klikwartaku.com
Beranda Internasional AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman, Politikus Republik Khawatir Kirim Sinyal Lemah ke Rusia

AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman, Politikus Republik Khawatir Kirim Sinyal Lemah ke Rusia

Rencana Pentagon menarik 5.000 pasukan AS dari Jerman dikritik politisi Republik karena dinilai melemahkan deterrence terhadap Rusia dan NATO. Foto: Tangkapan layar YouTube BBC News

KLIKWARTAKU — Keputusan Amerika Serikat untuk menarik sekitar 5.000 tentaranya dari Jerman menuai kritik dari dua politisi senior Partai Republik yang menilai langkah tersebut berisiko melemahkan daya tangkal terhadap Rusia.

Dua ketua komite angkatan bersenjata di Kongres AS, Roger Wicker dan Mike Rogers, menyatakan pasukan tersebut seharusnya tidak ditarik, melainkan dipindahkan lebih ke wilayah timur Eropa untuk memperkuat posisi NATO.

“Pengurangan kehadiran militer AS secara prematur di Eropa berisiko melemahkan deterrence dan mengirim sinyal yang salah kepada Vladimir Putin,” demikian pernyataan bersama keduanya.

Pentagon melalui juru bicara Sean Parnell menyatakan keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan operasional dan kondisi di lapangan. Penarikan pasukan diperkirakan berlangsung dalam enam hingga 12 bulan ke depan.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengisyaratkan kemungkinan pengurangan pasukan lebih lanjut, tanpa merinci jumlahnya. Saat ini, lebih dari 36.000 personel militer AS masih ditempatkan di Jerman—menjadikannya kehadiran terbesar AS di Eropa.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyebut langkah tersebut “sudah dapat diperkirakan”, namun menegaskan bahwa kehadiran pasukan AS tetap penting bagi kepentingan kedua negara.

Aliansi militer NATO juga menyatakan tengah meminta klarifikasi kepada Washington terkait keputusan tersebut. Kekhawatiran muncul bahwa langkah ini dapat melemahkan solidaritas di dalam aliansi yang beranggotakan 32 negara itu.

Kritik juga datang dari kubu Demokrat. Anggota senior Komite Angkatan Bersenjata DPR, Adam Smith, menilai keputusan itu tidak didasarkan pada strategi keamanan nasional yang jelas. Namun, tidak semua politisi Republik menolak langkah tersebut. Clay Higgins justru mendukung kebijakan itu, meski dengan nada satir yang memicu kontroversi.

Ketegangan meningkat setelah pernyataan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang menyebut Amerika Serikat “dipermalukan” oleh Iran dalam konflik yang sedang berlangsung. Trump membalas kritik itu dengan menyebut Merz tidak memahami situasi.

Langkah penarikan pasukan ini juga sejalan dengan kebijakan Washington yang mulai mengalihkan fokus militernya ke kawasan Indo-Pasifik. Sebelumnya, AS juga mengurangi kehadiran militernya di Rumania.

Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, memperingatkan bahwa perpecahan dalam aliansi transatlantik justru menjadi ancaman terbesar saat ini. “Ancaman terbesar bukan berasal dari musuh eksternal, melainkan dari melemahnya aliansi kita sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, Jerman telah meningkatkan belanja pertahanannya secara signifikan. Pada 2027, anggaran pertahanan negara itu diproyeksikan mencapai €105,8 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun, melampaui target NATO sebesar 2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Keputusan terbaru Washington ini mempertegas dinamika baru dalam hubungan keamanan transatlantik, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Rusia dan perubahan prioritas strategis Amerika Serikat.***

Bagikan:

Iklan