klikwartaku.com
Beranda Ekonomi APBN Mei 2026 Surplus Primer Rp58,6 Triliun

APBN Mei 2026 Surplus Primer Rp58,6 Triliun

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa

 

KLIK WARTAKU – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Mei 2026 menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pendapatan negara tumbuh dua digit, belanja pemerintah semakin akseleratif, sementara keseimbangan primer kembali mencatat surplus.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN 2026. Angka tersebut meningkat 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di saat yang sama, pemerintah merealisasikan belanja negara sebesar Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari target APBN. Meski mencatat defisit Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), posisi tersebut masih sesuai dengan perencanaan fiskal pemerintah.

Kinerja penerimaan negara ditopang oleh pertumbuhan kuat penerimaan perpajakan.

Hingga akhir Mei 2026, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp226,4 triliun dengan pertumbuhan 19,9 persen secara tahunan.

Kombinasi ketiga sumber penerimaan tersebut menjadi fondasi utama yang menjaga kesehatan APBN di tengah perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang Indonesia.

Pemerintah juga mempercepat realisasi belanja negara sebagai instrumen menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.059,3 triliun, didukung peningkatan belanja kementerian/lembaga maupun belanja non-kementerian.

Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target APBN.

Pertumbuhan belanja negara tercatat mencapai 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kebijakan ini menunjukkan peran APBN tidak hanya sebagai alat pengelolaan fiskal, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas ekonomi di daerah.

Di tengah peningkatan belanja negara, pemerintah tetap mampu menjaga kualitas fiskal.

Hal tersebut tercermin dari posisi keseimbangan primer yang mencatat surplus Rp58,6 triliun.

Keseimbangan primer merupakan indikator penting kesehatan fiskal karena menggambarkan kemampuan pemerintah membiayai pengeluarannya di luar pembayaran bunga utang.

Surplus ini menunjukkan disiplin fiskal tetap terjaga meski pemerintah terus mendorong belanja produktif.

Kinerja APBN yang kuat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga.

Pada Triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Capaian tersebut disebut melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 maupun kawasan ASEAN.

Pemerintah menilai konsumsi domestik, investasi, serta aktivitas industri masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Sinyal positif juga terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada Mei 2026 kembali berada di level 50,0 atau masuk zona ekspansi setelah sebelumnya mengalami tekanan.

Dari sektor eksternal, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026.

Nilai ekspor periode Januari-April 2026 mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepercayaan investor juga masih terjaga. Hingga 3 Juni 2026, aliran modal asing masuk (net inflow) pada Triwulan II mencapai Rp60,9 triliun.

Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, arus modal asing masuk tercatat Rp32,8 triliun, terutama melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi, pemerintah dan Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas harga.

Inflasi Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan dan masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

Kondisi ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan daya beli sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Di tengah gejolak ekonomi global, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga volatilitas pasar keuangan internasional, APBN terus memainkan peran sebagai bantalan ekonomi nasional.

Pertumbuhan pendapatan negara yang kuat, surplus keseimbangan primer, serta arus investasi yang tetap masuk menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga APBN tetap sehat, fleksibel, dan kredibel guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menjaga stabilitas nasional, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara luas. **

Bagikan:

Iklan