Perang Iran Ancam Pasokan Gas Pipa India, Harga Berpotensi Naik Meski Rumah Tangga Aman
KLIKWARTAKU — Perang yang melibatkan Iran mulai mengguncang sektor energi India, tidak hanya pada gas elpiji (LPG), tetapi juga pada jaringan gas pipa (PNG) yang kini menjadi tulang punggung pasokan energi rumah tangga di perkotaan.
Meski kekhawatiran meningkat, para analis menilai pasokan gas pipa untuk rumah tangga dan kendaraan masih relatif aman dalam jangka pendek. Namun, tekanan harga dinilai tak terhindarkan.
Permintaan Gas Pipa Terus Meningkat
India saat ini memiliki lebih dari 15 juta sambungan gas pipa rumah tangga, seiring dorongan pemerintah agar masyarakat beralih dari tabung LPG ke gas jaringan. Selain rumah tangga, permintaan juga datang dari sektor industri, pembangkit listrik, hingga kendaraan berbahan bakar gas (CNG). Gas CNG bahkan kini menjadi bahan bakar kendaraan terbesar kedua setelah bensin di India.
Pasokan Campuran: Domestik dan Impor
Pasokan gas pipa India berasal dari kombinasi produksi domestik dan impor gas alam cair (LNG). Sekitar setengah pasokan berasal dari produksi dalam negeri oleh perusahaan seperti Oil and Natural Gas Corporation dan Reliance Industries, sementara sisanya berasal dari impor LNG.
Menurut pelaku industri, pemerintah India memprioritaskan pasokan untuk rumah tangga dan kendaraan. “Tidak ada gangguan untuk rumah tangga dan kendaraan. Dua sektor ini menjadi prioritas,” ujar Rahul Chopra, pejabat perusahaan distribusi gas kota di India.
Namun, sektor industri dan komersial mulai terdampak. Sekitar 20 persen pasokan gas ke sektor ini telah dipangkas untuk dialihkan ke kebutuhan rumah tangga.
Ketergantungan Impor dan Risiko Global
Meski memiliki produksi domestik, India tetap sangat bergantung pada impor LNG. Pada 2025, impor LNG mencapai sekitar 24–25 juta ton, menjadikan India salah satu pembeli terbesar di dunia. Sebagian besar impor ini berasal dari Qatar, yang menyuplai lebih dari separuh kebutuhan LNG India melalui kontrak jangka panjang. Pasokan tambahan datang dari Amerika Serikat, Australia, Rusia, dan Afrika.
Namun, jalur distribusi utama LNG tersebut melewati Selat Hormuz—titik sempit yang kini menjadi pusat ketegangan akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sekitar 50–55 persen impor LNG India melewati jalur ini, sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan.
Pengiriman Masih Berjalan, Tapi Terbatas
Sejauh ini, pengiriman LNG ke India belum sepenuhnya terhenti. Kapal-kapal yang dimuat sebelum eskalasi konflik masih dalam perjalanan menuju Asia. Namun, ekspor dari kompleks LNG Ras Laffan di Qatar—salah satu yang terbesar di dunia—dilaporkan telah dihentikan sejak awal Maret. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pasokan baru akan tertunda hingga situasi kembali aman.
Cadangan Terbatas
Berbeda dengan minyak mentah, India tidak memiliki cadangan strategis LNG dalam jumlah besar. Gas umumnya disimpan dalam bentuk stok operasional di terminal regasifikasi seperti Dahej, Hazira, Kochi, dan Ennore. Cadangan ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu hingga dua pekan, tergantung jadwal pengiriman.
Harga Jadi Risiko Utama
Bagi konsumen rumah tangga, ancaman utama bukanlah kekurangan pasokan, melainkan kenaikan harga. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, harga LNG global akan terdorong naik. “Pasokan mungkin tetap ada, tetapi harga pasti meningkat,” kata Chopra.
Dalam kondisi seperti ini, industri biasanya menjadi pihak pertama yang terdampak, dengan pengurangan pasokan atau beralih ke bahan bakar lain seperti batu bara atau minyak bakar.
Tekanan Berlapis ke Ekonomi
Kenaikan harga gas tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada sektor industri dan pembangkit listrik. Hal ini berpotensi memicu tekanan inflasi dan memperlambat aktivitas ekonomi.
Dengan ketergantungan besar pada impor dan jalur distribusi yang rentan, perang Iran kembali menegaskan betapa rapuhnya sistem energi global—dan bagaimana dampaknya dapat menjalar hingga dapur rumah tangga di India.***











