Perang Iran Justru Perkuat Ukraina, Peluang Gencatan Senjata dengan Rusia Makin Dekat?
KLIKWARTAKU — Perang yang melibatkan Iran justru membawa dampak tak terduga bagi Ukraina. Di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia, Kyiv dinilai berhasil memanfaatkan situasi global untuk memperkuat posisi militernya sekaligus membuka peluang menuju gencatan senjata.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam beberapa bulan terakhir aktif menjalin kerja sama dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Fokusnya adalah berbagi teknologi drone yang dikembangkan Ukraina selama menghadapi invasi Rusia sejak 2022.
“Kami ingin membantu negara-negara tersebut melindungi diri mereka,” ujar Zelensky, sembari memperluas kemitraan strategis di bidang pertahanan. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi diplomatik Ukraina, tetapi juga membuka peluang bisnis dan dukungan militer dari negara-negara kaya sekutu Amerika Serikat.
Awalnya, perang Iran diperkirakan merugikan Ukraina karena mengalihkan perhatian Presiden AS Donald Trump dari upaya perdamaian antara Kyiv dan Moskow. Selain itu, lonjakan harga minyak global memberi keuntungan bagi Rusia melalui peningkatan ekspor energi.
Namun, Ukraina justru membalik keadaan. Dengan memanfaatkan pengalaman tempur, Kyiv meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia menggunakan drone jarak jauh buatan dalam negeri.
Zelensky mengklaim serangan tersebut telah menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi sektor energi Rusia. Dalam satu pekan, pendapatan ekspor minyak Moskow dilaporkan turun hingga sekitar US$1 miliar atau setara Rp15,8 triliun.
Selain itu, Ukraina berhasil mengamankan berbagai kesepakatan pertahanan dengan negara-negara Eropa. Salah satunya dengan Norwegia senilai US$8,6 miliar (sekitar Rp135 triliun), serta dengan Jerman senilai US$4,7 miliar (sekitar Rp74 triliun), mencakup pengadaan drone, rudal, dan sistem pertahanan modern.
Di tingkat regional, ancaman drone Rusia yang semakin meluas hingga wilayah Eropa membuat negara-negara anggota NATO semakin memperhatikan teknologi perang Ukraina.
Dari sisi teknologi, Ukraina juga menonjolkan efisiensi sistem pertahanannya. Drone tempur jenis Shahed buatan Iran yang digunakan Rusia diperkirakan berharga antara US$80.000 hingga US$130.000 (sekitar Rp1,2 miliar hingga Rp2 miliar), namun dapat dilumpuhkan dengan sistem pertahanan yang biayanya hanya sekitar US$10.000 atau Rp158 juta.
Di tengah penguatan tersebut, Trump mengklaim peluang solusi konflik Ukraina dapat dicapai dalam waktu relatif cepat setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun hingga kini, kesepakatan konkret belum terwujud.
Upaya diplomasi juga dinilai terhambat karena fokus Washington yang masih tersedot konflik Timur Tengah. Utusan perdamaian AS bahkan belum melakukan kunjungan resmi ke Kyiv, memicu kritik dari pihak Ukraina.
Sementara itu, Uni Eropa akhirnya menyetujui pinjaman sebesar €90 miliar atau sekitar Rp1.530 triliun untuk membantu Ukraina memperkuat kemampuan militernya. Keputusan ini sebelumnya tertahan, namun berubah setelah dinamika politik di Hungaria.
Meski demikian, prospek perdamaian tetap kompleks. Rusia belum menunjukkan tanda akan menghentikan agresinya, sementara Ukraina menghadapi kelelahan perang dan tantangan mobilisasi pasukan.
Para analis menilai keberhasilan gencatan senjata sangat bergantung pada tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat. Namun, kebijakan Washington yang dinilai belum konsisten terhadap Rusia menjadi tantangan tersendiri.
Di sisi lain, negara-negara Eropa juga dinilai masih ragu mengambil langkah lebih tegas, termasuk dalam menerapkan sanksi ekonomi yang lebih keras terhadap Moskow.
Dengan berbagai dinamika tersebut, peluang gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia memang terbuka, tetapi masih jauh dari kepastian. Ukraina kini berupaya memanfaatkan setiap momentum global untuk memperkuat posisinya sebelum meja perundingan benar-benar terwujud.***









