Menkeu Baru Nggak Ngaruh, IHSG Kembali Melemah, Hari Keenam Beruntun Ditutup di Level 6.436
KLIKWARTAKU – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (16/9/2026). IHSG melemah 24,30 poin atau 0,38 persen ke level 6.436,85 dan memperpanjang penurunan menjadi enam hari perdagangan berturut-turut.
Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah indeks sempat bergerak ke zona positif hingga akhir sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG kembali berbalik melemah di tengah sikap investor yang menunggu hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter The Fed dalam pertemuan 15–16 September 2026. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 92 persen menjelang keputusan tersebut.
Dari pasar domestik, investor juga mencermati sejumlah perubahan aturan perdagangan saham. Di antaranya rencana penurunan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026.
Selain itu, transaksi short selling dijadwalkan efektif pada Oktober 2026. Daftar efek yang dapat digunakan untuk transaksi tersebut akan dirilis pada 28 September 2026.
Tekanan IHSG tercermin dari mayoritas sektor saham yang berakhir melemah. Sembilan sektor berada di zona merah, dengan sektor infrastruktur menjadi yang terkoreksi paling dalam sebesar 1,39 persen, disusul teknologi 1,13 persen dan barang konsumen nonprimer 1,12 persen.
Sementara itu, hanya dua sektor yang menguat. Sektor industri naik 0,91 persen, sedangkan sektor barang konsumen primer tumbuh 0,11 persen.
Dari sisi transaksi, volume perdagangan mencapai 24,60 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,26 triliun. Sebanyak 439 saham melemah, 201 saham menguat, dan 151 saham bergerak stagnan.
Tekanan juga datang dari investor asing. Pada perdagangan Rabu, asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp624,72 miliar di seluruh pasar, terdiri atas Rp592,05 miliar di pasar reguler dan Rp32,66 miliar di pasar tunai serta pasar negosiasi.
Saham Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu saham dengan net sell asing terbesar, yakni Rp238,4 miliar. Berikutnya Bumi Resources (BUMI) sebesar Rp102 miliar dan Bank Central Asia (BBCA) Rp57,9 miliar.
Sebaliknya, Bumi Resources Minerals (BRMS) mencatat net buy asing terbesar sebesar Rp88,5 miliar. Antam (ANTM) dan Singaraja Putra (SINI) menyusul dengan net buy masing-masing Rp49,9 miliar dan Rp39,1 miliar.
Di kelompok LQ45, Vale Indonesia (INCO) menjadi salah satu penguat terbesar dengan kenaikan 4,09 persen, diikuti Amman Mineral Internasional (AMMN) 1,98 persen dan Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) 1,81 persen.
Sementara itu, Darma Henwa (DEWA) menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar di LQ45, yakni 6,57 persen. Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) turun 4,43 persen dan Bumi Resources (BUMI) melemah 2,88 persen.
Dengan penutupan tersebut, IHSG telah terkoreksi 3,61 persen dalam sepekan terakhir. Sejak awal tahun, indeks tercatat melemah 25,56 persen.
Pergerakan IHSG selanjutnya masih akan dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan The Fed serta perkembangan arus dana asing dan kondisi pasar global.









