Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.708 per Dolar AS, Perdamaian AS-Iran dan Kebijakan BI Jadi Penopang Utama
KLIK WARTAKU – Setelah sempat tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan pemulihan signifikan. Pada perdagangan Senin (15/6/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,85 persen ke level Rp17.708 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.673,5 per dolar AS pada perdagangan intraday sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.708. Penguatan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir.
Penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen global setelah muncul kabar tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut turut membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang selama ini menjadi perhatian pasar energi internasional.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan perdamaian antara kedua negara langsung memicu penurunan harga minyak dunia dan mengurangi minat investor terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.
“Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz secara instan meruntuhkan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven dan menyeret indeks dolar turun ke area 99,5,” ujar Sutopo.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak memberikan dampak positif karena Indonesia masih berstatus sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer). Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi sekaligus memperbaiki prospek neraca perdagangan nasional.
Selain faktor eksternal, penguatan rupiah juga ditopang kebijakan domestik. Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik minat investor terhadap aset keuangan dalam negeri.
Menurut Sutopo, langkah agresif Bank Indonesia menjadi fondasi penting yang membuat rupiah mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS.
“Tanpa adanya benteng kenaikan suku bunga yang mendahului kurva, rupiah tidak akan memiliki pijakan yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS secara maksimal,” katanya.
Sentimen positif juga datang dari kepastian kebijakan terkait sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE). Kejelasan regulasi tersebut dinilai berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Di tengah penguatan rupiah, sejumlah analis bahkan melihat peluang mata uang nasional kembali menguat menuju level Rp17.500 per dolar AS dalam waktu dekat.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai ruang penguatan masih terbuka lebar seiring kembalinya investor asing ke pasar domestik dan membaiknya sentimen global.
“Hari ini penguatan sudah sangat tajam. Dolar mengalami gap down, harga minyak juga turun signifikan. Peluang menuju Rp17.500 sangat terbuka,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, kombinasi antara penguatan rupiah, turunnya harga minyak dunia, dan pelemahan dolar AS menunjukkan bahwa pasar mulai kembali menaruh kepercayaan pada aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan lanjutan hubungan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang dunia dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi masyarakat, penguatan rupiah berpotensi memberikan dampak positif terhadap harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, serta stabilitas harga berbagai komoditas yang dipengaruhi pergerakan nilai tukar. **










