klikwartaku.com
Beranda Internasional Robot Kurir Otonom Tuai Penolakan, Warga Keluhkan Trotoar Dikuasai Mesin Pengantar Makanan

Robot Kurir Otonom Tuai Penolakan, Warga Keluhkan Trotoar Dikuasai Mesin Pengantar Makanan

Robot kurir otonom yang mulai beroperasi di berbagai kota dunia memicu kontroversi. Warga mengeluhkan gangguan di trotoar, ancaman terhadap pekerjaan manusia, hingga risiko keselamatan pejalan kaki. Foto: Tangkapan layar YouTube NBC News

KLIKWARTAKU — Kehadiran robot kurir otonom yang digadang-gadang sebagai masa depan layanan pengiriman kini justru memicu gelombang penolakan di sejumlah kota dunia. Di Amerika Serikat, Kanada hingga Inggris, warga mulai mempertanyakan dampak teknologi tersebut terhadap keselamatan pejalan kaki, ruang publik, hingga lapangan pekerjaan.

Robot berukuran kecil yang mampu mengantarkan makanan cepat saji dan kebutuhan sehari-hari itu kini semakin sering terlihat melintas di trotoar kota-kota besar. Dengan mengandalkan kamera, sensor, dan sistem navigasi GPS, robot-robot tersebut dirancang untuk bergerak secara mandiri tanpa operator manusia. Namun bagi sebagian warga, kehadiran mereka mulai dianggap mengganggu.

Dari Kagum Menjadi Kesal

John Roberts, warga Chicago, mengaku awalnya terkesan saat pertama kali melihat robot pengantar makanan melintas di lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, teknologi tersebut terlihat futuristis dan menarik. Namun pandangannya berubah ketika ia berjalan bersama keluarganya dan harus menepi untuk memberi jalan kepada robot yang melintas.

“Kami merasa ada yang janggal. Trotoar seharusnya menjadi ruang bagi pejalan kaki, tetapi justru kami yang harus menghindar,” ujarnya. Roberts kemudian mulai membayangkan bagaimana kondisi trotoar jika puluhan robot serupa beroperasi secara bersamaan setiap hari.

Kekhawatiran itu mendorongnya meluncurkan petisi yang meminta penghentian sementara operasional robot kurir di seluruh Chicago hingga dilakukan pengujian keselamatan dan penyusunan regulasi yang jelas. Hingga kini, petisi tersebut telah mengumpulkan sekitar 4.400 tanda tangan.

Dituding Ganggu Keselamatan Pejalan Kaki

Sejumlah laporan yang beredar menyebutkan robot kurir kerap memaksa pejalan kaki turun ke jalan raya untuk menghindarinya. Beberapa insiden juga dilaporkan melibatkan tabrakan ringan dan gangguan lalu lintas di area penyeberangan jalan.

Menurut Roberts, ada kasus di mana seseorang terkena tiang bendera keselamatan yang terpasang pada robot tersebut. Selain itu, robot yang mengalami gangguan teknis disebut pernah menghalangi kendaraan darurat saat melintas.

Kondisi serupa juga terjadi di Glendale, California. Pemerintah kota setempat kini tengah mempertimbangkan larangan sementara penggunaan robot kurir setelah menerima berbagai keluhan dari masyarakat.

Anggota Dewan Kota Glendale, Ardy Kassakhian, mengatakan pihaknya tidak pernah menerima pemberitahuan resmi sebelum robot-robot tersebut mulai beroperasi di ruang publik. “Kami harus memastikan trotoar tetap aman dan mudah diakses oleh semua orang, termasuk lansia dan penyandang disabilitas,” katanya.

Ia mengaku pernah menyaksikan situasi ketika seorang lansia dan robot kurir saling berhadapan di trotoar sempit tanpa ada ruang yang cukup untuk lewat. Selain itu, beberapa robot yang mogok di tengah jalan juga sempat menjadi penghalang bagi pejalan kaki.

Sejumlah Kota Mulai Bertindak

Kontroversi ini membuat sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah pembatasan. Kota Toronto, Kanada, sejak 2021 telah melarang robot kurir menggunakan trotoar. Sementara San Francisco membatasi operasional robot hanya di kawasan yang tidak terlalu ramai.

Di Chicago sendiri, penggunaan robot kurir sudah dilarang di dua area tertentu. Para regulator kini mulai mempertimbangkan aturan baru yang mencakup izin operasional, standar keselamatan, asuransi, batas wilayah operasi, hingga tanggung jawab perusahaan jika terjadi insiden.

Ancaman Baru bagi Pekerja Kurir

Selain soal keselamatan, kelompok pekerja juga mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak otomatisasi. Serikat pekerja Independent Workers Union of Great Britain (IWGB) menilai penggunaan robot secara masif berpotensi mengancam mata pencaharian ribuan kurir dan pekerja sektor pengiriman.

Presiden IWGB, Alex Marshall, mengatakan jika teknologi ini diterapkan secara luas, banyak komunitas pekerja berpenghasilan rendah yang akan terdampak langsung. “Jika robot menggantikan pekerjaan manusia dalam skala besar, dampaknya terhadap masyarakat akan sangat besar,” ujarnya.

Menurut Marshall, pemerintah dan otoritas transportasi perlu memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengorbankan kesejahteraan pekerja.

Perusahaan: Robot Aman dan Ramah

Di sisi lain, perusahaan pengembang robot menegaskan bahwa teknologi mereka telah dirancang dengan standar keamanan tinggi. Direktur Operasional Eropa perusahaan Starship Technologies, Danny Pass, mengatakan robot-robot tersebut mampu mendeteksi hambatan, menghindari tabrakan, serta beroperasi secara hati-hati di area publik.

“Kami memahami bahwa berbagi trotoar dengan robot adalah pengalaman baru bagi banyak orang. Namun robot kami dirancang agar sopan, aman, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar,” katanya.

Menurut perusahaan, teknologi tersebut juga berpotensi mengurangi kemacetan lalu lintas dan emisi karbon karena mengurangi penggunaan kendaraan pengantar berbahan bakar fosil.

Diprediksi Meledak dalam Satu Dekade

Meski menuai kontroversi, para analis memperkirakan penggunaan robot kurir otonom akan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang. Lembaga riset Transforma Insight memperkirakan jumlah robot pengantar barang yang beroperasi di seluruh dunia akan mencapai sekitar 2,1 juta unit pada 2034.

Beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan bahkan telah mengadopsi regulasi yang lebih longgar untuk mendorong perkembangan teknologi ini. Namun perdebatan mengenai keseimbangan antara inovasi dan kepentingan publik diperkirakan akan terus berlangsung.

Bagi banyak warga, pertanyaannya bukan lagi apakah robot akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut berkembang tanpa mengurangi hak pejalan kaki maupun mengancam pekerjaan manusia.***

Bagikan:

Iklan