klikwartaku.com
Beranda Internasional Dampak Lingkungan Tersembunyi di Balik Video Deepfake AI

Dampak Lingkungan Tersembunyi di Balik Video Deepfake AI

Ilustrasi di balik kecanggihan video deepfake buatan AI, ternyata tersimpan dampak lingkungan besar. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Di tengah maraknya tren video deepfake yang membanjiri media sosial, muncul peringatan baru terkait ancaman yang jarang disadari publik: dampak lingkungan dari teknologi kecerdasan buatan (AI).

Video deepfake kini dapat dibuat dengan mudah berkat platform seperti Sora milik OpenAI, yang mampu menghasilkan video hiper-realistis dari teks semata. Banyak pengguna membagikan adegan palsu yang menampilkan tokoh sejarah atau selebritas yang telah meninggal, sering kali dalam konteks aneh atau bahkan menyinggung.

Fenomena ini telah membuat beberapa keluarga tokoh ternama, termasuk keluarga Dr. Martin Luther King Jr., meminta agar perusahaan AI melarang penggunaan citra orang yang sudah meninggal.

Namun di balik kontroversi moral itu, Dr. Kevin Grecksch, dosen di University of Oxford, mengungkap sisi lain yang lebih senyap: jejak ekologis dari video deepfake.

Data Center, Konsumsi Energi, dan Krisis Air

Menurut Dr. Grecksch, pembuatan video deepfake tidak terjadi di perangkat pribadi pengguna, melainkan di pusat data (data center) yang tersebar di berbagai belahan dunia. “Proses ini menghabiskan sangat banyak listrik dan air segar,” ujarnya. “Server yang memproses data dalam skala besar harus didinginkan dengan air secara terus-menerus.”

Pusat data modern memang dikenal sebagai “pabrik digital” yang menyerap energi dalam jumlah besar serta jutaan liter air setiap harinya untuk sistem pendinginan. Penggunaan AI secara masif, terutama melalui aplikasi seperti Sora, memperparah konsumsi sumber daya tersebut.

Hanya dalam waktu lima hari, aplikasi Sora telah diunduh lebih dari satu juta kali dan masih bertengger di puncak Apple App Store Amerika Serikat. Lonjakan penggunaan ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya beban lingkungan akibat aktivitas digital yang tidak terlihat.

Peringatan untuk Pengguna dan Pemerintah

Dr. Grecksch mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi berbasis AI. “Ada banyak air yang terlibat dalam proses ini. Kita harus memikirkan untuk apa, seberapa sering, dan seberapa besar kita menggunakannya,” katanya.

Ia juga menyoroti rencana pemerintah Inggris yang ingin menjadikan Oxford bagian selatan sebagai pusat pertumbuhan AI. “Masalahnya, belum ada yang benar-benar memikirkan dari mana air untuk mendinginkan server akan berasal,” tambahnya.

Dengan semakin banyaknya data center yang dibangun, para ahli mendesak agar kebijakan teknologi masa depan tidak hanya berfokus pada inovasi, tetapi juga memperhitungkan kelestarian lingkungan.

“AI memang tidak bisa dihentikan,” kata Dr. Grecksch, “tapi kita bisa memastikan dampaknya terhadap bumi tidak sebesar bayangannya di layar.” ***

Bagikan:

Iklan