klikwartaku.com
Beranda Nasional Konsumsi Susu Rendah, Pemerintah Kejar Kemandirian Nasional

Konsumsi Susu Rendah, Pemerintah Kejar Kemandirian Nasional

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq

KLIKWARTAKU – Pemerintah mempercepat upaya membangun kemandirian susu nasional sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan investasi sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Langkah tersebut dinilai mendesak mengingat konsumsi susu masyarakat masih rendah, sementara ketergantungan terhadap impor masih mencapai sekitar 80 persen kebutuhan nasional.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat sektor persusuan nasional secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

“Peringatan ini tidak boleh dimaknai hanya sebagai seremoni. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama untuk membangun sektor persusuan nasional,” ujar Hanif saat peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu 14 Juni 2026.

Hanif mengungkapkan konsumsi susu nasional saat ini masih berada pada kisaran 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun. Angka tersebut jauh di bawah rekomendasi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang mencapai 30 liter per kapita per tahun.

Menurutnya, jika dihitung secara harian, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya setara sekitar satu sendok per orang per hari.

“Kalau dibagi per hari, konsumsi susu kita hanya sekitar satu sendok per orang. Ini jauh dari kebutuhan ideal tubuh,” katanya.

Ia menegaskan, rendahnya konsumsi susu perlu menjadi perhatian karena susu merupakan sumber gizi penting yang mengandung protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang berperan dalam pertumbuhan serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Hanif menilai peningkatan konsumsi susu juga berkaitan erat dengan upaya memanfaatkan bonus demografi yang saat ini dimiliki Indonesia. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif, sementara 24 persen lainnya merupakan generasi muda di bawah usia 14 tahun.

“Kita tidak bisa berbicara tentang Indonesia Emas 2045 jika ketahanan sumber daya manusianya tidak dibangun dari sekarang,” ujarnya.

Selain rendahnya tingkat konsumsi, pemerintah juga menyoroti tingginya ketergantungan terhadap impor susu. Menurut Hanif, kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok global.

“Ketika geopolitik global terganggu dan pasokan terhenti, dampaknya langsung terasa. Karena itu, ketahanan pangan, termasuk susu, tidak bisa ditunda lagi,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mendorong penguatan peternakan sapi perah lokal melalui peningkatan kualitas bibit, riset, perbaikan produktivitas, serta pengembangan ternak yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim tropis Indonesia.

Di sektor hilir, pemerintah juga mendorong penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak lokal guna meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus kesejahteraan peternak.

Selain itu, kampanye konsumsi susu akan terus diperluas melalui edukasi publik secara berkelanjutan agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi semakin meningkat.

Melalui percepatan pembangunan sektor persusuan nasional, pemerintah berharap konsumsi susu masyarakat dapat meningkat sekaligus memperkuat kedaulatan pangan nasional sebagai fondasi pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Bagikan:

Iklan