Enam Tahun Ledakan Beirut, Lebanon Kembali Menghitung Puing Perang Israel
KLIKWARTAKU — Setiap 4 Agustus, keluarga korban ledakan Pelabuhan Beirut kembali ke tempat yang mengubah hidup mereka selamanya. Mereka membawa foto orang-orang terkasih, menuntut keadilan, dan mengingat kembali ledakan amonium nitrat yang menewaskan lebih dari 200 orang pada 2020. Namun peringatan tahun ini berlangsung dalam suasana yang berbeda.
Saat keluarga korban masih menunggu pertanggungjawaban atas salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah modern, Lebanon kembali menghadapi kehancuran dalam skala besar. Kali ini, puing-puing tidak hanya menumpuk di Beirut, tetapi menyebar ke berbagai desa di Lebanon selatan akibat perang antara Israel dan Hizbullah.
Enam tahun berlalu, Lebanon seperti kembali ke titik awal: warga kehilangan rumah, infrastruktur hancur, dan pemerintah harus menghitung biaya rekonstruksi ketika kas negara nyaris kosong.
Di Zawtar al-Gharbiyeh, sebuah kota kecil di Lebanon selatan, sebagian besar rumah rusak berat setelah berminggu-minggu dihantam serangan udara, tembakan artileri, dan penghancuran bangunan di tengah konflik Israel-Hizbullah. Warga yang sempat mencoba membangun kembali kehidupan mereka kini kembali dipaksa mengungsi.
Seorang pria berusia 80-an menunjukkan tumpukan beton yang sebelumnya merupakan rumahnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengatakan dirinya terpaksa mengumpulkan besi tua dari reruntuhan untuk dijual. “Saya merasa terhina,” katanya. “Saya tidak punya pilihan selain mengumpulkan besi tua dari rumah saya yang hancur untuk bertahan hidup.”
Masalah Lebanon bukan semata-mata soal kehancuran fisik. Sejak krisis ekonomi 2019, negara itu mengalami keruntuhan ekonomi, pelemahan mata uang, dan krisis sektor perbankan. Banyak warga bahkan tidak dapat mengakses tabungan mereka.
Reformasi ekonomi yang diharapkan membuka pintu bagi bantuan internasional berjalan lambat. Pemerintah pun tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk membiayai rekonstruksi berskala besar. Kerusakan akibat eskalasi terbaru diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Sejumlah pejabat Lebanon memperkirakan kebutuhan rekonstruksi dapat mencapai US$20 miliar atau sekitar Rp330 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar. Angka tersebut bahkan belum tentu mencakup seluruh kerusakan.
Di berbagai desa Lebanon selatan, layanan dasar telah lumpuh. Sejumlah wilayah kehilangan jaringan telekomunikasi. Infrastruktur air rusak, sementara lahan pertanian dan kebun zaitun terbakar. Ada pula puluhan desa yang tidak dapat dimasuki karena berada di bawah pendudukan militer Israel.
Di wilayah tersebut, menurut laporan warga dan pejabat setempat, rumah terus dihancurkan dan fasilitas sipil mengalami kerusakan meski terdapat kesepakatan penghentian permusuhan. Ironisnya, rekonstruksi akibat perang sebelumnya bahkan belum selesai ketika konflik kembali meningkat.
Bank Dunia sebelumnya memperkirakan kerugian akibat pertempuran pada 2024 mencapai sekitar US$11 miliar atau Rp181,5 triliun. Bantuan internasional pun tidak kunjung mengalir dalam jumlah yang dibutuhkan. Rekonstruksi Lebanon selatan bahkan menjadi bagian dari tarik-menarik politik yang lebih besar.
Bantuan pembangunan dan rekonstruksi digunakan sebagai alat tekanan agar Hizbullah menyerahkan persenjataannya. Akibatnya, pembangunan kembali tidak hanya menjadi persoalan teknis atau finansial. Ia berubah menjadi kartu tawar dalam konflik politik dan keamanan kawasan.
