klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Kemenperin Perkuat Daya Saing Industri Kreatif, Pelaku IKM Fesyen dan Kriya Didorong Pahami Perilaku Konsumen

Kemenperin Perkuat Daya Saing Industri Kreatif, Pelaku IKM Fesyen dan Kriya Didorong Pahami Perilaku Konsumen

Ilustrasi batik dengan pewarna alami.

KLIKWARTAKU – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kreatif nasional dengan mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dan kriya agar lebih memahami perilaku konsumen. Langkah ini dinilai penting untuk menghasilkan produk yang relevan, bernilai tambah, dan mampu bersaing di pasar domestik maupun global.

Upaya tersebut dilakukan melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) yang secara rutin menggelar program pembinaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha. Salah satunya melalui workshop Creative Talk yang membahas strategi memahami kebutuhan pasar dan pengembangan bisnis kreatif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pertumbuhan industri kreatif memiliki peluang besar seiring meningkatnya jumlah konsumen dari kalangan generasi muda yang semakin dinamis dalam menentukan pilihan produk.

Menurutnya, kreativitas dan inovasi saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Pelaku usaha juga harus memiliki kemampuan membaca tren serta memahami kebutuhan pasar yang terus berubah.

“Pelaku industri kreatif perlu memiliki pondasi pengetahuan dan riset pasar yang kuat untuk dapat memenangkan persaingan bisnis pada masa mendatang. Oleh sebab itu, Kemenperin melalui BPIFK secara rutin menyelenggarakan workshop Creative Talk sebagai upaya penguatan ekosistem industri kreatif dan peningkatan daya saing pelaku usaha,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (19/6).

Agus menegaskan, produk kreatif Indonesia harus mampu menjadi pilihan utama di pasar domestik. Untuk itu, pelaku industri perlu terus beradaptasi dalam menciptakan produk yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan konsumen yang dituju.

“Sudah saatnya produk kreatif Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita memiliki banyak perancang dan pelaku industri yang kreatif, inovatif, serta harus adaptif dalam memahami produk yang relevan untuk target pasar yang disasar,” ujarnya.

Sebagai bagian dari program pembinaan industri kreatif, BPIFK menggelar workshop Creative Talk bertema Consumer Behavior: Memahami Konsumen untuk Mengembangkan Bisnis Kreatif pada 11 Juni 2026 di Badung, Bali. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan diikuti para pelaku industri kreatif sektor fesyen dan kriya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan bahwa pemahaman terhadap perilaku konsumen merupakan fondasi penting dalam pengembangan produk maupun penyusunan strategi bisnis.

“Keberhasilan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kreativitas perancangnya, tetapi juga oleh kemampuan menjawab kebutuhan serta preferensi konsumen. Oleh karena itu, pelaku IKM perlu memahami perubahan perilaku pasar agar dapat menghasilkan produk yang tepat sasaran,” ujar Reni.

Menurutnya, kegiatan Creative Talk dirancang untuk membantu pelaku IKM lebih dekat dengan pasar sehingga mampu menghasilkan produk yang relevan, memiliki nilai tambah, dan berdaya saing tinggi.

Kemenperin juga menyoroti berbagai studi bisnis global yang menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan usaha adalah minimnya pemahaman terhadap kebutuhan pasar dan strategi pengembangan bisnis yang tepat.

Karena itu, selain mendorong inovasi produk, pelaku usaha juga perlu mendapatkan pendampingan dalam aspek pengembangan bisnis, pemasaran, hingga perluasan jaringan usaha.

Dalam workshop tersebut, peserta dibekali materi mengenai identifikasi kebutuhan konsumen, faktor yang memengaruhi keputusan pembelian, penyusunan nilai tambah produk, hingga strategi pemasaran yang sesuai dengan target pasar.

Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menegaskan pihaknya akan terus menghadirkan program pembinaan yang berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis, strategi pemasaran, dan kualitas produksi pelaku industri kreatif.

“Memahami perilaku konsumen merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun strategi bisnis yang tepat. BPIFK berkomitmen menjadi mitra bagi pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kapasitasnya, mulai dari pengembangan produk hingga penyusunan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” kata Dickie.

Melalui program pembinaan yang berkelanjutan, Kemenperin berharap industri kreatif nasional semakin adaptif terhadap perkembangan pasar, mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. **

Bagikan:

Iklan