Bentrok Polisi dan Demonstran Gen Z Guncang Peru, Satu Tewas dan Ratusan Luka-luka
KLIKWARTAKU — Gelombang protes besar kembali mengguncang ibu kota Peru, Lima, setelah bentrokan antara polisi anti huru-hara dan demonstran muda menewaskan seorang pria berusia 32 tahun dan melukai lebih dari 100 orang, termasuk puluhan petugas.
Aksi ini terjadi hanya enam hari setelah José Jerí dilantik sebagai presiden sementara, menggantikan Dina Boluarte yang dimakzulkan karena dugaan “ketidakmampuan moral permanen.”
Demonstrasi pada Rabu 15 Oktober 2025 dipimpin oleh kaum muda Generasi Z yang menuntut pemerintah melakukan pembersihan total terhadap elit politik serta tindakan tegas terhadap korupsi dan kejahatan yang semakin meningkat di seluruh negeri.
Satu Korban Tewas Diduga Akibat Tembakan
Korban tewas diidentifikasi sebagai Eduardo Ruiz Sáenz, seorang musisi hip-hop, yang menurut laporan awal meninggal akibat luka tembak di dada.
Anggota parlemen sayap kiri, Ruth Luque, menyatakan bahwa informasi awal menunjukkan Ruiz ditembak oleh seseorang yang diduga polisi berpakaian preman. Ia juga mengunggah foto dari rumah sakit tempat puluhan korban luka dirawat.
“Informasi awal menunjukkan korban terkena peluru di bagian dada. Kami menuntut penyelidikan menyeluruh,” tulis Luque di media sosial.
Sementara itu, Presiden José Jerí menyampaikan belasungkawa dan berjanji akan menggelar investigasi transparan untuk mengungkap penyebab kematian Ruiz dan memastikan siapa yang bertanggung jawab.
“Kami menyesalkan kematian ini dan akan menyelidiki secara objektif apa yang terjadi,” tulis Jerí di platform X (dulu Twitter).
Tuntutan ‘Lembar Baru’ untuk Peru
Aksi protes ini merupakan lonjakan kemarahan publik terhadap sistem politik yang dianggap gagal menghadirkan keadilan sosial. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Borrón y cuenta nueva” (hapus semua dan mulai dari awal), simbol keinginan rakyat untuk mengakhiri siklus korupsi dan ketidakstabilan yang telah lama menghantui Peru.
Para aktivis muda juga menuntut Presiden Jerí mundur, menyerahkan jabatan kepada anggota parlemen independen, dan menuntut pemilu dini agar rakyat dapat memilih pemimpin baru tanpa keterlibatan partai lama.
“Kami tidak percaya pada partai mana pun lagi,” ujar seorang aktivis muda bernama Lando melalui video di TikTok. “Partai Jerí dulu mendukung Boluarte, dan sekarang mereka pura-pura bersih.”
Krisis Politik Tak Berujung
José Jerí, yang berasal dari partai konservatif Somos Perú, merupakan presiden ketujuh dalam delapan tahun terakhir—cerminan dari krisis politik mendalam di negara tersebut.
Sebagai mantan ketua parlemen, Jerí otomatis menggantikan Boluarte setelah pemakzulan pada Jumat 10 Oktober lalu. Ia kini akan memimpin hingga pemilu presiden dijadwalkan pada April 2026.
Namun, masa jabatan barunya langsung diwarnai gejolak. Rakyat menilai Jerí hanyalah kelanjutan dari sistem lama yang selama ini melindungi korupsi dan gagal menekan kejahatan yang meningkat, termasuk gelombang pemerasan terhadap sopir bus dan taksi oleh geng kriminal.
Dina Boluarte Masih di Peru, Hadapi Serangkaian Penyelidikan
Mantan Presiden Dina Boluarte yang digulingkan masih berada di Peru dan mengaku akan menghadapi semua penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan, meski ia membantah semua tuduhan tersebut.
Pengamat politik menilai bahwa serangan bersenjata terhadap grup musik pada 8 Oktober—yang memicu kemarahan publik—menjadi pemicu utama jatuhnya Boluarte, karena banyak anggota parlemen yang sebelumnya mendukungnya berbalik arah di tengah tekanan rakyat.
Situasi di Peru kini menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap sistem politik lama. Mereka menuntut pemimpin yang bersih, tegas, dan berpihak kepada rakyat.
Dengan satu nyawa melayang dan ratusan luka-luka, protes di Lima menjadi peringatan keras bagi pemerintahan Jerí bahwa kepercayaan rakyat tidak bisa dibeli dengan janji, tetapi harus dibangun melalui tindakan nyata melawan korupsi dan ketidakadilan.***