Dalam 15 bulan setelah gencatan senjata November 2024 hingga eskalasi terbaru, berbagai upaya pemulihan di Lebanon selatan juga dilaporkan menghadapi hambatan. Peralatan berat dan mesin konstruksi menjadi sasaran serangan. Pabrik dan unit rumah prefabrikasi rusak. Pekerja yang membersihkan puing-puing juga dilaporkan menjadi sasaran.
Tujuannya, menurut laporan dari wilayah terdampak, membuat warga sulit kembali ke rumah mereka. Sebelum eskalasi terbaru, hampir 100.000 orang telah mengungsi. Ketika perang kembali meningkat, lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Ledakan Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 pernah dianggap sebagai simbol kegagalan negara Lebanon dalam mengelola risiko. Amonium nitrat dalam jumlah besar disimpan bertahun-tahun di pelabuhan dalam kondisi yang tidak aman. Ledakan itu menghancurkan sebagian besar Beirut, menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai ribuan lainnya.
Enam tahun kemudian, proses mencari pertanggungjawaban masih belum memberikan jawaban yang memuaskan keluarga korban. Kini, keluarga-keluarga lain menghadapi pengalaman serupa di selatan. Mereka kehilangan rumah bukan karena bahan kimia yang disimpan secara sembrono, melainkan akibat perang yang terus berulang.
Di kota garis depan al-Mansouri, kepala pemerintahan kota Haidar Mudayhi memperingatkan warga agar tidak mendekati perbukitan di sekitar pusat kota. Menurut dia, situasi keamanan masih jauh dari normal.
“Israel menjatuhkan granat kejut setiap kali seseorang mencoba mencapai daerah-daerah itu,” katanya. “Setiap hari ada tembakan senapan mesin di sekitar desa. Beberapa hari yang lalu ada serangan udara di perbukitan. Tidak ada stabilitas.”
Kesaksian serupa muncul dari desa-desa lain di sekitar wilayah yang masih berada dalam bayang-bayang pendudukan. Persoalan terbesar Lebanon adalah tidak adanya kepastian bahwa kehancuran ini merupakan yang terakhir.
Israel dan Hizbullah telah terlibat dalam konflik dengan intensitas yang berubah-ubah sejak Oktober 2023. Eskalasi besar terjadi pada September 2024 dan kembali meningkat pada awal Maret tahun ini setelah pecahnya perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Bagi warga Lebanon selatan, setiap eskalasi berarti satu hal: kemungkinan kembali kehilangan rumah.
Bahkan kesepakatan yang disebut Amerika Serikat sebagai perjanjian “bersejarah” belum memberikan kepastian penuh. Kesepakatan antara Lebanon dan Israel tidak menetapkan komitmen atau tenggat waktu yang jelas mengenai penarikan Israel dari Lebanon selatan. Akibatnya, ketenangan yang kini terlihat di sejumlah wilayah masih sangat rapuh.
Israel tetap melakukan aktivitas militer di sekitar sejumlah kawasan. Hizbullah juga belum sepenuhnya kehilangan kapasitasnya sebagai kekuatan bersenjata. Di tengah ketidakpastian tersebut, warga Lebanon kembali melakukan pekerjaan paling sederhana sekaligus paling berat: membersihkan puing-puing.
Mereka memilah barang yang masih bisa digunakan, mengumpulkan besi tua, mencari tempat tinggal sementara, dan mencoba menghidupkan kembali usaha yang tersisa.
Enam tahun setelah Beirut kehilangan sebagian wajahnya akibat ledakan pelabuhan, Lebanon kembali menghadapi pemandangan yang sama—reruntuhan, keluarga yang kehilangan rumah, dan pertanyaan tentang siapa yang akan membayar biaya untuk membangun kembali.
Bedanya, kali ini puing-puing Lebanon tidak terkumpul di satu pelabuhan. Puing-puing itu membentang di sepanjang desa-desa selatan, sementara warga masih menunggu satu hal yang belum pernah benar-benar mereka dapatkan: kepastian bahwa setelah dibangun kembali, rumah mereka tidak akan kembali menjadi sasaran perang.***












