghantam fasilitas yang tidak memiliki kaitan langsung dengan operasi militer. Ia menyebut perusahaan pembuatan bir, gudang bahan bangunan, dan pusat logistik sipil sebagai bagian dari lokasi yang terkena serangan. Menurut dia, sistem pencegat rudal balistik yang lebih banyak dapat membantu mengurangi korban.
Masalahnya, Ukraina kini menghadapi penurunan stok amunisi pertahanan udara. Zelenskyy mengatakan pasokan rudal pertahanan udara yang diterima Ukraina saat ini hanya sekitar sepertiga dibandingkan 2025. Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena rudal balistik jauh lebih sulit dicegat dibandingkan sebagian besar ancaman udara lainnya.
Serhii Beskrestnov, penasihat Zelenskyy, menggambarkan situasi itu sebagai fase baru perang gesekan. Menurut dia, sasaran serangan Rusia semakin banyak menyentuh rantai pasokan dan pusat distribusi barang. Gudang ritel, pusat logistik, gudang makanan, perusahaan, hingga tempat penyimpanan bahan bangunan disebut menjadi bagian dari target.
Dari Kyiv, laporan menyebut ledakan mulai terdengar sejak tengah malam. Puluhan rudal yang datang dalam waktu relatif berdekatan membuat suara ledakan terdengar hingga berbagai bagian ibu kota. Beberapa fasilitas komersial juga terdampak.
Di tengah kebutuhan mendesak akan pencegat, sistem pertahanan udara Patriot kembali menjadi perhatian. Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menarik kembali komitmen mengenai izin bagi Ukraina memproduksi pencegat Patriot di dalam negeri.
Namun pembicaraan antara Washington dan Kyiv mengenai pengisian kembali persediaan Patriot disebut masih berlangsung. Sejumlah opsi tengah dibahas, termasuk kemungkinan Ukraina memproduksi komponen tertentu di dalam negeri sebelum proses akhir dilakukan di Jerman.
Pilihan lain adalah pengembangan varian rudal yang lebih murah atau memasukkan Ukraina ke dalam program pencegat Patriot Amerika Serikat dan Eropa. Bagi Kyiv, persoalannya bukan sekadar mendapatkan lebih banyak sistem pertahanan udara. Mereka membutuhkan persediaan rudal pencegat yang cukup untuk menghadapi serangan berulang.
Pada hari yang sama, Ukraina juga melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Rusia. Drone Ukraina menyerang fasilitas penyortiran milik Wildberries, salah satu perusahaan perdagangan daring terbesar Rusia, di Aleksin, Oblast Tula. Gubernur Tula Dmitry Milyaev mengatakan sejumlah bangunan lain juga terdampak, termasuk dua gedung apartemen.
Ukraina sebelumnya telah menargetkan sejumlah fasilitas Wildberries. Kyiv menuduh perusahaan tersebut berperan dalam rantai pasokan Rusia melalui penyediaan barang yang dapat digunakan untuk kepentingan militer. Rusia tidak menerima tuduhan tersebut sebagai pembenaran serangan.
Dalam insiden lain, direktur sebuah pabrik drone Rusia dilaporkan terluka serius setelah kendaraan yang ditumpanginya meledak. Sopirnya tewas. Penyebab ledakan masih diselidiki.
Malam harinya, Rusia juga melaporkan serangan drone dalam jumlah besar. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghancurkan 475 drone Ukraina di berbagai wilayah. Ukraina juga dilaporkan menyerang sebuah kilang minyak di Ufa, Bashkortostan.
Moskow menyatakan serangan Ukraina menyasar sejumlah fasilitas yang terkait dengan rantai pasokan dan kepentingan militer Rusia. Di Laut Hitam, Rusia juga dilaporkan menyerang tiga kapal kargo di sekitar pelabuhan Odesa.
Tekanan terhadap Ukraina semakin berat setelah muncul laporan mengenai dukungan militer Korea Utara kepada Rusia. Media internasional, mengutip sumber intelijen Ukraina, melaporkan bahwa unit rudal Korea Utara telah dikerahkan ke wilayah Rusia bagian barat. Unit tersebut disebut dapat dilengkapi hingga 120 rudal dan enam peluncur.
Jika laporan itu akurat, tambahan persenjataan tersebut berpotensi memperkuat kemampuan Rusia dalam melancarkan serangan jarak jauh ke Ukraina. Kyiv kini mendesak negara-negara yang tidak mampu mengirim rudal pencegat untuk memberikan tekanan melalui sanksi.
Zelenskyy secara khusus menyerukan tindakan dari negara-negara G7 dan Uni Eropa terhadap perusahaan yang terlibat dalam produksi rudal balistik Rusia. Ia sebelumnya menuduh sejumlah perusahaan utama produsen rudal memanfaatkan celah hukum untuk menghindari sanksi internasional.
Serangan terhadap Kyiv juga mendorong respons dari Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Uni Eropa akan meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi baru. Paris juga menegaskan dukungan terhadap Ukraina, termasuk bantuan militer. Bagi Kyiv, persoalan saat ini bukan hanya berapa banyak rudal yang dapat ditembakkan Rusia.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah berapa banyak rudal yang masih mampu dicegat Ukraina. Ketika persediaan pencegat menurun sementara serangan udara semakin besar, setiap rudal yang lolos dari sistem pertahanan udara dapat berarti kerusakan baru—dan, seperti yang terjadi di Kyiv, nyawa warga sipil.***











