AS Hancurkan 5 Tanker Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan AS di Yordania
KLIKWARTAKU — Perang Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang lebih berbahaya. Kali ini, kapal tanker minyak menjadi sasaran. Amerika Serikat menghancurkan lima tanker Iran di Teluk Oman dan sekitar Pulau Kharg, sementara Teheran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan yang digunakan pasukan AS di Yordania serta mengklaim menyerang sejumlah kapal di kawasan Selat Hormuz.
Serangkaian serangan itu terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dituduh dua kali meluncurkan rudal balistik ke kapal perang Amerika Serikat dalam dua hari. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan dan tidak ada personel Amerika yang terluka.
Sebagai balasan, militer AS mengatakan menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran pada Selasa, 8 September 2026. Empat kapal, yakni M/T Kaviz, M/T Charminar, M/T Horizon 1, dan M/T Riesco, berada di Teluk Oman. Kapal kelima, M/T Derya, dihantam di dekat Pulau Kharg, salah satu pusat penting ekspor minyak Iran.
Menurut CENTCOM, awak kapal telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan. Militer Amerika juga merilis rekaman yang disebut memperlihatkan M/T Riesco tenggelam di Teluk Oman. Washington menuding kapal-kapal tersebut terhubung dengan jaringan perdagangan minyak yang digunakan untuk membiayai IRGC dan kelompok-kelompok yang menjadi mitranya di kawasan.
Namun, serangan tersebut segera memicu pembalasan Teheran. IRGC mengatakan pasukannya meluncurkan rudal ke pangkalan Al Azraq di Yordania, yang digunakan oleh militer Amerika Serikat. Iran mengklaim serangan itu menimbulkan kerusakan pada fasilitas militer, termasuk hanggar pesawat tempur.
Klaim tersebut belum sepenuhnya dapat diverifikasi secara independen. Yang dikonfirmasi Yordania adalah sistem pertahanan udaranya menghadapi 20 rudal balistik Iran. Sebanyak 18 rudal disebut berhasil dicegat, sedangkan dua lainnya jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni. Pemerintah Yordania melaporkan tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.
Iran juga mengklaim menyerang dua kapal perang Amerika Serikat dan delapan kapal tanker yang berada di kawasan tersebut. Teheran menyebut serangan itu menimbulkan kerusakan besar. Namun, hingga laporan ini ditulis, Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi mengenai klaim Iran tentang kerusakan pada kapal-kapal perangnya.
Rangkaian serangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik AS-Iran tidak lagi hanya berlangsung melalui rudal dan pangkalan militer. Jalur energi dunia kini ikut menjadi medan pertarungan. Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Amerika Serikat berupaya menjaga sebagian lalu lintas kapal melalui kawasan tersebut. Di sisi lain, Iran menegaskan kontrolnya terhadap perairan yang dianggapnya sebagai zona berbahaya bagi kapal yang melintas tanpa mengikuti ketentuan Teheran.
IRGC bahkan memperingatkan kapal tanker yang berada di sekitar perbatasan Bahrain dan Kuwait untuk segera meninggalkan wilayah tersebut. Ancaman itu meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi militer dapat berubah menjadi gangguan serius terhadap pasokan energi global.
Dampaknya langsung terasa di pasar minyak. Harga minyak Brent sempat menembus US$99,49 per barel, atau sekitar Rp1,75 juta per barel jika menggunakan kurs JISDOR Rp17.618 per dolar AS. Pada perdagangan berikutnya, harga Brent bahkan menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa setiap serangan terhadap kapal tanker kini bukan hanya persoalan militer antara Washington dan Teheran. Gangguan terhadap jalur pelayaran dapat segera diterjemahkan pasar menjadi kekhawatiran mengenai pasokan energi dan kenaikan biaya bahan bakar.
Pemerintah Iran mengecam serangan terhadap kapal-kapal tanker tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tindakan Amerika sebagai pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang”. Teheran menilai serangan terhadap kapal dagangnya merupakan bagian dari tekanan militer dan ekonomi Amerika terhadap Iran.
Washington memiliki narasi berbeda. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Amerika tidak akan menghentikan serangan terhadap kapal tanker Iran selama Teheran terus berusaha menyerang kapal perang Amerika.
“Iran terus mencoba menyerang kapal-kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan itu atau mencoba melakukan itu, mereka akan kehilangan kapal tanker,” kata Rubio kepada wartawan saat berada di Kolombia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perubahan pola pembalasan Amerika. Serangan tidak hanya diarahkan kepada aset militer Iran, tetapi juga menyentuh sektor minyak yang menjadi sumber penting pendapatan negara tersebut.
Analisis yang dikutip Al Jazeera menyebut serangan terhadap kapal tanker dapat memberikan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap Teheran. Strategi tersebut berpotensi mempersempit ruang Iran untuk memperoleh pendapatan dari ekspor minyak di tengah blokade dan tekanan ekonomi Amerika.
Eskalasi terbaru bukan insiden pertama. Pada 5 September, Amerika Serikat sebelumnya menghancurkan tiga tanker minyak Iran. Salah satu kapal dilaporkan tenggelam. Iran kemudian menyatakan telah membalas dengan menyerang sejumlah kapal komersial dan kapal yang berkaitan dengan Amerika Serikat.
Kini, lima tanker kembali menjadi sasaran. Iran merespons dengan serangan ke pangkalan militer di Yordania dan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Hormuz.
Rangkaian aksi balasan itu membuat konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan kembali memasuki fase eskalasi. Sasaran perang pun semakin melebar: dari kapal perang, pangkalan militer, hingga kapal tanker dan jalur energi.
Di tengah situasi tersebut, ancaman terbesar bukan hanya datang dari rudal yang ditembakkan kedua pihak. Selat Hormuz kini menjadi titik di mana konflik geopolitik dapat langsung memengaruhi harga minyak, biaya transportasi, dan ekonomi dunia.***











