klikwartaku.com
Beranda Internasional Isi Perjanjian Trump-Iran Terungkap: Lebanon, Selat Hormuz hingga Uranium Jadi Poin Krusial

Isi Perjanjian Trump-Iran Terungkap: Lebanon, Selat Hormuz hingga Uranium Jadi Poin Krusial

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperlihatkan nota kesepahaman 14 poin antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani untuk mengakhiri perang, 18 Juni 2026. Foto: Tangkapan layar YouTube FOX 9 Minneapolis-St. Paul

KLIKWARTAKU — Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengungkap rincian nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang disepakati dengan Iran. Dokumen tersebut menjadi langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama berbulan-bulan memicu konflik di Timur Tengah.

Meski salinan resmi perjanjian belum dipublikasikan oleh kedua negara, seorang pejabat Amerika Serikat membacakan isi dokumen tersebut kepada wartawan. Kesepakatan yang dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss itu mencakup sejumlah isu strategis, mulai dari konflik di Lebanon, keamanan Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga pencabutan sanksi ekonomi.

Namun demikian, sejumlah analis menilai masih banyak aspek penting yang belum dijelaskan secara rinci sehingga memunculkan berbagai pertanyaan baru.

Gencatan Senjata di Lebanon Jadi Fokus Awal

Dalam poin pertama perjanjian, Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk mengakhiri seluruh operasi militer secara permanen di berbagai wilayah, termasuk Lebanon.

Kedua negara juga berkomitmen menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon. Namun dokumen tersebut tidak menjelaskan bagaimana implementasi kesepakatan itu akan dilakukan, terutama karena Israel dan kelompok Hizbullah bukan pihak yang ikut menandatangani perjanjian.

Kondisi ini memunculkan ketidakpastian mengenai mekanisme penghentian konflik di Lebanon, termasuk masa depan dukungan Iran terhadap Hizbullah yang selama ini menjadi salah satu isu sensitif dalam hubungan kawasan.

AS Isyaratkan Tinggalkan Agenda Perubahan Rezim Iran

Poin kedua perjanjian menegaskan bahwa Washington dan Teheran akan saling menghormati kedaulatan masing-masing dan tidak mencampuri urusan dalam negeri pihak lain.

Ketentuan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menjauh dari agenda perubahan rezim di Iran yang sebelumnya sempat menjadi isu kontroversial. Dalam beberapa kesempatan terakhir, Trump juga menyatakan bahwa pergantian pemerintahan di Iran bukan lagi tujuan utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap negara tersebut.

Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali

Salah satu bagian paling penting dalam kesepakatan menyangkut Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia. Amerika Serikat berjanji mencabut blokade angkatan laut secara bertahap dan menghentikannya sepenuhnya dalam waktu 30 hari. Washington juga akan menarik pasukannya sesuai jadwal yang telah disepakati.

Sebagai imbalannya, Iran berjanji menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal komersial selama masa transisi 60 hari. Teheran juga akan berdialog dengan Oman untuk menentukan pengelolaan layanan maritim di Selat Hormuz pada masa mendatang.

Meski demikian, pejabat Iran menegaskan bahwa kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum konflik dan membuka peluang penerapan biaya layanan tertentu bagi kapal-kapal yang melintas.

Persediaan Uranium Iran Akan Diawasi IAEA

Masalah program nuklir menjadi salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi. Dalam kesepakatan tersebut, Iran kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Kedua negara juga menyetujui mekanisme pengelolaan stok uranium yang telah diperkaya melalui proses pencampuran ulang (downblending) di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.

Saat ini Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk keperluan militer. Kesepakatan ini mengindikasikan bahwa Washington mulai menerima opsi pengurangan tingkat pengayaan uranium dibandingkan menuntut Iran menyerahkan seluruh persediaannya ke luar negeri.

Paket Rekonstruksi Rp4.890 Triliun untuk Iran

Perjanjian tersebut juga memuat komitmen ekonomi besar bagi Iran pascakonflik. Amerika Serikat bersama mitra regional disebut akan menyusun rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi dengan nilai minimal 300 miliar dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp4.890 triliun.

Dana itu akan digunakan untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran, meski hingga kini belum dijelaskan negara mana saja yang akan berkontribusi dalam pendanaan tersebut maupun mekanisme penggunaannya.

Sanksi terhadap Iran Akan Dicabut Bertahap

Poin lain yang menjadi perhatian adalah komitmen Amerika Serikat untuk mengakhiri berbagai bentuk sanksi terhadap Iran sesuai tahapan yang akan disepakati dalam perjanjian final.

Namun dokumen tersebut belum menjelaskan apakah pencabutan itu hanya mencakup sanksi Amerika Serikat atau juga sanksi internasional yang selama ini diberlakukan melalui mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagi Iran, pencabutan sanksi menjadi aspek penting karena dapat membuka akses terhadap miliaran dolar aset negara yang selama bertahun-tahun dibekukan di luar negeri.

Meski dianggap sebagai terobosan diplomatik terbesar dalam hubungan Washington dan Teheran selama beberapa dekade terakhir, banyak pengamat menilai keberhasilan perjanjian ini masih bergantung pada implementasi di lapangan serta kesediaan para aktor regional untuk mendukung proses perdamaian yang sedang dibangun.***

Bagikan:

Iklan